CERPEN PERSAHABATAN – KALIAN JAHAT
Kini Trio Via masuk kelas dengan
penampilan yang berbeda. Mereka pake akseseoris baru, yaitu gelang tiga warna melingkari
pergelangan tangan mereka. Ungu, biru, kuning. Anak-anak cepat menangkap karya
tiga sahabat itu.
“ Wika, apa itu di tanganmu?” Tanya Ferdi, wartawan
kelas.
“ Ini gelang persahabatan antara aku dan
sahabat-sahabatku, Revina dan Silvia.” Jawab Wika.
“ Mau dong?” pinta Tiara.
“ Boleh. lain kali bikin aja.”
Teman-teman cepat mengerubungi tri sahabat itu.
Mereka Tanya-tanya di mana bikinnya, berapa harganya. Wika jelasin kalo itu
buatan mereka bertiga. Gak dijual di toko. Gelang itu buat pengingat sahabat
karena mereka nanti bakal pisah kelas. Jadi gelang itu buat tanda persahabatan.
Teman-teman antusias jadi pingin ikutan-ikutan bikin.
“ Jadi tiga warna ini berarti warna-warna favorit
kalian masing-masing?” simpul Ferdi.
“ yap!” Sahut Wika mantap.
“ Kalian jahat!”
Semua terdiam kaget oleh komentar tak terduga itu.
Mereka mencari asal suaranya. Biasanya sih Runa, si mulut cabe. Tapi Runa dan
gengnya nggak keliatan. Yang ada malah seorang cewek berambut pendek bando
kuning seperti Song Hye Hyo, Citra.
“ Citra, apa maksudmu?” Wika bersuara duluan.
” Kalian bikin gelang buat kalian kok nggak ngajjak
aku sih? Kalian teganya bikin acara nggak ngajak-ngajak aku! Kalan anggap
aku? Emangnya aku bukan sahabat kalian? Padahal aku udah anggap kalian
sahabatku sendiri. Kalian malah bikin acara dan bikin gelang kenang-kenangan
nggak bilang-bilang!”
“ Mana kita tahu? Kamu selama ini nggak pernah
ngumpul. Nggak pernah main sama kita-kita. Nggak pernah bantuin masalah
kita-kita. Kemarin kamu nggak ngerasain susahnya masalah kita, nggak bantu atasi
masalah kita, malah minta hadiah.” Ujar Silvia.
“ Aku selama ini nungguin kalian
datang. Kemarin waktu seminar aku udah
datang duluan biar kalian ada tempat kalian malah duduk di belakang terus pergi
lagi di tengah seminar padahal acara masih belum selesai. Aku nungguin kalian
tahu!”
“ Kita emang nggak suka matematika. Masak orang gak
suka harus dipaksa. Terserah kita dong mau ke mana!” kilah Silvia.
“ Kalian bukan temanku lagi! Pokoknya hubungan kita
putus!” Citra berbalik pergi keluar kelas.
“ Terserah!” tukas Silvia.
“ Eh, Silvia, bukan gitu!” Kata Wika. Ia lekas
mengejar Citra sedangkan Revina menegur cewek tomboy itu.
Citra berjalan cepat di koridor. Air matanya mulai
keluar. Bener-bener sialan mereka. Tega-teganya mengkhianati persahabatan
mereka. Bikin acara nggak bilang-bilang! Sekarang Silvia malah melawannya
habis-habisan. Aku nggak mau lagi temenan sama mereka. Citra cepat mengusap air
matanya biar nggak dilhat anak lain.
“ Cit, tunggu! “ panggil Wika. Leader trio via itu
sampai di belakang Citra. Dia berlari menyusul Citra.
“ Citra! Dengerin dulu! Bukan gitu maksud
kita-kita. Kita sama sekali nggak bermaksud nggak nganggep kamu teman. Kita
tetep teman kamu.” Wika mencekal tangan Citra.
“ Udah! Lepasin! Kamu sama aja sama Silvia, bahkan
Runa sekalipun!” Citra mengibaskan tangannya melepaskan pegangan Wika. Dia
mendorong Wika.
“ Citra, dengerin!” Wika berlari mendahului Citra.
Begitu di depan Citra, ia berujar,” Citra, kamu harus dengerin alasannya. Kamu
nggak boleh nuutup telingamu dari kata-kata sahabatmu sendiri kalo kamu
masih nganggep kamu sahabatmu.”
Citra akhirnya mau diam menatap Wika.
“ Cit, maafin kami. Kami lupa nggak ngikutin kamu
dalam bikin gelang itu. Semua itu karena Cuma kami mikirin apa yang ada
waktu itu. Yang ada Cuma kami bertiga. Kalo misalnya kamu waktu itu kamu ada
kami pasti bikini gelang kamu juga. Kami juga nggak tahu warna favoritmu.”
“ Warna favoritku kuning!” potong Citra.
“ Nah, berarti warna favoritmu udah ada di gelang
kan?” Wika mengangkat tangannya nunjukin kalo di gelang itu ada warna Citra.
“ Aku bener-bener minta maaf. Aku nggak tahu kalo bias
sampe salah paham begini. Sumpah Demi Alloh aku nggak tahu kamu bakalan
tersinggung soalnya selama ini kamu jarang ngumpul. Kamu ikut main dulu waktu
ke perpustakaan kutub itu doang.”
Citra menunduk.
“ Sekarang kamu mau maafin?” Wika mengulurkan tangan.
Pelan-pelan dan ragu Citra menjabat. Wika cepat
menangkapnya. Baru setelah itu Silvia dan Revina muncul.
“ Kamu itu sering-sering ngumpulo, biar kita nggak
ngelupain kamu. Kalo kamu ikut kami pasti bikin kamu akeseoris kamu juga.”
Nasehat Silvia. Biarpun kasar kena juga.
“ Tapi aku harus belajar. Kan kita harus belajar buat
besok?”
“ Apa harus 24 jam? Apa setiap hari?” Tanya Sivia.
Citra tak bisa menjawab. Urusan debat otaknya lumpuh,
tapi kalo argumen dia bisa cepat.
“ Kita nggak lama kok, Cit. Cuma 1- 2 jam.
Sepulang sekolah, pas istirahat, hari libur aja. Tempatnya juga bebas semau
kita asal kumpul.” Tambah Wika.
“ Iya. Nanti kita bisa banyak main. Bikin happy deh.
Buang tuh galau. Bisa curhat-curhatan. Tahu tempat enak, makan enak. Dapat
cowok juga.” Imbuh Revina.
“ O iya. Hehehe …”
Wika menoleh pada Revina member isyarat. Revina
melirik pada Silvia. Mereka berdua lalu maju.
“ Maafin kita, ya? Kamu mau kan maafin kita?
Biar kita baikan dan kita temenan lagi.” Pinta Revina.
“ Iya. Aku juga minta maaf. Aku tau
aku kasar, tapi suer aku nggak bermaksud nyakitin kamu.” Silvia ikutan
mengulurkan tangan.
Citra mengusap mukanya dengan kedua tangannya baru
mulai menyunggingkan senyum. Dia menjabat tangan Revina dan Silvia bergantian.
Gimana pun sahabat yang menang melawan keegoisan.
“ Cheers!” seru Revina.” Minggu besok kita mau ke
kompleks wisata Patria. Datang ya? Asyik lo.”
“ Jam berapa?”
“ Jam 8.”
“ Oke. Aku pasti datang.”
Mereka berjalan bersama-sama lagi. Berempat. Kini
bukan trio lagi, tapi kuartet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar