Perasaan anda mengunjungi Blog saya ? Kalau ada kekurangan, silahkan mampir ke daninad23@gmail.com

Kamis, 22 Mei 2014

Ada Cahaya di Lampu yang lain

cerpen kehidupan – ada cahaya di lampu yang lain


Suara band makin menghentak hingga menembus keluar aula. Acara makin mendekati puncaknya pada jam 08.00 malam. Suara-suara makin meriah dari band dan sorak sorai penontonnya yang rata-rata adalah para remaja siswa-siswa SMA satria. Namun satu dari mereka, Silvi malah keluar. Dia berjalan lewat samping. Seorang cowok mengikutinya.
Cewek bertubuh kecil berkulit putih rambut pendek keriting berombak itu  berjalan ke sebuah tangga yang menurun di sebelah barat gedung aula menuju lapangan voli yang diterangi lampu. Dia duduk di tangga memandang lapangan voli.
” Sebentar lagi aku akan keluar, berpisah dengan sekolah dan teman-teman.” Dia diam lalu menangis.
Cowok yang mengikutinya mendekat,” Kenapa kamu keluar? Acaranya seru lo!”
” Aku ingin sendiri!” Tandas Silvi.
” Ini pesta kita kita, malam terakhir kita di pesta. Kita harus rayakan semeriah mungkin agar jadi pengalaman dan kenangan yang paling berkesan. Apalagi sekolah sudah mendatangkan band terkenal.”
” Justru itu. Aku tak ingin kehilangan semua ini. Aku tak mau kehilangan teman-teman, sekolah dan keceriaan waktu bersama mereka.”
Silvi teringat dulu dia waktu pertama kali pelajaran olahraga dia latihan voli tapi dibalas temannya dan dia kena bola di kepalanya sampai jatuh. Dia jadi bahan ketawaan. Temannya minta maaf dan mau mengajarinya voli. Ketawa kalau mengingat  kejadian itu. Sekarang sudah 3 tahun lewat.
Heri ikut memandang ke lapangan voli. Dia duduk di samping Silvi.
” Masa-masa SMA itu memang masa yang indah.” Gumam heri memandang lurus ke depan.
“  Makanya aku nggak mau meninggalkannya. Aku nggak suka harus meninggalkan dunia pelangi ini. Kesenangan ini takkan bisa dihapus dengan mudah.”
Heri menoleh kepada Silvi,” Tapi kita tak bisa terus-terusan di sini. Kita harus pergi. Waktu kita sudah habis.”
” Aku tahu, aku tahu!” Ujar Silvi sewot.” Tapi masak harus begini, masak semua yang indah harus berakhir?”
” Terus gimana?” Tanya heri,” Kamu mau mengulang 1 tahun lagi? Kamu sudah ikut UAN.”
” Aku tidak berpikir begitu. Aku hanya ingin teman-teman dan waktu bertambah 1 tahun lagi di sini, baru aku siap.”
” Masalahnya itu tak mungkin. Waktu terus melaju. Teman-teman juga nggak mau di sini terus. Mereka ingin mengejar cita-cita mereka di perguruan tinggi.”
” Mereka nggak cinta kelas mereka?” Tanya Silvi.
” Bukan begitu. Mereka cinta pada kelas yang telah mereka tempati setahun ini. Tapi mereka sadar mereka pun harus pergi.” Jawab heri.” Mereka juga merasakan apa yang kau rasakan. Sedih rasanya meninggalkan teman-teman, kelas, guru-guru dan sekolah yang telah kita tinggali selama 3 tahun.”
Mereka saling diam. Seekor belalang meloncat ke depan Silvi. Heri mengusirnya dengan mengibaskan tangannya. Belalang itu melompat menjauh.
” Silvi, kau harus maju. Kau harus memandang ke depan. Kau punya masa depan dan cita-cita. Kau harus mengejar dan meraihnya. Jangan terus-menerus tinggal di sini. Waktu mau tak mau akan memmbawamu pergi.”
” Tapi aku takut. Aku takut setelah ini aku akan sendirian. Aku akan tak punya teman, kelas dan sekolah lagi. Nanti tak ada keceriaan, tawa dan canda lagi. Nanti aku harus bekerja keras pergi pagi pulang sore dibayar sedikit. Nanti ada tuntutan bos, persaingan usaha, teman kerja yang iri dan jahat. Dunia nyata itu kejam dan keras. Aku ingin selamanya di sini, dunia mimpi yang indah.”
” Kau jangan takut. Kau pasti bisa. Kau adalah lulusan SMA Satria, SMA terbaik di Kota Patria. Aku yakin kau akan diterima di kampus terbaik dan bisa bekerja di tempat kerja terbaik dan dibayar baik dengan teman-teman dan bos yang baik.
Lihatlah dirimu! Kau lebih baik daripada anak-anak SMA Gatra, Citarum, dan anak-anak SMK-SMK yang lain.”
” Mereka ke sana bukan karena tidak mampu, tapi karena pilihan.” Sergah Silvi.
” Sama saja. Mereka akhirnya menerima pendidikan sekualitas sekolah mereka yang menentukan nilai mereka waktu lulus. Aku tidak bermaksud menghina mereka, tapi ini tentang kamu, Vi. Kamu itu bagus, baik dan pintar.” Heri menatap wajah Silvi,” juga cantik.”
Silvi ketawa kecil memperlihatkan pipinya yang berlesung pipi.
” Jalan yuk.” Ajak heri.
Mereka bangkit dari tangga lalu berjalan-jalan mengelilingi  gedung aula.
” Lampu-lampu di sini indah ya?” Tanya heri.
” Ya.”
” Dulu waktu SMP aku pernah rekreasi ke Bali. Di sana  aku melihat lampu-lampu bergantian menyala di sepanjang jalan. Aku melihat banyak warung, rumah, toko. Kami melaju kencang di sepanjang jalan.” Cerita heri.
” Aku juga ikut ke bali. Kita kan 1 SMP?” Celetuk Silvi.
“Iya. Dengerin dulu! Sejak saat itu aku suka keluar malam. Aku suka melihat keramaian malam. Cahaya-cahaya itu menerangi malamku. Cahaya malam itu melambangkan dunia remaja yang bahagia dan bersenang-senang. Waktu itu bis sekolah menyetel lagunya peter pan yang berjudul “aku dan bintang”, “bintang di surga”,  dan lain-lain. Aku masih suka lagu-lagu itu.”
” Terus?”
” Sampai sekarang cahaya itu masih ada. Tapi lampunya beda. Jadi begini, Vi. Setiap tempat yang membawa kebahagiaan adalah lampu yang memberi cahaya. Misalnya sekolah, rumah, bimbel, rumah teman, tempat ibadah dan lain-lain. Hanya saja suatu saat kita harus pergi. Saat itu kamu harus yakin ada cahaya lagi dari lampu yang lain. Lampu lain tak perlu kamu bawa tapi kenanglah saja. Bawalah cintanya di hatimu.”
Silvi manggut-manggut.
Heri mengeluarkan hp dari sakunya lalu menyetel lagu peter pan yang berjudul “walau habis terang”.
Berjalanlah walau habis terang
Ambil cahaya cintaku
Terangi jalanmu di antara beribu lainnya
Kau tetap..
Kau tetap..
Kau tetap..     
Benderang o.. Oo
“Waaah, bagus banget! Kamu ngambil teori lampu dan cahaya dari sini ya?” Silvi terpesona.
” Nah, iya. Makanya senyum ya?”
Silvi pun tersenyum.
” Yuk ke dalam.”

Mereka berdua kembali ke aula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar