Sore ini terasa sepi. Bagaimana tidak orangtuaku pergi ke bandung,
biasa tugas pekerjaan. Aku masih santai duduk di teras depan ditemani
kucing anggora lucu pemberian om vian setahun yang lalu.
Sampai kudapati
sosok itu, sosok yang ku kagumi setahun terakhir. Yap… dia tampak
ganteng dan lucu dengan baju taqwa putih dan sarung merah bermotif
kotak-kotak. Selalu demikian, aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Apa
aku terlalu malu untuk mengakui bahwa aku benar-benar menyukaimu
sekarang?
Kulirik jam di tangan yang menunjukkan pukul 09.09 wib. Aku mencarimu
sekarang, sebenarnya aku ingin mengajakmu makan berdua, bukan di kantin
sekolah. Tapi, di taman sekolah, hari ini aku bawa sandwich keju. Hm…
delecious banget. Aku Cuma ingin membaginya hanya denganmu. Entah kenapa
kau masih duduk di bangkumu dengan membawa kuas dan buku gambar, kau
menggores-gores kuas itu di buku tersebut. Tebakanku benar, kau
menggambar sesuatu. Apa yang sedang kau gambar? Apa kesibukanmu
menggambar ini yang membuatmu ditegur guru tadi saat pelajaran
berlangsung? Aku penasaran kau menggambar apa? Walau aku malu, aku tak
ingin melihatmu kelaparan hanya gara-gara kegiatan menggambar yang
menyita waktu belajar dan makanmu. Maka aku tak kehabisan akal
kusodorkan kotak makan yang berisi satu sandwich padamu setelah yang
satunya kumakan. Kau mendongak menatapku lalu menerimanya dan berucap
terima kasih. Sungguh, kau tahu apa yang tengah kini ku rasakan?
BAHAGIA. Aku tak menyangka kau mau makan sandwich buatanku bersama
bunda, kau kembali pada gambaranmu yang belum jadi walau sandwich di
tanganmu habis. Kau masih tetap. Senang, kau mau menghargai pemberianku.
Seperti biasa, setelah aku bangun tidur sore, aku duduk-duduk di
teras depan. Untuk apa? menunggumu keluar dari rumah menuju masjid. Itu
sesuatu yang paling kusuka. Melihatmu lagi setelah di sekolah. Kata
Dinda, jatuh cinta itu seperti makan brownies buatan maminya, yaitu
manis dan legit. Seperti perasaanku saat ini padamu, di setiap bersama
kamu adalah moment-momen termanis dalam hidupku. Aku masih ingat, saat
kita berdua melihat hasil karya anak kelas yang ditempel dengan kreatif
dan bagus di kaca besar belakang kelas. Disana ada gambar-gambar lucu,
aku tahu teman-teman kita memiliki bakat dalam menggambar ada satu
gambar yang membuatku tersenyum kagum, siapa lagi? Kalau bukan gambarmu.
Dalam gambar tersebut, ada keluarga bahagia, ayah, ibu, adek dan kakak.
Itukah gambarmu? Aku suka sekali. Dan yang paling membuatku bahagia
adalah ketika kau memandangku tepat pada saat itu. Apa yang kau lihat,
sungguh tatapanmu itu membuatku deg-degan. Tapi, semua segera mencair
saat kau menunjukkan senyum khasmu itu, senyum yang selalu membuatku
salah tingkah dibuatnya. Semoga, lambat laun kau mengerti tentang rasa
ini.
Aku segera berlari menuju gedung kosong di belakang sekolah. Dalam
pikiranku hanya satu, ada apa denganmu? Aku benar-benar khawatir. Dinda
sahabatku memberi tahuku kalau kau sedang berkelahi melawan geng Adi
yang terkenal kejam dan nakal seantero sekolah. Hei… apa yang kamu
lakukan? apa kamu tak tahu aku sangat khawatir dengan semua ini? aku
harap kau mengerti itu. Aku mulai mendekatimu, setelah gerombolan geng
Adi keluar gedung. Kau terlihat kesakitan dengan memicingkan mata, darah
segar tepat keluar di area bibir. Uhh.. itu tambah membuatku iba. Aku
duduk tepat di depanmu. Walau aku tau, mungkin kau bertanya-tanya kenapa
aku ada di sini. Apalagi kalau bukan menemanimu, menjagamu dan ikut
merasakan sakitmu. Aku berusaha secepat mungkin merogoh tas kecilku,
mencari sapu tangan biru laut kesayangan ku untuk membersihkan darah
yang semakin banyak keluar, dan aku temukan itu. Aku mencoba sepelan
mungkin membersihkan darah di bibirmu. Oh Tuhan… rasanya aku ingin
menangis juga kalau lihat dia seperti ini.
“Auw….” pekikmu pelan seketika itu, aku langsung melepas usapan sapu tanganku.
“Maaf Rain.” Kataku lirih.
“Iya, nggak apa-apa.” Katanya sembari membenahi posisi duduk. Yang bersandar di pojok ruangan. Aku memulai lagi membersihkan bekas darah di bibirnya.
“Auw….” pekikmu pelan seketika itu, aku langsung melepas usapan sapu tanganku.
“Maaf Rain.” Kataku lirih.
“Iya, nggak apa-apa.” Katanya sembari membenahi posisi duduk. Yang bersandar di pojok ruangan. Aku memulai lagi membersihkan bekas darah di bibirnya.
“udah bersih. kamu.. mau ikut aku ke kelas?.” Tanyaku.
“enggak. aku masih pengen disini” jawabmu pelan. Sepelan peluh yang menetes di dahimu.
“baiklah, aku pergi dulu.” kataku seraya beranjak keluar, walau sebenarnya aku ingin menemanimu sepanjang hari. Tapi, aku tahan aku takut mengganggumu.
“Deranda..” panggilmu. Sontak aku menoleh padamu seketika.
“iya..?”
“em… makasih ya” katamu. Sungguh itu yang dari tadi ku inginkan keluar dari bibir kecil nan merahmu itu. Menghargai dan menganggapmu ada.
“iya,.. Rain” jawabku sambil tersenyum. Akupun keluar dari gedung kosong itu dengan perasaan yang bahagia. dan kini kau benar-benar keluar dari rumahmu. Tapi, baju taqwamu berbeda warna sekarang. Abu-abu dan kopyahmu, waw… kopyah baru ya..? kamu tampak lebih cakep dan lebih lucu. Rain… aku suka kamu.
“enggak. aku masih pengen disini” jawabmu pelan. Sepelan peluh yang menetes di dahimu.
“baiklah, aku pergi dulu.” kataku seraya beranjak keluar, walau sebenarnya aku ingin menemanimu sepanjang hari. Tapi, aku tahan aku takut mengganggumu.
“Deranda..” panggilmu. Sontak aku menoleh padamu seketika.
“iya..?”
“em… makasih ya” katamu. Sungguh itu yang dari tadi ku inginkan keluar dari bibir kecil nan merahmu itu. Menghargai dan menganggapmu ada.
“iya,.. Rain” jawabku sambil tersenyum. Akupun keluar dari gedung kosong itu dengan perasaan yang bahagia. dan kini kau benar-benar keluar dari rumahmu. Tapi, baju taqwamu berbeda warna sekarang. Abu-abu dan kopyahmu, waw… kopyah baru ya..? kamu tampak lebih cakep dan lebih lucu. Rain… aku suka kamu.
Siang ini aku rencana pulang ke rumah sendiri. Aku ingin merasakan
enaknya naik bemo. Dan sebenarnya siang ini aku ingin mengajakmu naik
bemo bersama. Pulang bersama, hanya berdua. Tapi, bunda melarang keras
keinginanku itu. Katanya bahaya naik bemo. Uhh.. aku bete banget, pengen
marah. Aku duduk di kursi tunggu penjemputan. Rasanya sekarang tinggal
aku yang sendirian menunggu jemputan.
“Deranda…” panggil suara yang tak asing bagiku. Aku mendonggak
perlahan melihat si pemanggil itu yang tengah berdiri di sampingku.
“Rain..” kataku, senyumku mengembang seketika. Ia kemudian duduk di
sampingku dengan bibir dan sekitar pipinya yang membiru, ia berusaha
mengatakan sesuatu padaku.
“nggak pulang?”
“ini, masih nunggu mama.” Jawabku. Ia berusaha membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu.
“ini…” kata Rain, seraya menyodorkan kotak makan yang seminggu lalu
kuberikan beserta isinya, sandwich padanya. Ia juga mengeluarkan sapu
tanganku.
“ini juga. Makasih untuk semuanya ya?” katanya.
“iya, udah sembuhkan kamu?”
“oh… ini” tunjuk Rain pada pipi kanannya. Aku tertawa kecil melihatnya polos.
“jangan nakal Rain.” Kataku.
“jangan nakal Rain.” Kataku.
“ah… aku nggak nakal, para geng nya Adi itu yang keterlaluan.”
Aku tersenyum lebar. “Iya deh..” jawabku seraya menatap gerbang yang masih tak kutemukan mama yang menjemputku disana.
Aku tersenyum lebar. “Iya deh..” jawabku seraya menatap gerbang yang masih tak kutemukan mama yang menjemputku disana.
“Dera…” panggilnya kembali.
“iya..” jawabku.
“iya..” jawabku.
“ini buat kamu..!” kata Rain menyodorkan selembar kertas gambar. Aku membukanya perlahan. Oh My God.. itu adalah gambarku.
“ini apa?”
“itu kamu sama aku.” Jawabnya. Benar saja dalam gambar tersebut ada cowok dan cewek bergandengan tangan. apa maksudnya?
“ini apa?”
“itu kamu sama aku.” Jawabnya. Benar saja dalam gambar tersebut ada cowok dan cewek bergandengan tangan. apa maksudnya?
“aku suka kamu.” Kata Rain padaku. Aku menatapnya lekat. “jadi terima gambar itu ya!” katanya.
Aku tersenyum “aku juga..” kataku.
“iya..?” tanyanya dengan mata melotot.
“hehe… iya.”
Tiiinnn… Tiiinnn… Tiiinn…
“Wah… mamiku udah jemput, Dera. Aku pulang dulu ya? besok, aku akan
berangkat pagi, sebelum acara perpisahan TK HARAPAN BUNDA dimulai, aku
udah ada disini. Aku kan ikut pentas drama. Jadi pangeran.” katanya
beranjak berdiri.
“iya.. Rain. Aku ingin naik bemo sama kamu!” kataku.
“Sama. Aku janji kalau kita udah besar nanti seperti Bu Guru, aku akan mengajakmu keliling dunia.” Katanya.
“tapi.. kalau kita udah besar kan? jadi, kita boleh jalan bersama. Kalau aku udah besar seperti mamaku.”
“dan aku seperti papaku.” Katanya. “aku pulang dulu yaa?” lanjutnya.
“iya..” jawabku.
Ia pergi sambil melambaikan tangan perlahan, tak lama kemudian, bunda
menjemputku pulang. Kami berdua pulang dari sekolah tercinta kami, TK
HARAPAN BUNDA yang telah mempertemukan kami. Aku ingin tidur pulas malam
ini. Agar besok pagi aku bisa melihat Rain tampil sebagai pangeran
impian.
Aku sayang kamu Rain…
THE END
Cerpen Karangan: Berlian Apriliana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar