Baca: Matius 21:23-27
Di dalam pengadilan, terdakwa atau
saksi disumpah untuk mengucapkan
kebenaran dan tak ada yang lain kecuali
kebenaran. Saat mereka mengabaikan
kebenaran, hal itu berdampak buruk
kepada diri sendiri juga orang lain. Para imam dan tua-tua Yahudi dalam bacaan
hari ini telah mengabaikan
kebenaran. Apa yang terjadi ketika kita
mengabaikan kebenaran?
Pertama, kita menjadi tidak fokus
terhadap hal yang esensial. Para pemuka Yahudi ini mendatangi Yesus saat Ia mengajar. Mereka mempertanyakan sumber kuasa Yesus di dalam menyembuhkan orang sakit (14), menyucikan Bait Allah (12-13), dan mengajar (23). Pertanyaan mereka
menunjukkan bahwa mereka tidak
memedulikan kebenaran. Mereka
berkeras hati menolak kebenaran yang
sudah nyata. Yesus mengajak mereka kembali membicarakan kebenaran. Ia
tidak menjawab pertanyaan mereka
secara langsung. Ia menjawab dengan
memberikan pertanyaan tentang
Yohanes Pembaptis karena Yohanes
Pembaptis mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Kalau mereka mengakui bahwa Yohanes Pembaptis dari Allah, mereka harus mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, sehingga memiliki kuasa untuk melakukan apa yang Ia lakukan.
Kedua, kita bisa jatuh di dalam
pragmatisme. Para pemuka Yahudi ini
telah jatuh ke dalam pragmatisme, yang
hanya mementingkan hasil akhir tanpa
memedulikan benar tidaknya cara yang
ditempuh. Tujuan mereka bukan mencari kebenaran, tetapi apa yang
menguntungkan mereka. Orang yang
lebih mementingkan keuntungan diri
sendiri daripada prinsip, biasanya tidak
akan menanyakan apakah sesuatu itu
benar, tetapi hanya apa yang aman untuk dikatakan. Pragmatisme juga telah membuat mereka tidak takut kepada Allah, sehingga mereka berani berdusta (27), sekalipun mereka sebenarnya tahu apa yang benar yang harus dikatakan.
Marilah kita mengarahkan hidup kita
pada kebenaran firman Tuhan dan
menjauhkan diri kita dari pragmatisme,
melihat setiap aspek kehidupan kita dari sudut pandang kebenaran firman Tuhan.
Dikutip dari Santapan Harian. Hak Cipta :
Yayasan Persekutuan Pembaca Alkitab.
Isi Santapan Harian lainnya seperti pengantar kitab, artikel ringkas, sisipan,
dlsb. Dapat diperoleh dengan membeli
buku Santapan Harian dari Yayasan PPA: Jl. Pintu Air Raya No 7 Blok C4, Jakarta
10710, ph:3442461-2; 3519742-3; Fax:
344972; email: ppa@ppa.or.id. Informasi lengkap : PPA di: http://www.ppa.or.id
sumber: Klik!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar