Perasaan anda mengunjungi Blog saya ? Kalau ada kekurangan, silahkan mampir ke daninad23@gmail.com

Kamis, 22 Mei 2014

Kalian Jahat!

CERPEN PERSAHABATAN – KALIAN JAHAT


Kini Trio Via masuk kelas dengan penampilan yang berbeda. Mereka pake akseseoris baru, yaitu gelang tiga warna melingkari pergelangan tangan mereka. Ungu, biru, kuning. Anak-anak cepat menangkap karya tiga sahabat itu.
“ Wika, apa itu di tanganmu?” Tanya Ferdi, wartawan kelas.

“ Ini gelang persahabatan antara aku dan sahabat-sahabatku, Revina dan Silvia.” Jawab Wika.
“ Mau dong?” pinta Tiara.
“ Boleh. lain kali bikin aja.”
Teman-teman cepat mengerubungi  tri sahabat itu. Mereka Tanya-tanya di mana bikinnya, berapa harganya. Wika jelasin kalo itu buatan mereka bertiga. Gak dijual di toko. Gelang itu buat pengingat sahabat karena mereka nanti bakal pisah kelas. Jadi gelang itu buat tanda persahabatan. Teman-teman antusias jadi pingin ikutan-ikutan bikin.
“ Jadi tiga warna ini berarti warna-warna favorit kalian masing-masing?” simpul Ferdi.
“ yap!” Sahut Wika mantap.
“ Kalian jahat!”
Semua terdiam kaget oleh komentar tak terduga itu. Mereka mencari asal suaranya. Biasanya sih Runa, si mulut cabe. Tapi Runa dan gengnya nggak keliatan. Yang ada malah seorang cewek berambut pendek bando kuning seperti Song Hye Hyo, Citra.
“ Citra, apa maksudmu?” Wika bersuara duluan.
” Kalian bikin gelang buat kalian kok nggak ngajjak aku sih? Kalian teganya bikin acara nggak ngajak-ngajak aku! Kalan anggap aku? Emangnya aku bukan sahabat kalian? Padahal aku udah anggap kalian sahabatku sendiri. Kalian malah bikin acara dan bikin gelang kenang-kenangan nggak bilang-bilang!”
“ Mana kita tahu? Kamu selama ini nggak pernah ngumpul. Nggak pernah main sama kita-kita. Nggak pernah bantuin masalah kita-kita. Kemarin kamu nggak ngerasain susahnya masalah kita, nggak bantu atasi masalah kita, malah minta hadiah.” Ujar Silvia.
“ Aku selama ini nungguin kalian datang. Kemarin waktu seminar aku udah datang duluan biar kalian ada tempat kalian malah duduk di belakang terus pergi lagi di tengah seminar padahal acara masih belum selesai. Aku nungguin kalian tahu!”
“ Kita emang nggak suka matematika. Masak orang gak suka harus dipaksa. Terserah kita dong mau ke mana!” kilah Silvia.
“ Kalian bukan temanku lagi! Pokoknya hubungan kita putus!” Citra berbalik pergi  keluar kelas.
“ Terserah!” tukas Silvia.
“ Eh, Silvia, bukan gitu!” Kata Wika. Ia  lekas mengejar Citra sedangkan Revina menegur cewek tomboy itu.
Citra berjalan cepat di koridor. Air matanya mulai keluar. Bener-bener sialan mereka. Tega-teganya mengkhianati persahabatan mereka. Bikin acara nggak bilang-bilang! Sekarang Silvia malah melawannya habis-habisan. Aku nggak mau lagi temenan sama mereka. Citra cepat mengusap air matanya biar nggak dilhat anak lain.
“ Cit, tunggu! “ panggil Wika. Leader trio via itu sampai di belakang Citra. Dia berlari menyusul Citra.
“  Citra! Dengerin dulu! Bukan gitu maksud kita-kita. Kita sama sekali nggak bermaksud nggak nganggep kamu teman. Kita tetep teman kamu.” Wika mencekal tangan Citra.
“ Udah! Lepasin! Kamu sama aja sama Silvia, bahkan Runa sekalipun!” Citra mengibaskan tangannya melepaskan pegangan Wika. Dia mendorong Wika.
“ Citra, dengerin!” Wika berlari mendahului Citra. Begitu di depan Citra, ia berujar,” Citra, kamu harus dengerin alasannya. Kamu nggak boleh nuutup telingamu dari kata-kata sahabatmu sendiri  kalo kamu masih nganggep kamu sahabatmu.”
Citra akhirnya mau diam menatap Wika.
“ Cit, maafin kami. Kami lupa nggak ngikutin kamu dalam bikin gelang itu. Semua itu karena  Cuma kami mikirin apa yang ada waktu itu. Yang ada Cuma kami bertiga. Kalo misalnya kamu waktu itu kamu ada kami pasti bikini gelang kamu juga. Kami juga nggak tahu warna favoritmu.”
“ Warna favoritku kuning!” potong Citra.
“ Nah, berarti warna favoritmu udah ada di gelang kan?” Wika mengangkat tangannya nunjukin kalo di gelang itu ada warna Citra.
“ Aku bener-bener minta maaf. Aku nggak tahu kalo bias sampe salah paham begini. Sumpah Demi Alloh aku nggak tahu kamu bakalan tersinggung soalnya selama ini kamu jarang ngumpul. Kamu ikut main dulu waktu ke perpustakaan kutub itu doang.”
Citra menunduk.
“ Sekarang kamu mau maafin?” Wika mengulurkan tangan.
Pelan-pelan dan ragu Citra menjabat. Wika cepat menangkapnya. Baru setelah itu Silvia dan Revina muncul.
“ Kamu itu sering-sering ngumpulo, biar kita nggak ngelupain kamu. Kalo kamu ikut kami pasti bikin kamu akeseoris kamu juga.” Nasehat Silvia. Biarpun kasar kena juga.
“ Tapi aku harus belajar. Kan kita harus belajar buat besok?”
“ Apa harus 24 jam? Apa setiap hari?” Tanya Sivia.
Citra tak bisa menjawab. Urusan debat otaknya lumpuh, tapi kalo argumen dia bisa cepat.
“ Kita nggak lama kok, Cit.  Cuma 1- 2 jam. Sepulang sekolah, pas istirahat, hari libur aja. Tempatnya juga bebas semau kita asal kumpul.” Tambah Wika.
“ Iya. Nanti kita bisa banyak main. Bikin happy deh. Buang tuh galau. Bisa curhat-curhatan. Tahu tempat enak, makan enak. Dapat cowok juga.” Imbuh Revina.
“ Oi, inget Fahmi!” Sahut Wika.
“ O iya. Hehehe …”
Wika menoleh pada Revina member isyarat. Revina melirik pada Silvia. Mereka berdua lalu maju.
“ Maafin kita, ya? Kamu mau kan  maafin kita? Biar kita baikan dan kita temenan lagi.” Pinta Revina.
“ Iya. Aku juga minta maaf. Aku tau aku kasar, tapi suer aku nggak bermaksud nyakitin kamu.” Silvia ikutan mengulurkan tangan.
Citra mengusap mukanya dengan kedua tangannya baru mulai menyunggingkan senyum. Dia menjabat tangan Revina dan Silvia bergantian. Gimana pun sahabat yang menang melawan keegoisan.
“ Cheers!” seru Revina.” Minggu besok kita mau ke kompleks wisata Patria. Datang ya? Asyik lo.”
“ Jam berapa?”
“ Jam 8.”
“ Oke. Aku pasti datang.”

Mereka berjalan bersama-sama lagi. Berempat. Kini bukan trio lagi, tapi kuartet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar