Perkenalkan namaku Niko, saat ini aku duduk dibangku kelas 8 SMP,
sifatku baik, ramah, tidak tegaan kalau sama cewek, tampilanku cool, keren,
modis, kece, cowok idola cewek disekolah, mau adik kelas, seangkatan, kakak
kelas, semua tertarik padaku :v Aku mempunyai seorang adik perempuan namanya
Shania, kami hanya tinggal berdua saja. Orangtua ? Orangtua kami sudah tenang
dialam sana :)
Hari ini tanggal 27 Juni 2010. Ya! Hari ini adalah ulang tahunku dan Shania, aku baru berusia 14 tahun sedangkan Shania 11 tahun. Aku sangat sayang padanya, bahkan jika demi kebahagiaannya aku rela menghabiskan seluruh uang tabunganku yang dari dulu aku kumpulkan untuk sebuah gundam yang sangat aku inginkan. "Ekhm, permisi sekarang tanggal berapa ya? Hihi" ucap seseorang dibelakangku yang membuyarkan semua lamunanku. "Heh, kamu ini ngapain disitu ?" ucapku pada adikku. "Aku hanya mau bertanya, sekarang tanggal berapa ?" ucapnya sambil tertawa kecil. "Oh itu, sekarang tanggal 27 Juni 2010 hari minggu jam 12.00 dan sudah lengkap semua ?" jawabku yang pura-pura tidak ingat
Acara pengambilan rapot selesai, Shania lulus dan meraih ranking 1
dikelasnya. Aku tidak kaget lagi kalau ia ranking 1, karena itu sudah sering
didapatnya saat ia kelas 1 SD dan sampai sekarang ini. Aku juga naik kelas ke
kelas 9 SMP, tapi aku hanya meraih ranking 2 dikelas. Sampai nya dirumahku,
paman sudah ada distasiun untuk pulang ke Solo, ia menitipkan uang untuk kami.
Iya setiap 1 bulan paman selalu mengirimkan uang, tidak hanya uang saja. Bahkan
jika Shania rindu pada semua foto yang ada disana, paman selalu mengirimkannya.
Shania, Shania, kamu masih terlalu polos untuk menerima semua ini. "Kakak,
aku dapat ranking berapa ?" ucap Shania. "Ranking ? Kau saja tidak
lulus!" ucapku berbohong padanya. "Aku tidak lulus ? Benarkah ? Ah
maafkan aku kak, aku sudah membuat kakak kecewa" ucap Shania sambil
menangis. "Eh, kamu ngapain nangis ? Tidak, aku hanya bercanda. Kau lulus
dan mendapat ranking 1 seperti biasa" ucapku. "Wahh yang benar ?
Terimakasih Tuhan" ucap Shania sambil menghapus air matanya "Senyum
dong" ucapku. "Iya iya hehe, eh kakak ? Dapat ranking berapa ?"
tanya Shania. "Aku.. aa.. aku hanya mendapat ranking 2" ucapku.
"Yaahahaha sudah kuduga itu, berarti aku boleh meminta 20 permintaan dan kau harus menurutinya benar
kak ?" ucap Shania. "Hah ? Apa-apaan ini ? Kenapa selalu kamu ? Kapan
giliranku ?" ucapku yang jengkel, ya memang setiap ada pembagian rapot dan
salah satu ranking dari kami lebih tinggi, itu boleh meminta 20 permintaan apa
saja dan yang terendah harus menurutinya. Ini adalah hal gila yang selalu
kami lakukan saat liburan sekolah, dan sudah 5 tahun ini aku selalu kalah.
"Giliranmu ya kak ? Hmm giliranmu saat rankingmu berada diatas ranking ku
:p" ucap Shania sambil menjulurkan lidahnya. "Hmm yasudahlah, apa
permintaan pertamamu?" ucapku. "Permintaan pertamaku aku ingin kakak
berjanji padaku untuk selalu bersamaku disini" bisik Shania sambil berlari
menuju kamarnya. "Iya aku berjanji!!" ucapku teriak dan hanya
tersenyum melihat tingkahnya itu. Saat malam hari aku lihat ke kamarnya, ia
sudah tertidur pulas dengan meja belajarnya yang berantakan. Aku merapihkannya dan menulis surat
untuknya.
Untuk Shania tersayang.
Lain kali jika sudah belajar jangan lupa dirapihkan kembali buku-bukunya ya...
Aku sayang kamu.
Niko.
Lain kali jika sudah belajar jangan lupa dirapihkan kembali buku-bukunya ya...
Aku sayang kamu.
Niko.
Aku segera menuju kamarku dan tidur, esok pagi tepatnya tanggal 22
Desember 2010 aku sudah melihat meja makan terisi penuh dengan roti, selai,
segelas susu segar, dan sepucuk surat. Aku langsung mandi dan segera ke meja
makan untuk membaca surat itu.
Untuk kakak Niko tersayang.
Suratmu sudah aku baca, iya lain kali aku rapihkan, aku juga sayang kakak. Eh iya kak, mungkin setiap pagi aku akan kerumah temanku untuk bermain. Katanya ia akan pindah ke Pekan Baru dan bersekolah disana, makanya aku ingin bermain bersamanya sampai ia berangkat ke Pekan Baru. Boleh kan kak ? Oh iya permintaan kedua dariku, aku ingin kakak berjanji untuk selalu bersamaku disini ^.^
Shania.
Suratmu sudah aku baca, iya lain kali aku rapihkan, aku juga sayang kakak. Eh iya kak, mungkin setiap pagi aku akan kerumah temanku untuk bermain. Katanya ia akan pindah ke Pekan Baru dan bersekolah disana, makanya aku ingin bermain bersamanya sampai ia berangkat ke Pekan Baru. Boleh kan kak ? Oh iya permintaan kedua dariku, aku ingin kakak berjanji untuk selalu bersamaku disini ^.^
Shania.
Itulah isi surat itu, aku hanya tersenyum membacanya. "Iya aku
berjanji Shania" ucapku didalam hati. Shania, satu nama indah yang aku
miliki, seorang gadis polos yang selalu mewarnai hari-hariku dengan senyumnya.
Aku akan melakukan apa saja demi dirinya, demi seorang gadis polos yang aku sayangi.
***
Hari itu aku menghabiskan waktu dirumah, bermain game, membaca,
menonton pokoknya untuk menghilangkan rasa bete. Tak terasa hari sudah sore,
aku masih menunggu Shania pulang. Aku menunggu di meja makan, karena ini sudah
waktunya makan. "Selamat sore kakak, hari yang menyenangkan ya haha"
ucap Shania sambil menghampiriku. "Sore. Iya, bagimu menyenangkan. Bagiku
membosankan, aku disini sendiri dan kau malah asik bermain-_-" ucapku.
"Hehehe, bosan kenapa sih ?? Eh iya kak, permintaan kedua dariku apa sudah
dibaca ?" tanyanya. "Bosan saja, iya sudah. Iya aku janji kok. Apa gak ada permintaan lain selain itu ?" tanyaku.
"Tidak ada, memang kenapa ? Suka-suka aku dong" ucapnya. "Haah
yasudah terserah kau saja, sekarang cepat mandi dan habis itu kita makan
bareng" ucapku. "Oke kakak" ucapnya sambil berjalan menuju
kamarnya. "Nah kalau udah mandi kan jadi wangi, gak bau kayak tadi"
ucapku meledek Shania yang sedang berjalan menuju meja makan. "Yee gak
mandi juga aku tetep cantik kok" ucap Shania. "Pede kamu, haha"
ucapku. "Udah, sekarang aku mau makan dulu. Ngomongnya nanti saja"
ucap Shania. "Iyedah iye" jawabku. Setelah makan kami hanya bermain
video game, sesekali membaca komik. Malamnya aku langsung ke kamarku karena
bosan di ruang tengah, Shania juga langsung tidur.
1 Januari 2011 "Hoaamm, selamat pagi dunia! Selamat tahun baru!
Selamat tahun baru kakak Niko!!" ucap Shania di kamarku. "Hmm, masih
pagi tau Shan, udah teriak-teriak aja" ucapku dengan mata masih menutup.
"Eh, ngapain kamu disini ?" ucapku lagi, kali ini kedua mataku
terbuka melihat Shania tiba- tiba di kamarku. "Hehe, habis tadi pintunya gak dikunci sih. Jadi
aku langsung masuk deh" kata Shania."Hmm" ucapku dan kembali
tertidur. "Ehh kak, kok tidur lagi ? Mau tau permintaanku hari ini tidak
?" ucap Shania. "Apa ?" ucapku yang masih memeluk guling.
"Kakak harus berjanji untuk selalu bersamaku disini" ucap Shania berbisik dan berlari keluar kamar.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah adikku itu, sudah 11 permintaan yang sama
ia lontarkan padaku. Berbeda dengan 20 permintaan-permintaan sebelumnya. Kadang
aku berfikir untuk apa Shania meminta hal itu ? Kalaupun ia takut aku tinggalkan, untuk apa juga aku meninggalkannya ? "Aku akan selalu
disini, bersamamu. Kau tahu itu Shania" gumamku, lalu aku kembali tidur
karena Shania sedang keluar rumah sepertinya ia pergi bermain. Sore hari, aku
bangun dan langsung pergi mandi habis itu makan. Aku tidak menunggu Shania
karena perutku sudah tidak bisa berkompromi lagi, saat dimeja makan aku melahap
habis 2 lembar roti selai itu. Saat aku meminum susu tiba-tiba aku menyemburkan
susu yang dimulutku ke depan, kulihat Shania pulang dengan keadaan basah kuyup.
"Shan, kamu kenapa ?" tanyaku. "Ini kak, tadi waktu mau pulang
aku nendang kaleng dijalan gitu. Terus kalengnya mantul, ke injek sama aku jadi
aja jatuh ke kolam di taman" ucap Shania sambil merengut kesal. "Wahaha, makanya
jangan nakal-nakal kalau di jalan hahaha" ucapku sambil tertawa. "Ihh
malah diketawain, awas ya" ucap Shania sambil mengambil gelas susu
milikku. "Eh, eh itu punya siapa ? Main ambil aja" ucapku.
"Biarin, haus nih" ucap Shania. "Yasudah mandi sana, badanmu lengket. Bau ikan lagi, haha" ucapku mentroll
dia. "Iya, iya bawel" ucapnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Malamnya "Shan ? Boleh masuk gak ?" ucapku didepan kamarnya.
"Masuk aja kali, gak dikunci kok" ucap Shania. "Shan, laper nih.
Kamu masak kek, atau apa inisiatif kek" ucapku sambil duduk di atas tempat
tidur Shania. "Jadi kakak ke kamarku hanya untuk meminta makan ? Haah, aku
kira ada apa. Beli saja di depan, biasanya ada tukang nasi goreng kan"
balas Shania. "Yaelah kamu ini, cewek bukan sih ? Masa gak bisa masak ?
Pantas tidak ada yang mau denganmu haha" ucapku. "Yee aku bisa masak
tau, tapi aku tidak mau sombong, jadi aku tidak keluarkan kemampuanku. Lah
kakak sendiri ? Gak laku. Haha" ucap Shania membela dirinya sendiri.
"ahh, yasudah gak jadi. Kamu cepetan tidur, udah malam" ucapku sambil
berjalan keluar kamarnya. "Iya kak" balas Shania.
10 Januari 2011 hari pertama Shania masuk SMP, ia didaftarkan di SMP
yang sama denganku. Sudah 19 pertanyaan permintaan yang sama ia lontarkan
padaku, tapi tadi pagi Shania tak meminta 1 hal lagi padaku. Saat istirahat aku
akan bertanya padanya, aku harap 1 permintaan itu berbeda dengan 19 pertanyaan
sebelumnya. Hari ini bosen banget di kelas~ "Nik, istirahat nanti ke
kantin bareng yuk ?" ucap Cindy. "Hah ? Eh iya boleh, tapi nanti kamu
tunggu dulu di kelas. Aku mau ke kelas adikku dulu" ucapku.
"Okedeh" balasnya sambil berjalan kearah teman-temannya. Iya namanya
Cindy Yuvia, biasanya
dipanggil Yupi. Cewek favorite di sekolah. Banyak laki-laki yang
memujanya. Ia mantan pacarku, saat aku berpacaran dengannya banyak sekali yang
bilang bahwa aku laki-laki yang beruntung bisa mendapatkannya, bahkan kami
dibilang best couple. Ya gue akuin lah itu fakta, gue kan emang cowok keren
disekolah :v Aku sempat risih dengan sikap Yupi, aku memutuskan hubungan
dengannya waktu itu karena Yupi terlalu manja bagiku. Saat kelas 8 kami memang
tidak sekelas tapi saat kelas 9 semua murid pindah kelas sesuai dengan yang
sudah ditetapkan oleh kepala sekolah, dan aku sekelas dengan Yupi. Jam
istirahat tiba, aku segera datang ke kelas Shania. Sampai di kelasnya Shania.
"Maaf kak cari siapa ya ?" ucap seorang gadis padaku. "Eh ini,
aku cari Shania ada gak ?" tanyaku. "Oh, Shania ya. Shania Junianatha
bukan ?" tanya gadis itu lagi. "Iya Shania Junianatha, kamu temannya
?" tanyaku lagi. "Iya aku teman sekelasnya, Shania lagi ke kantin
kayaknya. Kalau boleh tau kakak siapa ya ?" tanya gadis itu
lagi. "Aku kakaknya, namaku Niko dari kelas 9. Nah kamu ? Namanya
siapa ?" tanyaku. "Oh kak Niko ya, aku Nabilah kak" jawabnya.
"Nabilah ya, salam kenal ya Nabilah" ucapku. "Ekhm, ekhm. Ada
yang lagi godain adik kelas nih" ucap Shania. "Eh kamu Shan, siapa
yang lagi godain ? Aku kesini cari kamu tau"
jawabku. "Oh cari aku toh, emang ada apa ?" tanya Shania.
"Aku mau ngomong sama kamu, tapi di kantin ya ?" pintaku. "Hmm
iyadeh boleh" ucap Shania. "Eh Nabilah mau ikut gak ?" tawarku.
"Eh enggak kak, makasih" ucap Nabilah sambil berjalan menuju tempat
duduknya. "Udah deh, gak usah modusin Nabilah mulu. Ayo ke kantin"
ucap Shania sambil menarik tanganku. "Eh iya, iya sabar dikit napa"
balasku.
Sampainya di Kantin "Shan, kamu baru ngasih 19 permintaan. Satu
lagi mana ?" tanyaku. "Oh itu toh, satu lagi aku simpan untuk nanti
saja ya haha" jawab Shania. "Yaelah perjanjiannya kan selama liburan,
tapi ini satu permintaan lagi jadi gak apa- apa deh. Eh temanmu yang tadi itu
punya kakak gak ? Siapa tau
bisa dikenalin gitu haha" ucapku. "Temanku ? Nabilah
maksudnya ? Waktu dia cerita sih katanya punya, kakak perempuan. Satu udah
tunangan" ucap Shania. "Hah ? Tunangan ? Yaelah Shan, gak usah bilang
kalo gitu" ucapku. "Ishh aku belum selesai bicara. Kakak perempuan,
satu udah tunangan satu lagi aku gak tau" jelas Shania. "Niko,
ternyata kamu disini" teriak Yupi. "Waahhh Shan, itu si Yupi malah
nyusul
kemari" ucapku. "Itu siapa kak ? Yupi ? Kakak kira dia permen
apa?" ucap Shania. "Emang namanya Yupi. Cindy Yuvia, ada lah
pokoknya" ucapku. "Hai... Eh ini yang namanya Shania ya ? Wah cantik
ya" ucap Yupi. "Iya kak, aku Shania. Makasih kak hehe" ucap
Shania. "Iya, eh kenalin aku Cindy Yuvia. Panggil aja Yupi ya, aku mantan
pacarnya Niko" jelas Yupi. "Eh, gak usah dijelasin napa" ucapku.
"Ohaha, mantannya toh. Tapi kalian akur ya, biasanya kalau udah jadi
mantan itu suka musuhan haha" ucap Shania. "Iya kita kan pdkt lagi,
iya gak Nik ?" ucap Yupi. "Eh apaan, enggak juga" ucapku.
"Eh yaudah, Shania ke kelas dulu ya. Babay kak Niko" ucap Shania
sambil pergi meninggalkan aku. "Eh Shan. Tunggu!! Pulang bareng
yaa??" teriakku. "Aku mau ke rumah Nabilah!!" balas Shania.
"Aku ikut!!" pintaku. "Iya terserah!" Jawab Shania. "Eh
yupi, ke kelas aja dah, bosen disini" ucapku. "Iya terserah katamu
aja ya Nikoo" ucap Yupi. Teng.. Teng.. Teng.. kebetulan bel masuk juga
berbunyi, aku segera menuju kelas bareng si Yupi cerewet ini -_-
Tidak terasa bel pulang sekolah berbunyi, aku segera ke kelas Shania.
"Eh kak Niko, kata Shania kakak mau ikut kerumahku ya ??" tanya
Nabilah. "Eh, iya gak apa-apa kan ? Hehe"ucapku. "Iya gak
apa-apa dong kak" ucap Nabilah. "Eh kalian, lama nunggu ya ?"
ucap Shania. "Eh enggak kok, aku baru aja kesini.
Berangkat sekarang yok" ucapku sambil menarik tangan Nabilah dan
Shania. "Eh, sabar kak. Nabilah masih ada piket" ucap Nabilah sambil
menghentikan langkahnya. "Iya, kak Niko katanya pengen dikenalin sama
kakak kamu Bil" ucap Shania. "Eh Shan, kamu ngomong apa sih"
gerutuku. "Lah bukanya tadi kakak" belum sempat Shania menyelesaikan
perkataannya aku menutup mulutnya dengan tanganku. "Nabilah, cepetan
piketnya yaa" ucapku, Nabilah berjalan menuju kelas sambil tertawa kecil.
Tiba-tiba Shania mengigitku "Aww, apaan sih Shan. Sakit tau!" ucapku.
"Abis, tanganmu bau ikan asin kak! Hahaha" ucap Shania sambil
berlari. "Eh awas ya kamu, kalau ketangkap aku cubit nih!" teriakku
sambil mengejar Shania. "Ayo sinii, haha" ucap Shania. Lama sudah
kami bermain kejar-kejaran, terlihat Nabilah keluar kelas. "Huuhh capeknyaaa,
eh Nabilah udah selesai ya ? Yuk kerumah kamu" ucap Shania. "Iya udah
kok, yuk" ucap Nabilah. "Nahh, kena kamu anak nakal!" ucapku
sambil mencubit Shania. "Aww, sakit tau kak!" ucap Shania sambil
menepis tanganku dari wajahnya. "Ehehe, abis tadi kamu songong sih"
ucapku. "Sudah, sudah. Ayo, keburu panas lagi nih" ucap Nabilah.
"Iya" ucapku dan Shania. Sepanjang perjalanan kami hanya tertawa,
bercanda, sesekali aku mentroll Shania. Begitu juga sebaliknya. Nabilah yang
sesekali tertawa melihat tingkah kami berdua, kadang aku merasa terasingkan
jika mereka berdua sedang membicarakan hal-hal kesukaan wanita. Bosan~
"Sudah sampai ya ?" ucap Shania. "Iya, eh Shan. Kakakmu,
mau kemana tuh ?" ucap Nabilah. Aku memang jalan terlebih dahulu, sambil
membaca komik dan mendengarkan MP3. Karena aku hanya dikacangin oleh mereka
berdua. "Wah iya tuh, kak Niko! Mau kemanaa ??" teriak Shania.
"Eh, kalian kenapa berhenti ?" ucapku. Shania dan Nabilah hanya
tertawa. "Loh ? Malah ketawa ? Sini cepet!" ucapku. "Kamu mau
kemana kak ? Orang ini rumahnya, hahaha" ucap Shania. "Waduh,
keasikan sih tadi. Yaudah tunggu aku!" teriakku sambil berlari kearah
mereka. "Huhh, capek nyaa.." ucapku. "Hahahhaha" Shania dan
Nabilah hanya tertawa. "Hei, ada apa ribut-ribut ?" ucap seorang gadis
didepan rumah Nabilah. "Cantik, manis, agak sedikit pendek tapi itu tak
masalah. Apa itu Frieska ?" gumamku. "Eh iya kak, ini
teman-teman Nabilah mau main boleh kan ?" ucap Nabilah.
"Tentu saja, ajak masuk sini Bil" ucapnya. Aku terus melihatnya
dengan mulut menganga. "Woy, itu kak Melody. Cantik kan ? Haha" ucap
Shania berbisik. "Sial, ternyata itu yang namanya Melody" ucapku.
Sampai didalam rumahnya, "Nah silahkan duduk oh iya nama kalian siapa
?" tanya Melody. "Aku Shania dan ini kakakku Niko. Salam kenal ya
kak" ucap Shania, aku mengangguk. "Oh iya iya, Shania dan Niko ya.
Aku Melody, salam kenal juga yaa" ucapnya. "Nabilah bawakan minuman
segar ya untuk mereka, kakak keatas dulu" ucap Melody. "Iya kak,
Shania, kak Niko, tunggu sebentar ya" ucap Nabilah. Terlihat seorang gadis
turun dari tangga dan menghampiri kami, cantik! Sangat cantik. "Hai, aku
Frieska. Kalian temannya Nabilah ya ?" ucapnya sambil duduk disebelah
Shania. "Iya kak, aku Shania dan ini kakakku" belum selesai Shania
bicara aku sudah memotongnya. "Eh iya, aku Niko kakakknya Shania. Salam
kenal Frieska" ucapku. "Kakak! Jangan malu-maluin deh" ucap
Shania berbisik seraya mencubit kakiku. "Aw, eh sakit tau!" ucapku.
Frieska hanya tertawa kecil. "Eh Shan, geser dong disini gak empuk
nih sofanya" ucapku yang berusaha modus ini. "Ah kamu ini kak"
ucap Shania seraya bergeser. "Nah, ini minumannya. Maaf lama
menunggu" ucap Nabilah. "Wah, makasih Bil" ucap Shania.
"Iya makasih ya Nabilah cantik, kayak kakaknya *eh ._." ucapku, seisi
ruangan hanya tertawa. "Bil, kakak mau ngomong" ucap Frieska.
"Ngomong aja kali kak" balas Nabilah. "Itu... emm ini Bil,
boneka mu. Telinganya robek, ini salahku.
Maaf ya Bil" ucap Frieska sambil memperlihatkan boneka kelinci
Nabilah yang robek itu. "Apa kak ? Kenapa bisa ? Aku benci kakak! Kakak
jahat!" ucap Nabilah dan berlari ke halaman belakang. "Tunggu
Bil" ucap Frieska yang ingin mengejarnya. "Fries, udah sini sama aku
aja" ucapku sambil menahan
tangannya. "Tapi Nik ??" tanya Frieska. "Udah gak
apa-apa, mana sini bonekanya ?" ucapku. "Ini, tolong ya Nik"
ucapnya. "Iya" ucapku sambil menyusul Nabilah.
"Adik manis, kok nangis sih ??" ucapku sambil ikut duduk
disisinya. "Aku benci kak Frieska!" ucap Nabilah. "Loh, kok gitu
? Dia kan kakakmu, lagipula pasti dia gak sengaja merobek telinga bonekamu
itu" ucapku. "Tapi itu boneka kesayanganku kak! Apa kakak bisa
memperbaikinya ? Jangan hanya
membujukku seperti itu!" ucap Nabilah. "Hmm, kamu sudah cukup
dewasa. Gak boleh nangis lagi, apalagi menyimpan dendam pada kakakmu. Tidak
baik itu Bil, nah kalau aku bisa memperbaikinya apa kamu mau maafin Frieska
?" ucapku. "Iyadeh kak" ucap Nabilah. "Janji ya ? Oke
tunggu sebentar" ucapku, aku kembali menuju ruang tamu. "Gimana Nik
?" tanya Frieska, aku hanya tersenyum dan mengambil tasku lalu kembali ke
halaman. Kebetulan tadi pelajaran kesenian ada menjahit, jadi kebetulan juga
aku bawa alat jahit. Gini-gini juga aku jago ngejahit wkwk. "Nah Bil,
alat-alatnya sudah siap. Kamu tunggu ya" ucapku. "Iya kak" jawab
Nabilah. Setelah beberapa menit "Bil, ini udah gak robek lagi. Buat
nutupin bekas jahitannya mau dikasih pita gimana ?" tawarku. "Boleh
kak" ucap Nabilah. "Kamu mau warna apa ? Pink, Hijau, Oranye, Merah,
Ungu, atau apa ?" tanyaku. "Pink deh, soalnya kan boneka ini warnanya
putih. Hehe" ucap Nabilah. "Oke, bentar ya" balasku. "Nahh,
tada!! Sudah jadi, gimana ??" ucapku. "Wahh kak, ini bagus banget!
Lebih bagus dari sebelumnya! Makasih kak" ucapnya. "Hehe iya, siapa
dulu dong Niko gituu haha" ucapku. "Ini bener bagus banget kak" ucap
Nabilah. "Yaudah, sekarang minta maaf ya sama Frieska. Maafin Frieska
juga. Oke ?" ucapku. "Iya kak, makasih kak" ucapnya memelukku
lalu berlari kearah Frieska. "Hmm, andai itu Frieska haha" gumamku.
"Shaniaaa, kenapa kamu tidak pernah cerita
kalau kakakmu pandai sekali menjahit ?" ucap Nabilah. "Yeh,
aku aja gak tau" ucap Shania. "Yaelah kirain tau haha, eh kak maafin
Nabilah ya udah bersikap salah tadi" ucap Nabilah. "Iya, kakak juga
minta maaf ya Bil. Eh Nikonya mana ?" ucap Frieska. "Ada tuh di halaman,
kak aku sama Shania ke atas ya. Masih ada PR nih..." ucap Nabilah.
"Eh iya, iya" ucap Frieska.
***
Saat itu aku hanya duduk di kursi halaman sambil membaca komik
kesukaanku yang selalu aku bawa kemana-mana. "Serius amat bacanya"
ucap seseorang dari belakang. "Eh iya Fries hehe" ucapku. "Ikut
duduk boleh ?" tanya Frieska. "Eh iya, boleh. Ini kan rumah mu,
harusnya aku yang meminta izin haha"
jawabku. "Bisa saja kamu ini, emm Nik ? Makasih ya" ucapnya.
"Untuk ?" tanyaku. "Iya untuk semuanya, karena kamu, Nabilah
jadi gak marah lagi sama aku" jelasnya. "Eh itu, iya santai aja kali.
Lagian kamu apain sih tu boneka ? Nyampe robek kayak gitu ? Kamu gigitin ya ?
Hahaha" candaku. "Ih kamu ini, bukan gitu. Tadi tuh bonekanya ada di
bawah tempat tidur, pas aku tarik eh telinganya nyangkut. Robek deh" ucap
Frieska. "Hahahha ada-ada saja kamu" ucapku. Frieska hanya ikut
tertawa. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi, terlihat ada panggilan dari kepala
sekolah. "Fries, bentar ya" ucapku sambil
sedikit memberi jarak darinya. Cukup lama pembicaraanku dengan kepala
sekolah. "Fries, maaf lama nunggu ya" ucapku."Enggak kok, tadi
dari siapa ?" tanya Frieska. "Kepala sekolah di sekolahku"
jawabku. "Kenapa nelepon ?" tanya Frieska. "Kepala sekolah
ngasih kabar baik, tapi buatku ada kabar buruknya juga" jawabku.
"Kabar baik nya ?" tanya Frieska. "Aku terpilih jadi murid
pertukaran di Jepang" ucapku.
"Buruknya ?" tanya Frieska. "Aku di Jepang selama dua
tahun,sedangkan aku gak bisa ninggalin Shania selama itu. Aku kan cuma tinggal
berdua sama Shania" jelasku pada Frieska. "Gitu ya, kita sama dong
hehe" jawab Frieska. "Sama ? Maksudnya ?" tanyaku. "Iya
sama, aku juga terpilih jadi murid pertukaran di Jepang dari sekolahku"
jawabnya. "Terus ? Pilihan kamu gimana ?" tanyaku. "Ya aku sih
mau banget, kak Melody sama Nabilah juga udah setuju" jawab Frieska.
"Hmm, gitu ya" balasku. "Kamu gimana ?" tanya Frieska.
"Gatau deh" jawabku. "Emm gimana kalau Shania tinggal bareng kak
Melody sama Nabilah ?" tanya Frieska. "Ah kamu ini ngaco, emang Shania
mau ?" jawabku. "Apa salahnya dicoba ? Tanggal 14 kita berangkat kan
? Kita satu sekolah kan di Jepang ?" tanya Frieska. "Katanya sih
gitu, yaudah nanti aku ngomong sama Shania ya" jawabku. "Oke nanti
kabarin aku ya" ucap Frieska. "Hey kak, pulang yuk ? Udah mau sore
nihh" ucap Shania dari belakang. "Eh, iya Shan. Pamit dulu sana"
ucapku. "Iya kak. Kak Frieska, Nabilah kita pamit pulang ya, terimakasih
maaf kalau merepotkan hehe" ucap Shania. "Enggak repot kok Shan, sering-sering
main kesini yaa" ucap Frieska. "Iya Shan" lanjut Nabilah.
"Iya, terimakasih kak" ucap Shania seraya berjalan ke arahku.
"Kalian udah mau pulang ya ?" ucap Melody. "Iya kak, hehe"
ucap Shania. "Yaudah, kak Melody, Nabilah. Kita pamit ya" ucapku.
"Iya, hati-hati dijalan ya" ucap Melody. "Iya kak, eh Fries
?" tanyaku. "Iya ?" tanya Frieska. Aku hanya tersenyum sambil berjalan menuju arah pulang, Frieska terlihat tersipu haha.
Sampainya dirumah. "Shan, kakak mau ngomong sama kamu
sebentar" ucapku. "Ngomong apa kak ? Kayaknya serius, apa kakak udah
jadian ya sama kak Frieska ?" jawab Shania. "Shan, aku serius"
ucapku. "Oke kak oke, mau ngomong apasih kakakku sayang ??" ucap
Shania. "Aku mau ke Jepang" ucapku. "Apa kak ? Kakak bohong kan
?" tanya Shania. "Ini bener, kakak dipilih jadi murid pertukaran di
Jepang. Dan kebetulan sama dengan Frieska, jadi selama aku di Jepang kamu
tinggal dengan Nabilah dan kak Melody ya ?? Oh iya, tanggal 14 aku berangkat
dan selama 2 minggu kelas 8 dan 7 akan diliburkan. Jadi anggap saja kamu
liburan dirumah Nabilah. Gimana ?" tanyaku. "Tanpamu ?" ucap
Shania. "Tanpa aku ? Apa maksudmu ?" tanyaku. "Iya, liburan
tanpamu ? Selama ini kita selalu liburan bersama, melakukan hal konyol, bodoh,
dan semuanya bersama!" jawab Shania, air matanya mulai jatuh. "Tapi
Shan.." "Berapa lama kakak di Jepang ?" ucap Shania memotong
kataku. "Dua tahun" ucapku. "Dua tahun ? Kakak tau kan kalau aku
gak bisa tanpa kakak sehari aja! Ini ? Apalagi dua tahun! Aku gak mau kak, aku
gak setuju kakak ke Jepang!" ucap Shania dan ia berlari ke kamarnya.
"Shania ? Kamu marah ya sama kakak ?" ucapku di depan kamarnya.
"Tanya saja pada diri kakak sendiri!" ucap Shania. "Shania, kamu
tau kan kalau dari kecil kakak ingin banget ke Jepang. Berjalan-jalan, ke toko
Gundam, dan ini kesempatan buat kakak kesana" jelasku, Shania tidak
menjawab. "Shania ??" ucapku. "Pergi saja sana!
Aku gak peduli! Yang lama sekalian! Lebih dari dua tahun kalau
perlu!" teriak Shania. "Aku tidak mendengarmu!" ucapku. Besoknya
aku coba menghubungi Frieska. "Halo Fries ?" sapaku. "Halo Nik,
gimana Shania ? Dia mau gak ?" tanya Frieska. "Aku gatau pasti sih,
tapi aku sudah pastikan kalau aku akan ikut ke Jepang" ucapku. "Wah
bagus kalau gitu, eh Nik udah dulu ya, aku mau pergi soalnya" ucap
Frieska. "Pergi kemana ?" ucapku. "Gatau tuh, Nabilah haha"
ucap Frieska. "Oh, oke hati-hati ya" ucapku. Setelah selesai mandi
aku lihat pintu kamar Shania masih tertutup, tapi di meja makan sudah ada nasi
goreng. "Hmm, kemarin marah sekarang ? Berubah gini" gumamku.
"Shaniaa, ini untukku ??" teriakku. "Bukan!" jawab Shania.
"Lalu ? Untuk siapa ?" tanyaku. "Tadi aku masaknya kelebihan!
Jadi aku simpan disitu, siapa tau dimakan kucing garong!" jawab Shania.
"Alaahh, jangan gitu deh Shan. Masa aku disamain kayak kucing garong,
ngaku deh ini buat aku kan ? Haha, yasudah terimakasih" ucapku, Shania
tidak menjawab. Hari sudah sore, aku mempersiapkan barang-barang untuk ke
Jepang. Shania masih mengunci diri di kamarnya. Setelah semua selesai, aku
langsung turun kebawah. "Shania, kamu tau gak ?
Kakak punya buku hai miiko yang baru lohh, kamu mau baca gak ??"
ucapku. "Gak mau!" jawab Shania. "Yaudah kalau gak mau, aku
taruh di meja ya kalau kamu mau baca" ucapku dan kembali ke kamar. Tak
lama aku di kamar, aku kembali turun kebawah dan... ternyata benar, Shania
sedang membaca buku itu di ruang tengah. Aku mencoba berada di belakangnya
tanpa dia mengetahuinya. "Maaf, bukan maksud mau ngeganggu. Tapi jangan
serius amat bacanya" ucapku dari belakang. "Kakak ?! Sejak kapan
disitu ?" tanya Shania dengan gugup. "Sejak kamu membacanya"
ucapku. "Ternyata benar dugaanku, kamu pasti
membacanya" tambahku. "Eh, i..inii enggak, akuu, aku cuma
liat aja" jawab Shania. "Oh cuma liat aja, yaudah siniin aku mau
baca" ucapku sambil merebut buku darinya. "Eh tapi kak" jawab
Shania. "Sudah, aku keatas dulu yaa. Haha" ucapku dan berlalu ke
atas. "Kakak jadi ke Jepang ?" ucap Shania dari bawah.
"Hmm" aku mengangguk, Shania kembali ke kamarnya.
14 Januari 2011 Shania masih saja cuek padaku. "Shan ? Kakak
berangkat nanti malam, kamu mau ikut mengantar ??" tanyaku pelan.
"Pergi saja! Aku gak mau ikut nganter! Aku gak peduli!" jawab Shania.
"Shania... aku.... Yasudahlah, terserah kamu saja" ucapku. Di kamar
aku hanya melihat barang-barangku
yang sudah aku siapkan dari jauh-jauh hari, di meja belajarku terdapat
foto aku, Shania, dan kedua orang tuaku. Terlihat aku yang baru berusia 4 tahun
dan Shania 2 tahun, ah aku rindu sekali pada orang tuaku. Saat sore hari aku
bersiap berangkat ke rumah Frieska tanpa memberitahu Shania. Sampainya di rumah
Frieska, aku bertemu dengan satpamnya. Gilee, mukanya serem banget bro....
"Cari siapa mas ?" tanya
satpam itu. "Eh, ini. Saya cari Frieska ada ?" jawabku.
"Oh mas Niko ya ? Non Frieska sudah menunggu di halaman belakang"
ucapnya. "Oh iya makasih pak, saya ke dalam dulu ya" ucapku.
"Fries ? Lama nunggu ya ?" ucapku. "Eh engga kok, gimana Shania
?" tanya Frieska. "Gatau nih, yaudah gak usah difikirin sama kamu ya
Fries. Eh yang di depan satpam baru ya ?" tanyaku. "Iya, kenapa
??" tanya Frieska. "Enggak hehe, eh berangkat sekarang yok"
ajakku. "Iya, tapi kak Melody sama Nabilah belakangan. Jadi kita naik
taksi dulu gak apa-apa kan ?" tanya Frieska. "Oh iya, oke"
ucapku. Didalam perjalanan
ke bandara, aku mengirim sms pada Shania. "Shania cantik ? Masih
marah ya sama kakak ? Maafin kakak ya, sekarang kakak lagi di jalan mau ke
bandara. Kak Melody dan Nabilah nanti menyusul, aku harap kamu ikut mengantar
ya" isi sms ku pada Shania, aku tidak tahu Shania membacanya atau tidak.
Yang
pasti aku harap itu yang terbaik. Sampai di bandara, disana banyak
guru-guru dari sekolahnya masing-masing yang ikut ke Jepang, begitu juga dengan
guruku. "Hey, maaf ya kita lama" ucap Melody, ia bersama Nabilah dan
seorang laki-laki. Tinggi, cukup putih, cool, ya sepertinya dia tunangan
Melody, terlihat dari sikapnya yang sesekali memegang tangan Melody. "Eh
enggak kok kak, kita juga baru sampai" ucap Frieska. "Shania ? Gak
ikut ?" tanyaku. "Tadi kami sudah kerumahnya, tapi tidak ada
siapa-siapa disana" ucap laki-laki itu. "Eh Fries, dia siapa sih
?" tanyaku berbisik. "Itu tunangan kak Melody, keren kan orangnya ?
Dewasa lagi" ucap Frieska. "Apanya yang keren ? Kerenan juga aku,
apalagi kalau sama kamu. Jadi best couple deh haha" ucapku berbisik lagi.
"Ih apaan sih kamu" ucap Frieska. "Eh iya, kak Marka kenalin ini
Niko. Niko, ini kak Marka" ucap Frieska. "Halo, Marka, salam
kenal" ucapnya. "Oh iya, Niko. Salam kenal" ucapku.
"Pacarnya Frieska ya ?" ucap laki-laki itu. "Emm, bukan pacar.
Calon pacar lebih tepatnya hahaha" ucapku. "Nikoo, apaan sih"
ucap Frieska. Ternyata pesawat yang akan kami naiki sudah datang dan penumpang
diharapkan segera masuk ke pesawat. "Shania..." ucapku lirih.
"Hey, sabar ya" ucap Frieska, aku hanya tersenyum. Saat berjalan
menuju pintu masuk. "Kakak...!" ucap seseorang dari belakang. Aku
segera berbalik dan itu Shania! "Kakak...." ucap Shania lagi, dan
kali ini air matanya mengalir. "Shania ? Kau datang ?" ucapku.
"Kakak!" ucap Shania sambil berlari kearahku
dan memelukku. "Kakak Shania gak mau kakak pergi" ucap
Shania. "Shania, akuu.." "Permintaan ke 20 dariku tolong, kakak
tetap disini. Jangan tinggalkan aku kak" ucap Shania. "Shania, aku
tidak akan lama. Kakak mohon, kamu mengerti" ucapku, Shania hana diam. "Sudah
kalian berangkat saja, biar Shania bersama kami disini" ucap Melody.
"Baik terimakasih" ucapku yang melepaskan pelukan Shania dan berjalan
menuju pintu masuk. "Kakak! Jangan lama! Shania disini nunggu kakak!"
teriak Shania. "Iya! Sampai aku pulang kau harus tetap menunggu kakak
ya!" ucapku. "Iya kak" ucap Shania. "Berjanji ????"
teriakku. "Iya kak! Aku berjanji!" ucap Shania.
Didalam pesawat kami hanya diam, tidak ada sepatah kata keluar dari
mulutku. Aku duduk dengan Frieska, murid lain dengan murid lain. Dan guru
dengan guru. "Aku suka kamu, aku sebenernya suka sama kamu. Gimana ya
ngomongnya, aku suka kamu. Ahh bodoh, sebenernya aku suka sama kamu"
bicaraku sendiri dan ternyata terdengar oleh Frieska. "Suka sama siapa sih
?" tanya Frieska. "Sama kamu. Ehh" ucapku yang keceplosan.
"Sama aku ? Hmm hahaha" ucap Frieska. "Loh ? Malah ketawa"
ucapku. "Biarin aja" ucap Frieska, aku hanya pura-pura tidur dibahu
nya. "Kamu ini manja ya" ucap Frieska sambil mendorong kepalaku dari
bahunya. "Eh! Sakit tau Fries..." ucapku. "Hmmm" Frieska
hanya menghela nafas dan ia tertidur dibahuku! "Hmm, begini lebih
baik" ucapku. Tidak terasa pesawat yang kami naiki sudah sampai di bandara
Jepang, saat turun dari pesawat, aku segera mengirim email pada Shania.
"Shan ? Kakak udah sampai di Jepang, kamu lagi apa ? Baik-baik aja kan
?" isi emailku, tapi tak ada balasan dari
Shania. Aku langsung mengirim email pada Nabilah. "Bil, Shania ada
?" isi emailku. "Ada kak, tapi lagi tidur. Eh kak, tadi Shania cerita
banyak hal tentang kakak" balas Nabilah. "Oh ya ? Gimana dia
ceritainnya ?" balasku. "Kakak mau tau banget ? Hehe" balas
Nabilah. "Hmm, yasudah nanti saja ya" balasku. "Hehe iya
kak" balas Nabilah. "Nik, yang lain udah pada naik bis. Kamu malah
asyik sama iPhone-mu itu" ucap Frieska. "Hehe, kamu duluan aja ya. Lagian
bis berangkat 15 menit lagi kok" balasku.
"Oke, aku duluan ya" ucap Frieska sambil berjalan menuju bis.
"Eh Fries!" panggilku. "Apa ?" ucap Frieska. "Duduk
bareng ya! Hehe" ucapku. Frieska hanya mengangguk tersenyum dan masuk
kedalam bis. 10 menit berlalu, aku segera masuk kedalam bis "Ciye yang
duduk sendirian aja" ledekku. "Hmmm, sini duduk" ajak Frieska.
"Oke,oke hehe" ucapku sambil duduk disisinya. Baru saja aku duduk.
"Niko! Kamu duduk sama aku aja yaa!" ucap seseorang seraya menarik
tanganku. "Kamu ? Kok ada disini ?!" tanyaku pada Yupi, ya! Dia Yupi.
Ngapain disini ? "Kamu gatau ya ? Waktu aku tau kamu jadi murid pertukaran
di Jepang, aku langsung minta pada ayahku untuk ikut ke Jepang" jawab
Yupi. "Astaga, gua lupa kepala sekolah gua itu ayahnya si Yupi. Ahh
kacau" gumamku. "Eh tapi aku mau duduk sama" belum selesai aku
berbicara Yupi menarik tanganku lagi dan duduk dibangku sebelah Frieska.
"Udah, gak usah banyak
ngomong deh. Kamu sama aku aja" ucap Yupi. Apa boleh buat, aku
ikuti saja kemauan Yupi. Saat aku menoleh ke arah Frieska, ia hanya memainkan
hp-nya saja. Saat aku panggil ia hanya cuek tak menyaut, aku mencoba mengirim
sms padanya, tetapi tetap tak ada balasan. Saat aku lihat Yupi sudah tertidur,
entah kenapa setiap aku melihat Yupi aku selalu ingat pada Shania. Entah itu
akan sikapnya yang manja seperti Shania, aku tidak tau. Setelah berjam-jam
akhirnya bis sampai di hotel, tapi Yupi masih tertidur. Baru mau dibangunin,
ternyata dia sudah bangun sendiri. "Eh Nik ? Udah sampe ya ??" tanya
Yupi. "Seperti yang kamu lihat" jawabku. "Eh, koper kita kemana
?" tanya Yupi. "Katanya sudah diantarkan ke kamar kita
masing-masing" ucapku. "Kamarku dimana ?" tanya Yupi. "Satu
kamar 2 orang, aku sekamar dengan Radit. Kamu gatau sama siapa, yang pasti
kamar kamu nomor 48 dan aku 47. Jadinya bersebelahan, makin repot aku
deket-deket sama kamu" candaku. "Ihh kamu ini apaansih, yaudah aku
mau keluar sambil cari temen sekamarku" jawab Yupi. "Yeey, yaudah
sana" jawabku.
***
Saat aku turun dari bis, aku melihat Frieska. "Fries! Nomor berapa
?" teriakku. "Empat puluh delapan" jawabnya dengan cuek seraya
pergi kedalam hotel. "Empat puluh delapan ? Waduhh sama Yupi dong ? Gila,
bener-bener gila" gumamku dan segera menyusul kedalam hotel. Sampai di
lobby hotel para guru
memberi pengarahan terlebih dahulu. "Nah, anak-anak. Bagaimana ?
Kalian sudah dapat nomor masing-masing kan ? Sekarang kalian boleh menuju kamar
masing-masing dan jalan-jalan disekitar bukit hotel. Tapi tidak keluar dari
area hotel sebelum ada pengarahan, dan satu lagi. Jangan bertindak ceroboh!
Baik, sampai disini. Selamat sore" ucap guru itu. Semua murid menuju
kamarnya masing-masing, begitu juga
aku. Sampainya dikamar hotel, cukup luas, klasik, tidak membosankan,
begitulah gambaran tentang kamar hotel yang aku tempati. Aku langsung mandi dan
setelah mandi aku segera ke kamar nomor 48 iya, kamar Frieska dan Yupi.
"Dit, gue kekamar sebelah ye. Lu tunggu disini" ucapku pada Radit
yang
kebetulan sahabatku. "Oke bro, santai" jawab Radit. Saat aku
sampai didepan kamar hotel, aku melihat Yupi. "Heh, ngapain disini ?"
tanyaku. "Aku cari kamar nomor 48 dimana sih" jawab Yupi.
"Yaelah masih nyari, ini didepanmu ? Kamu tidak lihat ?" ucapku.
"Ohehe iya juga, kira-kira aku sama siapa yaa??" tanya Yupi.
"Kita lihat saja nanti" jawabku. Lalu aku mengetuk pintu kamar itu.
"Niko ? Ngapain kesini ?" tanya Frieska. "Ini, temanku juga
sekamar sama kamu" jawabku. "Ohh, yang tadi di bis ya ? Wah,
senangnya bisa sekamar sama kamu. Ayo masuk" ucap Frieska sambil menggandeng
tangan Yupi dan Frieska menoleh kearahku sambil menjulurkan lidahnya. "Eh
aku ikut masuk ya Yup ? Mau pinjem laptop sebentar gak apa-apa kan ?"
tanyaku. "Hmm iya deh" jawab Yupi. "Oh iya, kita belum kenalan
kan ? Kenalkan namaku Frieska Anastasia Laksani, panggil saja
Frieska" ucap Frieska. "Aku Cindy Yuvia, tapi biasanya aku dipanggil
Yupi" balas Yupi. "Yupi ? Nama panggilan yang unik hehe. Oh iya, kamu
siapanya Niko ? Kok kelihatannya akrab banget ?" tanya Frieska. "Aku
itu pacarnya Niko" jawab Yupi.
"Yupi..... jangan bohong" tambahku. "Hehe, iya. Niko itu
sebenernya mantan pacar aku, tapi Niko itu masih suka sama aku. Jadi sekarang
kita lagi pdkt lagi ya Nik ?" ucap Yupi.
"Apaan, ngarang banget kamu" jawabku. "Ngaku dehh
??" tanya Yupi. "Enggak" jawabku sambil sedikit memberi jarak.
"Kalian malah ribut sendiri. Niko, kamu kembali ke kamar kamu aja deh, aku
mau mendengar banyak cerita dari Yupi" ucap Frieska yang mendorong ku
keluar kamarnya. "eh, apaan nih ?
Aku kan belum selesai main laptopnya" ucapku. "Pakai laptop
kamu saja ya" balas Frieska sambil menutup pintu kamarnya.
Akupun kembali ke kamarku. "Dit, lu tau Yupi kan ?" tanyaku.
"Tau lah, mana mungkin gue gatau. Yupi itu cewek favorite di sekolah kan ?
Semua murid cowok banyak yang memujanya, dia mantan lu juga kan ? Emangnya
kenapa bro ?" tanya Radit. "Dia juga minta ke bokapnya buat jadi
murid pertukaran juga.
Bokapnya kan kepala sekolah, makin gak tenang deh gue disini"
jawabku. "Oh masalah itu bro, yaudahlah tenang aja. Eh lagian, si Yupi
kayaknya masih ngarep balikan" ucap Radit. "Idih, kagak ah. Gua gak
suka cewek manja banget kayak Yupi" ucapku. "Yaelah bro, kalau si
Yupi justru tipe cewek gua banget" jawab Radit. "Yaudah buat elu
aja" ucapku. "Idih, kagak ah. Kalau gue sama Yupi, terus Beby dikemanain?" jawab
Radit. "Beby ? Beby Chaesara
Anadila maksud lu ?" tanyaku."Iyalah, dia kan pacar gue" jawab Radit. "Pacar lu ?"
tanyaku. "Iya, kenapa ?" tanya Radit. "Kagak percaya gue wkwkwk"
ucapku. "Eh beneran" ucap Radit. "Hmm, kasian Beby. Beby kan cantik,
wah gitu. Tapi kok pacarnya
kayak singkong rebus gini hahaha" ucapku tertawa puas. "Eh kampret, ngeledek lu" ucap
Radit. "Hehe, woles bray" ucapku. "Eh, LDR-an dua tahun dong lu ?
Wkwk" ucapku. "Gak apa-apa,
daripada elu. Jomblo" ledek Radit. "Awas lu, bentar lagi juga kagak jomblo!" ucapku. "Iya
gimana elu dah, yaudah gua
tidur duluan. Ngantuk" ucap Radit. "Masih jam 7 juga udah ngantuk lu, kek banci aje" ucapku.
"Eh gajadi dah, gua mau telepon
Beby dulu. Disini sinyalnya jelek!" ucap Radit melempar bantalnya ke wajahku sambil pergi keluar kamar.
"Bangke lu!" teriakku.
Aku segera mengirim email pada Nabilah. "Bil, Shania ada ? Kenapa email dariku tidak pernah ia balas
?" isi emailku. Beberapa
menit berlalu, namun tetap tidak ada balasan dari Nabilah. "Bil, kok gak dibales ?" isi
emailku lagi. "Maaf kak, Shania
gak mau jawab" balas Nabilah. "Kemana aja sih baru bales ? Yaudah nanti aku kirim email lagi
ya" balasku. Semua murid
turun ke lobby untuk makan malam. "Fries! Makan bareng ya ?" tawarku pada Frieska. "Hmm,
boleh deh" jawab Frieska, saat
kami akan mengambil makanan. "Niko ? Ngapain disini ?" tanya Yupi. "Kamu pikir aku disini ngapain
kalau bukan ngambil makan
?" jawabku dengan nada yang mungkin tidak enak didengar. "Gausah ngambil deh, aku udah
bawain kok. Kamu makan
bareng aku aja ya" ajak Yupi. "Eh gamau ah, aku mau makan bareng Frieska" jawabku. "Tapi
kan, nanti makanannya siapa
yang makan ? Sayang kan jadinya" ucap Yupi. "Itu sih
salah kamu, main ambilin aja" jawabku. "Udah, udah. Niko, lebih baik kamu makan bareng Yupi. Kan sayang
makanannya, Yupi juga
udah niat ngambilin makanan buat kamu. Biar aku makan sendiri saja" ucap Frieska sambil berlalu
meninggalkan ku. "Tapi Fries
?? Ah kamu sih!" ucapku pada Yupi. "Loh ? Kok aku ? Kan Frieska sendiri yang bilang" jawab Yupi.
"Ah yaudahlah, meja nya
dimana ? Laper nih" ucapku. "Itu disana" kata Yupi sambil menunjuk meja makannya.
Sampainya di meja makan. "Eh, kamu masih ingat ternyata" ucapku pada Yupi. "Ingat apa ?" tanya
Yupi. "Makanan kesukaanku"
ucapku sambil melahap makanan itu. Iya, saat kami masih berpacaran setiap istirahat sekolah
pasti Yupi selalu membawakan
bekal untukku. Dan spesialnya lagi, itu bekal hasil masakan Yupi sendiri. Kadang dibentuk sebuah
tanda hati, Yupi bilang
sih biar nanti waktu aku makan, aku makin sayang sama Yupi. Soalnya hati itu udah aku makan, ada-ada
saja memang.
Haha. "Oh itu, mana
mungkin aku lupa. Nanti aku buatkan lagi untukmu yaa" jawab Yupi, aku sempat
tersedak mendengar itu. "Eh
Niko, hati-hati dong makannya" ucap Yupi sambil menyeka mulutku. Saat itu aku gugup sekali! "Nah,
udah bersih. Yaudah makan
lagi ya, hati-hati tersedak lagi" ucap Yupi. "I..iya" jawabku gugup. Setelah selesai makan, Yupi
meminta izin untuk kembali
ke kamarnya, sedangkan Frieska masih diam di tempat dimana tadi dia makan. "Fries, ke bukit
yok ?" ajakku. "Ngapain
?" tanya Frieska. "Liat langit" jawabku. "Gimana ya??" pikir Frieska. "Ahh kamu kebanyakan mikir,
udah ayok" ucapku sambil
menarik tangannya. "Eh iya,iya sabar dong" jawab Frieska. Sampai di bukit kami hanya diam tanpa
kata, suasana menjadi
sangat dingin karenanya. Aku mencoba membuka percakapan. "Fries ?" tanyaku.
"Apa ?" jawabnya dengan nada
datar dan masih memandang bintang. "Maaf ya" ucapku.
"Maaf ?
Untuk apa ?" tanya Frieska.
"Tadi kan aku gak makan bareng kamu" jawabku. "Soal itu, aku gak
marah kok. Lagian kamu cocok
sama Yupi" ucap Frieska. "Cocok ?" tanyaku. "Iya cocok, bener deh. Best couple banget kalau kamu sama
Yupi" ucap
Frieska. "Gak, gak cocok. Aku itu kalau best couple cocoknya sama kamu" ucapku. "Sa..sama aku
?" tanya Frieska. "Iya sama kamu" ucapku tersenyum. "Emm Nik,
maaf aku ke hotel duluan" jawab
Frieska pergi dengan wajahnya yang malu, aku juga menyusul dan langsung tidur karena memang hari
sudah larut
malam.
Saat pagi hari kami mendapat pemberitahuan bahwa kami di Jepang hanya satu tahun lebih mungkin satu
tahun 6 bulan. Kami
tidak tau persis alasannya apa, dan selama seminggu ini sebelum mulai masuk pembelajaran. Kami akan
berkeliling kota di
Jepang. Hmm kelihatannya seru. "Fries, nanti di bis duduk bareng ya ??" ajakku. "Gak mau"
jawab Frieska. "Loh ? Kok gitu sih ?" tanyaku. "Kamu itu cuma
ngomong doang" jawab Frieska. "Cuma ngomong doang ? Maksud kamu ?"
tanyaku lagi. "Iya, kamu
cuma ngomong doang. Ujung-ujungnya ? Sama Yupi terus" jawab Frieska. "Itu kan aku
dipaksa sama Yupi" jawabku.
"Kenapa gak kamu tolak ? Oh iya, aku ingat. Kamu memang masih sayang pada Yupi. Jadi, mana
mungkin kamu
tolak. Iya kan ?!" ucap
Frieska dengan nada yang sedikit membentak. "Fries, aku..." ucapku.
"Udahlah aku gak mau denger
alasan apa-apa dari kamu. Permisi"
ucap Frieska dan pergi
meninggalkanku. "Hoi bro ??" ucap seseorang dibelakang, ternyata itu Radit. "Eh apaan Dit ?"
tanyaku. "Ngapain disini ?" tanya Radit. "Kagak, cuma cari angin"
jawabku. "Oh gitu ya bro, eh gua
mau cerita nih bro" jawab Radit sambil duduk dipinggirku. "Eh, cerita apaan ?"
tanyaku. "Gue tadi abis putus sama Beby" jawab Radit. "Hah ? Yang
mutusin siapa ?" tanyaku. "Beby"
jawab Radit. "Hmm sabar ye bro" ucapku. "Always haha" jawab Radit. "Eh bro, tadi di sono tuh
sono. Gue ketemu cewek, beuhh
itu yang namanya cantik bro" ucap Radit sambil menunjuk tempat yang disebutnya. "Siapa ?"
tanyaku. "Gua kagak tau namanya,
pokoknya cantik lah. Besok mau gua samperin, kali aja bisa jadi pengganti Beby" jawab Radit.
"Segampang itu elu move
on Dit haha" ucapku. "Ye, biarin aja kali bro. Galau itu jangan lama-lama haha" ucap Radit.
"Apa kata elu dah, yaudah gua ke
hotel duluan" ucapku. "Oke bro, do'ain besok sukses ye haha" ucap Radit. "Oke" jawabku.
Malam tiba, semua murid tidur dengan
cepat karena besok harus bangun lebih pagi.
Besok paginya semua murid sudah berkumpul di lobby untuk pembagian nomor duduk di bis. Ternyata bis
dibagi menjadi 2 yang
terdiri dari bis A dan B. Makin kecil saja kesempatanku untuk duduk dengan Frieska. Pembagian nomor
selesai, aku ada di bis
A sedangkan aku tidak tau Frieska ada di bis mana. Yang
pasti aku berharap tidak bersama Yupi. Aku segera naik kedalam bis, sesuai dengan nomorku. Nomor 10, aku duduk
disitu.
Bangku disebelahku masih
kosong, menunggu seseorang untuk menempatinya. "Hola Niko,, ketemu lagi
hehe" ucap Yupi. "Astagaa,
kamu nomor 10 juga ? YaTuhan,, kenapa selalu kamu sihh ?? " ucapku. "Jujur yaa, tadinya
sih aku nomor 11 Cuma aku
tau kamu nomor 10 jadi aku tuker deh haha" ucap Yupi. "Haahh" ucapku mengeluh. Diperjalanan
boring banget, si Yupi malah
tidur. Tak terasa lama perjalanan, kami dibawa ke sebuah gedung yang cukup besar. Rupanya kami
akan melihat
beberapa cosplay dari anime di gedung itu. "Si Yupi masih tidur, kesempatan banget buat jalan sama Frieska"
gumamku. Saat turun
kebawah, aku bertemu Radit. "Dit!!" panggilku. "Eh apa ?" ucap Radit menoleh. "Lu sama
si Yupi dulu ya ? Gua mau ketemu
doi dulu, nanti gantian deh" tawarku. "Hmm iyadah, tapi
jangan lama-lama ya bro" ucap Radit. "Pasti" jawabku
sambil
pergi mencari Frieska.
"Fries, bareng yok ?" ajakku. "Enggak, makasih" ucap Frieska. "Fries, kali
ini please" ucapku sambil memegang
tangannya. "Hmm, gimana ya. Boleh deh" ucap Frieska. "Yes! Yaudah yok" ucapku.
"Eh Nik, mau kemana ?" tanya Frieska, aku memang membawanya ketempat
lain. Bukan
ke gedung itu melainkan ke
bukit dibelakang gedung itu. "Ikut aja ya" jawabku. "Iya tapi mau kemana
?" tanya Frieska lagi. "Liat
aja nanti" jawabku. "Nah sampe deh" ucapku. "Ngapain disini ? Acaranya kan disana ?" tanya
Frieska. "Kita duduk disini aja, udaranya segar kan. Hehe" jawabku.
"Iya tapi kalau kita ketinggalan
bis gimana ?" tanya Frieska. "Tenang aja, aku bawa arloji. Lagian acaranya masih lama
juga" ucapku. "Oh iya, kemarin Yupi cerita apa aja ke kamu ?"
tambahku. "Banyak, yang
paling aku inget sih waktu dia nyeritain kalau dia pernah dirawat dirumah sakit. Terus kamu bela-belain
izin dari sekolah selama
seminggu buat jagain dia, so sweet sihh haha" ucap Frieska. "Fries, itu...." ucapku.
"Udah, aku saranin kalian balikan
aja. Lagian Yupi cocok sama kamu, Yupi baik, cantik" ucap Frieska. "Fries" aku tidak
melanjutkan omonganku karena Frieska
terus saja memuji Yupi. "Yupi lucu, pintar, ramah, ngegemesin, pokoknya cocok deh sama kamu"
ucap Frieska. "Fries
denger aku!" ucapku sambil memegang bahunya, Frieska hanya menatapku dengan mata yang nanar.
"Udah aku bilang kalau
aku gak suka sama Yupi! Yupi cuma masa lalu aku Fries!" ucapku. "Ke..kenapa ?" tanya Frieska
gugup. Aku menghela nafas.
"Hmm, karena aku cuma suka sama kamu Fries" jawabku. "A..aaku ?" tanya Frieska. "Iya,
kamu mau gak jadi pacar aku
?" tanyaku. "Maaf Nik, aku gak bisa jawab sekarang" ucap Frieska sambil berlalu meninggalkanku.
"Fries!! Aku tunggu jawaban
kamu!" teriakku.
Saat aku berjalan menuju gedung. "Nikoo!! Tunggu akuu!!" teriak seorang gadis, ternyata itu Yupi.
"Eh kamu, ngapain disini
? Raditnya mana ?" tanyaku. "Loh kata Radit, kamu sms ke dia kalau kamu nunggu aku disini ? Eh
ternyata bener. Kenapa
sih kamu kangen ya ke aku ?" ucap Yupi. "Sialan si Radit, awas aja!" gumamku. "Eh siapa
bilang ? Yaudah, liat cosplay
ajadah. Daripada boring" ucapku. "Tuh kann benerr
haha" ucap Yupi. "Gak usah bawel deh!" ucapku.
"Iya, iya maaf deh"
ucap Yupi. "Nah gitu, sekali-kali kamu harus nurut ya anak kecil" ledekku. "Aku bukan anak kecil
Nikoo!!" protes Yupi. "Anak
kecil mah anak kecil aja kali" ucapku. "Kamu nyebelin" ucap Yupi. "Hehe, maaf deh. Yaudah yok
jalan" ucapku. Saat
sedang berjalan aku melihat Frieska bersama laki-laki. Terlihat mereka sedang tertawa, bercanda bersama. Tapi
aku tidak bisa mengenali
wajahnya, karena dia menghadap ke Frieska. Ah apa itu alasan Frieska tidak menjawab pertanyaanku
tadi ? "Hey, kok ngelamun
? Ayo jalan lagi" ucap Yupi. "Ehh, ini emm iya gak apa-apa hehe" ucapku. Sepanjang jalan aku
terus memikirkan hal
itu, bersama siapa tadi Frieska ? Setelah berjam-jam diacara itu, semua kembali bersiap untuk pulang
ke hotel. Di bis seperti
biasa, Yupi hanya tertidur. Sedangkan aku terus memikirkan Frieska, siapa laki-laki itu ?
Pertanyaan itu terus bersarang
dipikiranku. Sampainya dihotel, aku langsung masuk ke kamarku dan menunggu Radit. "Woy Dit!
Darimana lu ?" tanyaku.
"Eh apaan sih lu, gua baru dateng main bentak aja.Kenapa sih ?" tanya
Radit. "Sori ye, kagak gua nanya aja lu tadi di gedung sama siapa ?" tanyaku. "Lu
kan tau sendiri, tadi gue sama
Yupi. Terus ketemu Tasya, yaelah kenapa sih ?" tanya Radit lagi. "Kagak sih, gua nanya
doang" jawabku. "Oh yaudah gua mandi dulu dah" ucap Radit.
"Oke" ucapku. Aku segera ke kamar Frieska, tapi nyatanya pintu dikunci dari
dalam. Aku hanya mengirim sms saja pada Frieska. "Bukit belakang hotel, jam 07.00 malam. Please" isi smsku.
Setelah itu aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap. "Dit! Buruan dong mandinya! Gue juga mau mandi
nih!" teriakku dari luar
kamar mandi. "Iye bentar napa, baru juga gue masuk" ucap Radit. "Emang mau kemana sih lu ?"
ucap Radit lagi. "Mau jalan sama doi haha" ucapku. "Yaelah gitu
aja diburu-buru" ucap Radit.
"Ah elu banyak omong, udah cepetan" ucapku. "Iye broo" ucap Radit sambil membuka pintu kamar mandi.
Malampun tiba, aku
bergegas menuju bukit seperti yang aku bilang pada Frieska. Sudah pukul 07.15 tapi Frieska belum
datang juga.
"Mau ngomong apa ?"
ucap seseorang dibelakang. "Eh Fries, dateng juga hehe" ucapku seraya berbalik.
"Iya, kamu mau ngomong
apa ?" tanya Frieska. "Kamu belum jawab pertanyaanku" ucapku. "Yang mana
?" tanya Frieska. "Duhhh, kamu iniii...... Frieska, kamu mau gak jadi
pacar aku ???" tanyaku.
"Apa ? Gak denger" jawab Frieska, aku mengehela nafas. "Frieska Anastasia Laksani, kamu
mau gak jadi pacar aku!!
Aku suka sama kamu!! Aku sayang sama kamu!!" teriakku dengan mantap. "Kenapa kamu sayang sama
aku ?" tanya Frieska.
"Terus ? Kenapa kamu bisa suka sama aku ?" Tanya Frieska lagi. "Aku gak punya alasan untuk
itu" jawabku. "Kenapa
?" tanya Frieska. "Karena kamu segalanya buat aku" ucapku. Frieska hanya terdiam. "Gimana ?
Mau gak jadi pacar aku
?" tanyaku, Frieska mengangguk tanda iya. "Jadi ? Kita pacaran sekarang ?" tanyaku. "Emm,
iya" ucap Frieska berbisik seraya
pergi menuju hotel. "Akhirnya..... Terimakasih" gumamku. Dengan perasaan senang aku segera
pulang ke
hotel, bermaksud ingin
menceritakan semua ini kepada Radit.
***
Saat sampai dikamar hotel, tidak ada Radit disana. "Si Radit, lagi keluar kok pintu gak dikunci"
gumamku. Saat aku mengecek email-ku
terdapat email dari Shania. "Kakak ??!!" isi email Shania. "Shan, tumben kamu kirim email
duluan. Udah gak marah
kan yaa ??" balasku. "Hehe iya kak, Shania juga tau" balasnya. "Tau apa ?" balasku.
"Kakak pacaran ya sama kak Frieska
?? Hahaha" balasnya. "Kamu tau darimana ?" balasku. "Di g+ kak Frieska" balasnya.
"Hmm, males buka ah. Emang ada apaan sih ?" balasku. "Kak Frieska
cuma nulis 'Love You' aja di g+ nya, terus Shania tanya. Love You ke siapa sih
kak ? Kak
Frieska jawab, ke kakakmu
hehe. Waktu Shania tanya, kakak jadian
ya sama kak Niko. Kak Frieska suruh tanya ke kakak saja. Hmm benarkan ?? Haha" balas Shania.
"Hmm iya benar, sekarang
mau apa ?" balasku. "Cepat pulang kak!" balasnya dan dia mengirimkan gambar padaku melalui emailnya.
"Ingat ini kak
?" balas Shania lagi. Shania mengirim gambar saat kami masih kecil, saat itu mainanku tidak sengaja
dirusak oleh
Shania. Lalu aku berpura-pura
menangis untuk mengerjainya, tapi
nyatanya Shania malah ikut menangis. Kejadian itu difoto oleh pamanku, setiap kali aku melihatnya aku
selalu tertawa. "Iya
aku ingat, mana mungkin aku lupa. Saat itu ekspresimu lucu sekali haha" balasku. "Kakak
juga" balas Shania. "Kak, sudah dulu ya. Shania masih ada PR"
balasnya. "Ucap janji dulu dong"
balasku. "Hmm iya, Shania janji selalu nunggu kakak disini. Sampai kakak pulang, Shania tetap
nunggu kakak disini. Aku
sayang kakak" balas Shania. "Iya, kakak juga sayang sama kamu. Jangan tidur larut malam ya!"
balasku lalu mematikan hp-ku
karena memang baterainya habis. Brak!! Suara pintu kamar terbanting dengan keras. "Woy Dit!
Pelan aja nutupnya!" ucapku.
"Sori bro, hehe" ucap Radit. "Kenapa sih lu ?" tanyaku. "Tadi gua nembak Tasya, tapi dia gak
jawab. Dan rencananya gue
mau nembak Tasya lagi besok hehe" ucap Radit. "Gue penasaran deh bro, sebenernya Tasya itu nama
lengkapnya apa sih
?" tanyaku. "Sebenernya Tasya hanya nama panggilan saja, nama lengkapnya itu Frieska Anastasia Laksani
kalau gak salah" ucap
Radit. Aku sempat kaget mendengar itu. "Ya..yakin lu ?" tanyaku. "Iya, gue yakin. Kenapa bro
?" tanya Radit. "Eh engga,
yaudah gue tidur duluan. Ngantuk" ucapku dan mengurungkan niatku untuk menceritakan semua
pada Radit.
Esok pagi, aku mengirim sms
pada Frieska. "Fries, ke bukit sekarang bisa gak ?" isi smsku. "Iya,
tunggu ya" balas Frieska. Beberapa
menit menunggu Frieska. "Hey" ucapnya dari belakang. "Eh, hey. Sini duduk"
ajakku. "Iya, mau ngomong apasih
?" ucap Frieska sambil duduk disebelahku. "Aku mau nanya sama kamu, tapi sebelumnya aku minta maaf
kalau aku
ada salah kata ya"
ucapku. "Iya, ada apasih ??" tanya Frieska. "Kamu kenal Radit ?" tanyaku.
"Kenal, kenapa ? Aku kenalnya baru sih, belum lama" jawab Frieska.
"Radit itu sahabatku, sahabatku
dari kecil. Bahkan keluarganya sempat menampung aku dan Shania dirumahnya" ucapku.
"Lalu ?" tanya Frieska. "Radit kemarin malam pasti nembak kamu ya
?" tanyaku. "I..iya, kamu
tau darimana ??" tanya Frieska gugup. "Radit sendiri yang menceritakannya, aku gak pernah tau kalau
kami
menyukai orang yang sama.
Karena setiap aku mau menceritakan
tentang kamu, pasti ke tunda terus" ucapku. "Te..teruss ??" tanya Frieska gugup.
"Kamu gak usah gugup, aku
gak akan marah kok. Terus kamu jawab apa ke Radit ?" tanyaku. "Aku,,, aku belum kasih
jawaban" jawab Frieska. "Hmm,
besok pasti Radit mau nembak kamu lagi, aku tau Radit. Dia gak akan pernah nyerah sebelum dia dapet
apa yang dia
mau, please kamu terima
Radit" pintaku. "Ka,,,kamu ngomong apa ? Aku gak mau" jawab Frieska.
"Fries, kali ini aja. Aku mau balas budi sama Radit" ucapku. "Tapi
gak harus ngorbanin hubungan
kita kan ?" ucap Frieska. "Please, kita bisa cari jalan
lain. Aku sayang kamu, apa kamu udah gak sayang sama aku ? Kamu mau balikan sama Yupi ya ?" ucap
Frieska sambil menggenggam
tanganku. "Kamu salah Fries, aku gak pernah kefikiran kayak gitu. Aku juga sayang kamu,
sampai ketemu nanti
malam dengan Radit" ucapku dan meninggalkannya. "Maaf Fries" gumamku. Malamnya saat aku pulang
ke kamar hotel, Radit
langsung menarik tanganku menuju bukit dekat hotel. "Eh Dit! Baru gue dateng, main tarik
aja!" ucapku menghentikan
langkahnya. "Ikut gue deh bro" ucap Radit. Aku terus ditarik oleh Radit sampai di bukit, ada
perempuan disana. Sepertinya
Frieska. "Dit, gak lucu! Gue capek!" ucapku setengah teriak tapi Radit tak
memperdulikannya. "Tasya ??" panggil Radit. Ia menoleh ke arah Radit.
"Ngapain gue di bawa kesini
sih ?" tanyaku dengan nada kesal. "Woles bro, gue mau nembak tu cewe" bisik Radit. "Tasya,
kenalin ini Niko, sahabatku.
Nik, ini Tasya, temen gue" ucap Radit memperkenalkan kami. Kami hanya terdiam saling
menatap, aku
benar-benar tidak tau harus
bicara apa saat itu. "Loh ? Malah diem ? Udah saling kenal ?" tanya Radit.
"Eh, enggak. Gue gak kenal
dia, oh iya kenalin aku Niko" ucapku. Frieska masih menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak
bisa membaca
apa maksudnya. "Frieska
Anastasia Laksani, kamu mau kan jadi pacar aku ?" ucap Radit, satu kalimat itu
benar-benar membuat hatiku
hancur, aku menyaksikan sendiri sahabatku menyatakan perasaannya pada kekasihku sendiri! Frieska
masih belum
menjawabnya. "Kok diem
?" tanya Radit. "Cewek diem tanda iya"
ucapku pelan, Frieska menatap ke arahku. "Yang bener bro ? Beneran ?" tanya Radit. "Iya bener,
yaudah lu beli makan dulu dah.
Laper nih" ucapku yang masih menahan rasa sakit di hati ini. "Yaudah, gue beli makan dulu ya.
Makasih Tasya!" ucap Radit
dan pergi meninggalkan kami berdua. "Se..selamat" ucapku. "Ka..kamu ngomong apa ? Udah jelas
aku gak nerima Radit,
aku sayang kamu" ucap Frieska menangis. "Kamu gak usah nangis, maafin aku" ucapku dan pergi
meninggalkan
Frieska sendiri. Setelah
kejadian itu, sudah 5 hari lebih aku tak pernah berkomunikasi dengan Frieska. Saat
malamnya aku
hanya duduk sendirian di bukit
saja, semua terasa sepi. "Aku sayang kamu" ucap seseorang dan tiba-tiba
memelukku.
"Frieska ? Nga..ngapain
disini ?" ucapku berbalik. "Aku gak bisa kayak gini terus, aku sayang sama kamu. Aku gak
akan pernah
bisa sayang sama Radit"
ucap Frieska. "Fries, maafin aku" ucapku lalu memeluknya, Frieska membalas
pelukanku *delusi banget
xD* Tiba-tiba seseorang menarik kerah bajuku dan memukulku hingga terjatuh. "Ngapain lu Nik
?!" ucap Radit, ternyata
itu Radit. "Dit, gue... gue, ini salah paham Dit" ucapku. Radit menarik dan memukulku lagi hingga
kepalaku
mengeluarkan darah. "Lu
pengkhianat Nik!" ucap Radit. Radit hendak memukulku lagi, tapi dihalangi oleh
Frieska hingga Frieska
terkena pukulan Radit hingga jatuh pingsan.
"Fries..Frieska ??" ucapku. Saat itu aku marah sebesar- besarnya. Hingga bangun dan membalas pukulan
Radit. "Lu gak tau
yang sebenernya!" ucapku memukul Radit. "Harusnya lu dengerin gue dulu!" ucapku memukul Radit
lagi. "Gue gak butuh penjelasan
lu!" ucap Radit memukulku. "Lu egois! Fak!" ucapku memukul Radit hingga terjatuh dan pergi membawa
Frieska
lewat pintu belakang hotel
agar tidak dilihat oleh siapapun. Setelah kejadian itu Radit pindah kamar.
**Dua tahun kemudian**
Sudah dua tahun berlalu, sekarang tanggal 25 Juni 2013. Dua hari lagi aku dan Shania berulang tahun, dan
katanya tanggal 01
Juli masa menjadi murid pertukaran telah selesai. Artinya kami akan pulang ke Indonesia bulan Juli tahun
ini.
Hubunganku denngan Frieska
masih bertahan, Radit kini kembali
menjadi sahabatku. Ia sekarang sudah tau apa yang terjadi sebenarnya, Radit sekarang bersama
Yupi, aku sempat tidak
rela untuk melihat orang yang selama ini masih menyimpan harapan padaku. Kini sudah memiliki orang lain,
tapi aku sadar kalau
itu hanya perasaanku saja. Banyak orang membicarakan Radit dan Yupi. Sesekali terdengar bahwa aku
ini adalah orang terbodoh
karena melepaskan Yupi begitu saja, aku terima omongan itu. Lagian gak ada untungnya juga
meladeni
perkataan orang seperti itu.
Saat siang hari dihari minggu, aku mengirim email pada Shania. "Shania ?
Rencananya bulan Juli tahun
ini kakak pulang, kamu harus tunggu kakak ya!" isi emailku padanya. Tidak ada balasan darinya,
bahkan Nabilah pun tidak
membalas email dariku. Aku memutuskan untuk berjalan- jalan disekitar bukit saja, disana aku melihat
Frieska sedang duduk
di tempat biasa kami bersama. Aku menghampirinya. "Hei ??" sapaku padanya, aku lihat
Frieska menghapus air matanya.
"Kamu kenapa ?" tanyaku. "Aku... aku gak apa-apa kok" jawabnya. "Yakin ?"
tanyaku. "Iya yakin, aku ke hotel duluan ya. Maaf gak bisa nemenin kamu
disini" ucapnya. "Tapi kamu beneran gak kenapa-napa kan ?"
tanyaku lagi. "Iya aku gak
apa-apa" jawabnya. "Eh beneran nih ?" tanyaku memaksa. "Iya beneran, aku gak apa-apa. Yaudah bye,
love you" ucapnya dan
berlari meninggalkanku. "Aneh ah" gumamku. 27 Juni 2013. "Shania!! Selamat ulang tahun!! Kamu mau
hadiah apa dari kakak
?" isi emailku pada Shania, tapi, sama seperti sebelumnya. Tetap tak ada balasan, kenapa ya ?
Aku
memutuskan untuk pergi ke
bukit saja, bosen sih kesitu mulu. Tapi ya mau kemana lagi :v Saat duduk di bukit.
"Happy
Birthday" ucap seseorang
di belakangku dan merangkul bahu ku. "Eh, Frieska. Iya makasih ya, emm
hadiahnya mana ?" candaku. "Hadiah
? Emang kamu mau apa hadiahnya ?" tanya Frieska. "Emm,, aku mau nya kamu sama aku terus,
hehe" ucapku. "I love
you, hehe" ucapnya. "I love you!!!" teriakku. "Eh iya, tadi aku kirim email ke Shania, ke Nabilah juga.
tapi gak dibales sama
dua-duanya. Kamu tau gak kenapa ?" tanyaku. "Eh aku.. aku gak tau" ucapnya gugup. "Ya kalau
gak tau gak usah gugup gitu
jawabnya, aku kan gak maksa kamu buat tau" ucapku sambil mencubit pipinya itu. "Iya, iya...
sakit tau" ucapnya kesal.
"Hmm, hehe. Maaf yak" ucapku. "Jalan-jalan yuk ?" ajaknya. "Kemana ?" tanyaku.
"Gimana kalau ke atas hotel ? Kayaknya asik" ucapnya. "Hmm, boleh
tuh. Yaudah, yuk" ucapku.
Saat ditengah jalan, tiba-tiba handphone Frieska berbunyi, sepertinya ada panggilan masuk.
"Dari siapa Fries ??" tanyaku.
"Dari kak Melody" ucap Frieska. "Angkat aja, siapa tau penting" ucapku. "Iya, sebentar
ya" ucap Frieska member sedikit
jarak dariku. Lama sekali pembicaraan Frieska dengan kakaknya di telepon. "Fries ? Aku duluan
aja ya ?" tanyaku. "Eh i..iiya, nanti aku nyusul. Maaf lama ya"
ucap Frieska. "Hmm, oke
gak apa-apa" jawabku dan segera ke atas hotel. Saat itu aku menunggu Frieska lama..... sekali.
"Fries ? Kenapa lama ?" isi smsku. Beberapa menit kemudian ada sms
masuk di hpku. "Niko,
maaf aku gak enak badan. Lain kali aja ya, maaf" balas Frieska. "Eh ? Kok tiba-tiba gitu ?"
balasku. "Aku enggak tau, maaf
ya" balas Frieska. "Hmm, yaudah nanti aku ke kamar kamu ya ?" balasku. "Eh, enggak usah. Aku
sama Yupi aja, makasih ya.
Love you" balas Frieska. "Hmm,, cepet sembuh ya. Love you too" balasku. "Frieska dari kemarin
sikapnya aneh banget, kenapa
ya ?" gumamku.
01 Juli 2013, akhirnya masa menjadi murid pertukaran ini sudah berakhir. Dan katanya tanggal 10 Juli kami akan
pulang ke
Negeri kami, ah aku sudah
tidak sabar ingin bertemu Shania. Malamnya "Fries, aku lagi di bukit nih.
Kamu kesini ya ?" isi smsku.
"Boleh, tunggu ya" balas Frieska. "Hey" sapa seseorang yang tak lain ialah Frieska. "Eh, Fries.
Sini duduk" ajakku. "Iya"
jawab Frieska. "Eh Fries, aku udah gak sabar buat pulang ke Jakarta. Aku kangen banget sama Shania"
ucapku. "Kamu sayang
banget ya sama Shania ?" tanya Frieska. "Eh ? Kamu ini nanya apa sih, jelas-jelas Shania itu adikku.
Adikku yang paling manis,
adikku yang sangat aku sayangi. Aku dan Shania tidak bisa dipisahkan oleh siapapun" ucapku.
"Apapun untuknya, bahkan
nyawaku sekalipun asalkan dia bahagia aku rela. Semua orang yang menyakitinya tidak akan aku ampuni,
meski itu veteran sekalipun" ucapku lagi, Frieska sedikit kaget
mendengarnya. "Eh ? Kenapa Fries ?" tanyaku. Frieska hanya terdiam, sesaat air matanya menyusul. "Eh
? Kok nangis ? Kenapa
?" tanyaku. "Enggak kok, aku... aku,, aku,, aku Cuma inget kak Melody sama Nabilah aja" ucap
Frieska menghapus air matanya
itu. "Oh gitu,, sebentar lagi juga kita pulang kok" ucapku dan merebahkan diriku dihamparan rumput
hijau itu.
"Iya aku tau, emm Nik. Maaf aku gak bisa lama, aku ke hotel duluan ya" ucap Frieska dan pergi
meninggalkanku. "Lah, dia aneh
lagi" gumamku. 10 Juli 2013, hari yang ku tunggu tiba. Semua telah dipersiapkan, tinggal berangkat
menuju bandara. Di
bis, aku duduk dengan Frieska. Ahh aku sudah tak sabar ingin bertemu Shania.... Sampainya di bandara.
Aku berlari dan segera
duduk di kursi lobby. "Shania... kakak pulang..." gumamku sambil menatap fotonya. "Shania
siapa ?" ucap seseorang
ikut duduk disebelahku. "Eh, Shania adikku. Ka..kamu ? Siapa ?" tanyaku kaget pada
gadis itu. "Aku Rena Nozawa,
maaf udah buat kamu kaget. Oh iya nama kamu ? Siapa ?" tanyanya, dia polos, lugu,
cantik, wahhh. "Eh aku Niko,
Rena ? Kamu orang Jepang ya ?" tanyaku. "Iya aku orang Jepang, aku baru aja pulang dari Indonesia.
Emm, aku habis jadi
murid pertukaran di Indonesia" jelasnya. "Wahh sama dong, kalau aku di Jepang. Eh Rena, udah dulu ya
ngobrol nya. Aku siap-siap
mau berangkat pulang, senang ya kenalan sama kamu" ucapku dan pergi berjalan meninggalkannya. Saat
berjalan
tanganku ditahan olehnya.
"Niko, umm... kita bisa foto bareng gak ? Buat kenang-kenangan, di hp kamu sama aku
?" pintanya dengan
wajahnya yang polos itu. "Oh iya, boleh banget Rena" jawabku. Kami pun berfoto bersama, di hpnya
Rena, dan aku. "Makasih
ya Niko" ucapnya. "Iya, yaudah aku pergi dulu ya. Bye!!" ucapku dan berlari menyusul yang
lainnya. "Nanti kita ketemu
lagi yaaa!!!" teriaknya. "Iyaa!! Pasti!!" teriakku. Di dalam pesawat aku duduk dengan Frieska.
"Rena Nozawa, hmm...
nama yang lucu, seperti orangnya" gumamku. Aku terus memandangi hp-ku itu, aku terus memandangi
fotoku bersama Rena
itu. Sampai aku lupa aku sedang bersama pacarku. "Itu yang sama kamu siapa ?" tanya Frieska.
"Eh ini, dia temanku. Rena
namanya, dia asli warga Jepang. Orangnya lugu, cantik, dan polos, aku baru saja kenal dengannya"
ucapku. "Baru kenal udah
di puji, pake minta foto segala lagi" ucap Frieska. "Ehh,, kamu kok gitu, lagian aku gak minta kok, dia
sendiri yang
minta. Kamu jangan marah dong,
aku gak akan liat-liat foto itu
deh. Suerr" ucapku. "Hmm, resiko sih ya" ucap Frieska. "Resiko ? Resiko apa ?" tanyaku.
"Resiko punya pacar pinter, ganteng, baik, ya kayak gitu, sekali deket,
sekali kenal banyak yang
ngeceng. Tau ah" ucapnya memalingkan wajahnya ke arah jendela pesawat. *kapan lagi gue di puji member
:v* "Jangan marah
dih,,, jelek ahh" ucapku. "Tau ah, ngantuk. Aku mau tidur" ucapnya dan memejamkan matanya.
"Ah yaudah, aku juga tidur
aja" ucapku dan ikut tidur. Tidak terasa sudah sampai di bandara Indonesia. Aku segera berlari keluar
bandara dan
berlari menuju bis. Sampainya
di bis aku duduk tak bisa diam seperti
cacing kepanasan, rasanya aku ingin cepat-cepat bertemu adik kesayanganku itu. Shaniaaa.....
"Nik, buru-buru banget"
ucap Frieska dan duduk disebelahku. "Iya hehe, aku gak sabar banget pengen ketemu Shania"
jawabku. Frieska tak menjawab,
ia hanya duduk dan memainkan hpnya itu. Bis mulai berjalan, menuju sekolahku. Murid sebanyak 100
orang ini
dikumpulkan disekolahku. Sampainya
disekolah, disana terlihat Melody,
Nabilah, dan tunangan Melody itu. Tapi tidak ada
Shania, iya Shania. Kemana dia? "Shania dimana ? Kenapa dia gak ikut ?" tanyaku, semua diam tak menjawab.
Tiba-tiba
Nabilah memelukku dan
menangis. "Loh kenapa nangis Bil ?? Hey ??" tanyaku mengusap kepalanya.
Nabilah menarikku, entah
kemana. Frieska, Meldoy, dan tunangannya mengikuti dari belakang. Ternyata Nabilah membawaku ke
sebuah
pemakaman, ia berhenti tepat
disebuah makam. Sepertinya masih
baru, hanya saja ditutupi oleh kain putih. Nabilah duduk didepan makam itu. "Shania, kak Niko udah
pulang. Kamu gak kangen
?" Nabilah berbicara sendiri. "Shania ? Apa maksudnya ? Shania ? Shania apa Bil ?!!" teriakku.
Nabilah membuka kain putih
itu, tepat saat dibuka. Nisan itu bertuliskan Shania Junianatha. "Bil! Kamu lagi gak bercanda
kan Bil ?!!" teriakku lagi.
"Maafin Nabilah kak" ucapnya menunduk. "Shania udah gak ada" ucap laki-laki itu. "Jaga
omongan kamu! Shania gak mungkin
ninggalin aku!" ucapku. "Itu be..bener kak, maafin Nabilah" ucap Nabilah. "Sekarang
jelasin. Kalau emang ini makam
Shania, kenapa Shania ? Kenapa Bil ?" tanyaku. "Bulan lalu Shania demam, Nabilah sama kak Melody udah
bawa Shania
ke rumah sakit. Setelah
seminggu dirumah sakit, demam Shania semakin tinggi. Saat itu Nabilah sama kak
Melody memutuskan untuk
menginap di rumah sakit, karena seminggu sebelumnya Shania bersama suster. Nabilah dan kak Melody
khawatir terjadi apa-apa dengan Shania. Malam itu, Shania bilang dia pusing. Shania mau makan bubur yang suka dibeliin kakak
sewaktu
Shania sakit. Nabilah udah
minta izin ke dokter, kata dokter Shania boleh makan bubur dari luar. Saat
Nabilah dan kak Melody membeli buburnya, kak Melody mendapat telepon dari pihak rumah sakit bahwa Shania sudah meninggal
kak. Kakak,
maafin Nabilah" jelas
Nabilah. Saat itu emosi ku sudah mencapai ujungnya. "Kenapa kakak gak dikasih tau
soal ini Bil ?!" teriakku.
"Shania yang memintanya kak" ucap Nabilah menunduk takut. Aku berjalan menghampiri Frieska.
"Jadi ini ? Alasan kenapa
kamu aneh! Setiap aku bercerita tentang Shania kamu selalu aneh! Ini jawabannya ?!" bentakku.
Frieska hanya menunduk
menangis. "Jawab Fries!!!" bentakku. Bruk!!! tiba- tiba tunangan Melody itu memukulku hingga aku
terjatuh.
"Kamu gak boleh gitu! Gak
seharusnya seorang laki-laki membentak
seorang perempuan!" teriaknya. "Terserah! Kamu gak akan tau rasanya kehilangan seseorang yang
penting dalam hidup
saya! Seseorang yang berarti dalam hidup saya! Seseorang yang membuat saya menghargai hidup
ini!
Tanpanya ? Tanpanya saya gak
bisa! Saya gak bisa hidup tanpa Shania!
Anda tau itu!" ucapku sambil berdiri. Bruk! Baru saja aku berdiri, tunangan Melody itu memukulku
untuk yang kedua kalinya
hingga aku terjatuh kembali, dan kali ini mulutku mengeluarkan darah. "Seharusnya kamu
jangan keras kepala!" teriaknya.
"Anda tau apa tentang saya hah ?! Anda tau apa tentang keluarga saya ?!!" teriakku dan
mencoba berdiri. Bruk! Untuk
yang ketiga kalinya laki-laki itu memukulku hingga aku terjatuh kembali. "Kalau kamu kayak gitu,
Shania gak akan pernah
tenang disana!" teriaknya. Cuh!! Aku hanya meludah ke arah sepatu tunangan Melody itu. Ia hendak
memukulku lagi, namun
terhalang oleh Nabilah. "Kakak! Kakak jangan pukul kak Niko lagi! Kakak jahat!" ucapnya
memelukku. "Nabilah, kakak gak
apa-apa. Nabilah sama kak Melody ya" ucapku menyuruhnya. Aku berdiri menghampiri Frieska.
"Aku benci kamu
Fries, aku benci!" ucapku dan pergi meninggalkannya. "Niko!!" teriaknya namun aku
menghiraukannya. Aku pulang kerumahku,
aku masih tidak percaya Shania pergi meninggalkanku. "Shania!! Kamu dimana ??!!
Kamu di dalam kan!!
Shania!! Kakak udah pulang!! Kamu gak kangen ?? Shania!!!" teriakku didalam rumah.
Ternyata memang benar, Shania
sudah tidak ada disini, disisiku, didunia ini. Secepat itu kah ? Aku merasa Shania cepat sekali
meninggalkanku, Shania gadis
kecil yang sejak lahir bersamaku, aku merasakan keberadaan adik kecil yang manis ini didalam
hidupku, hidupku lebih
berwarna akan kehadirannya, hidupku terang akan kehadirannya. Kini Shania pergi,
meninggalkanku, apa mungkin hidupku
akan kelabu ? Ataukah cahayanya akan padam dari hidupku ? Perlahan namun pasti hidupku akan
berubah drastic saat
Shania tak ada disisiku.
Saat petang di hari itu, aku pergi ke makam Shania. Aku melihat Frieska disana, aku menghampirinya.
"Ngapain kamu disini
?" tanyaku. "Nik, a..aaku, aku minta maaf" ucapnya gugup. "Kamu gak perlu minta maaf, yang
harus kamu lakukan sekarang
adalah pergi dari sini" ucapku memalingkan wajahku darinya. "Tapi aku, aku" ucap Frieska
gugup. "Aku apa ?! Fries, aku
mau berdua sama Shania. Aku minta kamu pergi dari sini, dan jangan pernah temui Shania disini!"
bentakku. "Kamu berubah
Niko!" ucap Frieska dan berlari meninggalkanku. "Maaf Fries, aku minta maaf" gumamku. Aku duduk
didekat makam Shania.
"Kamu keganggu ya tadi ? Maaf ya sayang, kakak gak maksud buat keributan disini. Shania,,, kenapa
Shania pergi, bukanya
Shania udah janji mau nungguin kakak sampai kakak pulang ?" ucapku mengusap nisannya yang
bersih itu. "Hmm, Shania
selalu meminta kakak untuk berjanji agar selalu bersama Shania disini, dan kakak menepatinya
kan ? Shania
juga berjanji untuk selalu
bersama kakak disini. Tapi kenapa ? Kenapa Shania ingkar janji, kenapa ? Terus,
kenapa Shania gak bilang
kalau Shania lagi sakit ? Shania lagi butuh kakak disamping Shania. Kakak berhak tau keadaan kamu
Shania....
Terus waktu liburan ? Siapa
yang ngasih 20 permintaan lagi ke kakak ?" ucapku lagi di depan makan
Shania. "Terimakasih Shania,
terimakasih atas janji dan semua kebohonganmu" ucapku dan berjalan meninggalkan makam Shania.
Malam
harinya aku tidur di kamar
Shania. "Shania, kakak kangen kamu. Kakak sendiri disini" ucapku
berbaring dan membalikan badanku
menghadap dinding. Angin berhembus kencang, aku bisa merasakan Shania memelukku saat itu.
"Kakak, Shania ada disini.
Selalu ada disini" suara itu terdengar, suara yang tak asing lagi bagiku. "Shania..." ucapku
lirih dan memejamkan mataku.
Seminggu kemudian, aku sedang berada di makam Shania. "Hey, kakak bawa bunga kesukaan kamu" ucapku
menaruh bunga melati
putih kesukaannya. "Shania, Shania lagi apa ? Shania,,, kakak kangen kamu. Kakak gak bisa tanpa kamu
Shania..." ucapku.
"Kakak" panggil seseorang dari belakang, ternyata itu Nabilah. "Nabilah ? Ngapain disini ?"
ucapku padanya, ia juga bersama
tunangan Melody. "Kakak jangan sedih ya, kalau kakak sedih Nabilah juga sedih. Shania juga pasti
sedih" ucapnya memelukku.
"Makasih ya adik manis, kakak gak sedih kok" ucapku. "Bil pulang yuk, udah sore. Nanti
kakak nyariin" ucap laki-laki
itu. "Iya kak, sebentar ya" ucap Nabilah. "Kak Niko, ini ada surat dari Shania. Nabilah temuin di meja
belajarnya, di rumah
Nabilah. Dan yang ini dari kak Frieska, dibaca ya kak, Nabilah pulang dulu" ucapnya dan berlari
menuju tunangan Melody
itu. "Dua pukulan waktu itu saya minta maaf, jadikan pelajaran untukmu" ucap laki-laki itu
seraya berjalan menuju mobilnya.
Aku hanya mengangguk dan membaca surat itu, pertama dari Frieska. Sepertinya masih baru.
"For: Niko"
Sudah satu minggu lebih kamu marah sama aku. Bahkan aku tidak boleh menemui Shania. Niko, aku minta
maaf. Aku sadar aku
salah, aku udah bohong sama kamu. Shania memintaku untuk tidak memberitau kamu soal ini, Shania
gak mau kamu
khawatir Nik. Shania adik yang
baik, kamu beruntung punya adik
seperti Shania. Niko, aku sayang kamu. Walau kamu semarah apapun sama aku, aku tetep sayang kamu.
"From: Frieska Anastasia L"
Itulah isi surat dari Frieska. "Aku gak tau Fries, aku gak tau sekarang perasaan aku ke kamu ini aku gak tau.
Aku kecewa
sama kamu, tapi aku sayang
kamu. Maafin aku" gumamku. Sekarang
saatnya membaca surat dari Shania.
"Untuk kakakku sayang, Niko Christian"
Halo kak ? Gimana kabarnya ? Pasti kakakku ini semakin keren dan ganteng, tapi meskipun begitu, aku yakin
kakak belum bisa menyusul
rankingku. Iya kan ? Hahaha, hmm kakak, mungkin kalau kakak udah baca surat ini, pasti Shania
udah gak ada
disisi kakak ya. Shania minta
maaf, Shania gak bilang kalau Shania
lagi sakit. Saat itu Shania butuh..... sekali kakak disamping Shania, tapi Shania tau kakak sedang
belajar disana. Shania
gak mau kakak khawatir disana, Shania gak mau ngerusak konsentrasi kakak belajar di Jepang.
Kakak jangan
marah sama Nabilah, kak
Melody, kak Marka, dan kak Frieska ya, mereka yang mengurus Shania saat Shania
sakit. Kak
Frieska yang selalu menanyakan
kabar Shania, Nabilah yang selalu
ada untuk Shania, kak Melody, kak Marka, semuanya baik pada Shania. Kakak, Shania sayang..... banget
sama kakak,
kakak itu kakak terhebat yang
Shania miliki. Shania bahagia.... sekali bisa punya kakak baik, pintar, dan hebat
seperti kakak. Sekarang
kakak jangan khawatir ya, pasti Shania udah sama mama dan papah disini. Kakak, Shania kangen
sama kakak.
Kakak kangen gak sama Shania ?
Yang harus kakak tau, Shania bangga
sekali punya kakak seperti kakak Niko. Kakak Niko yang selalu ada disaat Shania senang dan sedih.
Kakak, Shania sayang.......
sekali sama kakak. I love you kakak. I love you"
"Dari adikmu yang manis ini, Shania Junianatha"
Aku menangis, aku menangis sejadi-jadinya setelah membaca surat itu. Surat terakhir yang ditulis oleh
seorang adik kecil yang
manis untukku. Aku berjalan perlahan meninggalkan makam Shania. Entah mengapa, rasanya kaki ini
tidak mau
meninggalkan makam adikku itu.
Aku menghentikan langkahku, aku
benar-benar tidak ingin jauh dari Shania. Aku benar-benar tidak ingin meninggalkan makam Shania.
"Shania!! Kamu pembohong!
Kamu jahat! Kamu ingkar janji Shania! Mana janji kamu yang selalu kamu ucapkan Shania!! Shania!!
Kakak gak
mau kamu pergi!! Kakak gak
bisa tanpa kamu Shania!! Shaniaa!! Pulang Shania!!!" teriakku dan memaksakan
kaki ini untuk berlari
meninggalkan makam Shania. Setelah kejadian itu, aku menjadi seorang yang pemurung, pamanku sudah
pernah
menjemputku untuk kembali ke
Solo, namun aku tak mau, aku bahkan
menyuruhnya untuk tidak usah menengokku disini. Frieska, Nabilah, Melody, mereka sering sekali
ke rumahku,
namun aku tidak menyambut
mereka dengan pantas, aku hanya diam,
diam tak bersuara, tak ada lagi semangat di diri ini untuk hidup, kenangan aku bersama Shania begitu
indah, terlalu banyak
kenangan saat aku bersama adikku. Sehingga begitu sulit dilupakan, Shania... terimakasih atas
janji dan semua kebohonganmu.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar