cerpen
kehidupan – ada cahaya di lampu yang lain
Suara band makin menghentak hingga menembus keluar aula.
Acara makin mendekati puncaknya pada jam 08.00 malam. Suara-suara makin meriah
dari band dan sorak sorai penontonnya yang rata-rata adalah para remaja
siswa-siswa SMA satria. Namun satu dari mereka, Silvi malah keluar. Dia berjalan lewat samping.
Seorang cowok mengikutinya.
Cewek bertubuh kecil berkulit
putih rambut pendek keriting berombak itu berjalan ke sebuah tangga yang
menurun di sebelah barat gedung aula menuju lapangan voli yang diterangi lampu.
Dia duduk di tangga memandang lapangan voli.
” Sebentar lagi aku akan
keluar, berpisah dengan sekolah dan teman-teman.” Dia diam lalu menangis.
Cowok yang mengikutinya
mendekat,” Kenapa kamu keluar? Acaranya seru lo!”
” Aku ingin sendiri!” Tandas Silvi.
” Ini pesta kita kita, malam
terakhir kita di pesta. Kita harus rayakan semeriah mungkin agar jadi
pengalaman dan kenangan yang paling berkesan. Apalagi sekolah sudah
mendatangkan band terkenal.”
” Justru itu. Aku tak ingin
kehilangan semua ini. Aku tak mau kehilangan teman-teman, sekolah dan keceriaan
waktu bersama mereka.”
Silvi teringat dulu dia waktu
pertama kali pelajaran olahraga dia latihan voli tapi dibalas temannya dan dia
kena bola di kepalanya sampai jatuh. Dia jadi bahan ketawaan. Temannya minta
maaf dan mau mengajarinya voli. Ketawa kalau mengingat kejadian itu.
Sekarang sudah 3 tahun lewat.
Heri ikut memandang ke
lapangan voli. Dia duduk di samping Silvi.
” Masa-masa SMA itu memang
masa yang indah.” Gumam heri memandang lurus ke depan.
“ Makanya aku nggak mau
meninggalkannya. Aku nggak suka harus meninggalkan dunia pelangi ini.
Kesenangan ini takkan bisa dihapus dengan mudah.”
Heri menoleh kepada Silvi,”
Tapi kita tak bisa terus-terusan di sini. Kita harus pergi. Waktu kita sudah
habis.”
” Aku tahu, aku tahu!” Ujar
Silvi sewot.” Tapi masak harus begini, masak semua yang indah harus berakhir?”
” Terus gimana?” Tanya heri,”
Kamu mau mengulang 1 tahun lagi? Kamu sudah ikut UAN.”
” Aku tidak berpikir begitu.
Aku hanya ingin teman-teman dan waktu bertambah 1 tahun lagi di sini, baru aku
siap.”
” Masalahnya itu tak mungkin.
Waktu terus melaju. Teman-teman juga nggak mau di sini terus. Mereka ingin
mengejar cita-cita mereka di perguruan tinggi.”
” Mereka nggak cinta kelas
mereka?” Tanya Silvi.
” Bukan begitu. Mereka cinta
pada kelas yang telah mereka tempati setahun ini. Tapi mereka sadar mereka pun
harus pergi.” Jawab heri.” Mereka juga merasakan apa yang kau rasakan. Sedih
rasanya meninggalkan teman-teman, kelas, guru-guru dan sekolah yang telah kita
tinggali selama 3 tahun.”
Mereka saling diam. Seekor
belalang meloncat ke depan Silvi. Heri mengusirnya dengan mengibaskan
tangannya. Belalang itu melompat menjauh.
” Silvi, kau harus maju. Kau
harus memandang ke depan. Kau punya masa depan dan cita-cita. Kau harus
mengejar dan meraihnya. Jangan terus-menerus tinggal di sini. Waktu mau tak mau
akan memmbawamu pergi.”
” Tapi aku takut. Aku takut
setelah ini aku akan sendirian. Aku akan tak punya teman, kelas dan sekolah
lagi. Nanti tak ada keceriaan, tawa dan canda lagi. Nanti aku harus bekerja
keras pergi pagi pulang sore dibayar sedikit. Nanti ada tuntutan bos,
persaingan usaha, teman kerja yang iri dan jahat. Dunia nyata itu kejam dan
keras. Aku ingin selamanya di sini, dunia mimpi yang indah.”
” Kau jangan takut. Kau pasti bisa. Kau adalah lulusan SMA Satria, SMA terbaik di Kota Patria. Aku yakin kau akan diterima di kampus
terbaik dan bisa bekerja di tempat kerja terbaik dan dibayar baik dengan
teman-teman dan bos yang baik.
Lihatlah dirimu! Kau lebih
baik daripada anak-anak SMA Gatra, Citarum, dan anak-anak SMK-SMK yang lain.”
” Mereka ke sana bukan karena
tidak mampu, tapi karena pilihan.” Sergah Silvi.
” Sama saja. Mereka akhirnya
menerima pendidikan sekualitas sekolah mereka yang menentukan nilai mereka
waktu lulus. Aku tidak bermaksud menghina mereka, tapi ini tentang kamu, Vi.
Kamu itu bagus, baik dan pintar.” Heri menatap wajah Silvi,” juga cantik.”
Silvi ketawa kecil
memperlihatkan pipinya yang berlesung pipi.
” Jalan yuk.” Ajak heri.
Mereka bangkit dari tangga
lalu berjalan-jalan mengelilingi gedung aula.
” Lampu-lampu di sini indah
ya?” Tanya heri.
” Ya.”
” Dulu waktu SMP aku pernah
rekreasi ke Bali. Di sana aku melihat lampu-lampu bergantian menyala di
sepanjang jalan. Aku melihat banyak warung, rumah, toko. Kami melaju kencang di
sepanjang jalan.” Cerita heri.
” Aku juga ikut ke bali. Kita
kan 1 SMP?” Celetuk Silvi.
“Iya. Dengerin dulu! Sejak
saat itu aku suka keluar malam. Aku suka melihat keramaian malam. Cahaya-cahaya
itu menerangi malamku. Cahaya malam itu melambangkan dunia remaja yang bahagia
dan bersenang-senang. Waktu itu bis sekolah menyetel lagunya peter pan yang
berjudul “aku dan bintang”, “bintang di surga”, dan lain-lain. Aku masih
suka lagu-lagu itu.”
” Terus?”
” Sampai sekarang cahaya itu
masih ada. Tapi lampunya beda. Jadi begini, Vi. Setiap tempat yang membawa
kebahagiaan adalah lampu yang memberi cahaya. Misalnya sekolah, rumah, bimbel,
rumah teman, tempat ibadah dan lain-lain. Hanya saja suatu saat kita harus
pergi. Saat itu kamu harus yakin ada cahaya lagi dari lampu yang lain. Lampu
lain tak perlu kamu bawa tapi kenanglah saja. Bawalah cintanya di hatimu.”
Silvi manggut-manggut.
Heri mengeluarkan hp dari
sakunya lalu menyetel lagu peter pan yang berjudul “walau habis terang”.
Berjalanlah walau habis
terang
Ambil cahaya cintaku
Terangi jalanmu di antara
beribu lainnya
Kau tetap..
Kau tetap..
Kau
tetap..
Benderang o.. Oo
“Waaah, bagus banget! Kamu
ngambil teori lampu dan cahaya dari sini ya?” Silvi terpesona.
” Nah, iya. Makanya senyum
ya?”
Silvi pun tersenyum.
” Yuk ke dalam.”
Mereka berdua kembali ke
aula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar