CERPEN CINTA – TARUHAN CINTA
SMP Aryapati memiliki dua gerbang
pintu masuk. Satu di timur dan satu di barat. Di sebelah barat gerbang barat
terdapat taman kecil berupa sepetak tanah berumput dikelilingi bunga-bunga.
Bunga-bunga dan taman itu dinaungi tiga dikotil besar berupa pohon asem yang
besar, tinggi, berusia puluhan tahun dan berdaun rindang. Autotrof itu tengah
menyerap karbondiaksida dan mengubahnya menjadi oksigen. Menebarkan kesejukan
ke segala yang ada di sekitarnya, termasuk ke bawahnya di mana tiga cewek
sedang duduk.
Trio cewek
itu duduk lesehan beralaskan tikar. Mereka adalah Revina, Wika dan
Silvia. Mereka duduk melingkar. Wika memegang daftar siswa 8E dan polpen. Dia
mencoreti siswa yang perempuan lalu siswa laki-lki yang setahunya sudah punya
pacar. Silvia menngingat-ingat teman basketnya yang cowokdan belum punya pacar.
Semua itu mereka lakukan demisi putri cinta yang lagi
galau menunggu pangeran. Sedang si putri sendiri asyik
melamun membayangkan arjunanya datang. Biar hati ini kembali utuh dan belahan
jiwanya lengkap katanya.
“ Nih.” Wika
menyerahkan daftar cowok-cowok yang tersisa.
“ Ini juga.” Silvia menyerahkan
daftarnya juga.
Revina menerima lalu membacanya,”
Ini Candra, Aji, Lukman, Bara, Rizky, Yosef. Ini aja?”
“ Bukannya Luthfi cowokmu?”
“ Bukan..! Kami nggak ada hubungan
apa-apa. Cuma temen biasa.”
“ Tapi akhir-akhir ini kalian sering
jalan bareng?”
“ Oh.”
Revina kembali memandangi daftarnya.
Candra itu medok dan alay. Gak deh. Aji suka makan sampe badannya segede
sumo. Lukman sukanya ngoleksi batu akik dan majalah posmo. Bara suka rege dan
modifikasi vespa. Suaranya ugh… bikin teliga mau robek. Luthfi culun amat dan
kuper. Nggak ada yang pas.
“ Kita cari yang lain aja.” Simpul
Revina.
“ Kalian masih di sini rupanya?”
Revina berbalik mencari sumber
suara. Wika dan Silvia mendongak melihat siapa itu. Mereka menemukan sumber itu
satu diikuti segerombolan cowok dan cewek. Lima cewek dan lima cowok. Yang
cewek bersilang dada semua. Aristokrat ini. Kayaknya mau bikin gara-gara baru.
“ Kalian ngapain masih di sini?”
tanya Revina keras. Teman-temannya mulai bersiaga. Mereka berdiri biar sama
tinggi.
“ Terserah kami. Mau apa di sini
urusan kami.” Tukas Runa.
“ Kalo gitu pergi aja sana! Nggak
usah ngurusin kami!” Usir Silvia.
“ Ntar dulu. Kami mau tahu kalian
lagi ngapain.”
Runa memperhatikan mereka. Dia
memandang satu persatu dari atas ke bawah. Trio Via risih diliatin gitu. Emang
kita apaan? Mata Runa menangkap sesuatu di dekat kaki Revina. Kertas kuning
bercoret-coret. Ia segera mengambilnya.
“ Hei! Balikin!” seru Revina.
Tangannya memegang kertas kuning daftar siswa itu.
“ Plak!”
tangan kiri Runa memukul
lengan Runa sehingga pegangan Revina terlepas. Revina mengaduh pelan.
Runa membaca kertas itu. Dia
menunjukkannya kepada Fifi dan teman-temannya. Mereka melihat dan berdiskusi
sebentar saling berbisik.
“ Kamu lagi nyari cowok ya Vin?”
tanya Runa terkekeh.
“ Bukan urusanmu!”
“ Berarti bener kamu belum dapat cowok.
Berarti kamu nggak laku! Dasar cewek murahan!”
Ucapan itu
sangat telak menusuk hati Revina. Spontan ia
menjawab,” emang apa urusanmu, dasar cewek rusuh! Sukanya usil sama urusan
orang!”
“ Terserah aku. mulut-mulutku
sendiri.”
“ Makanya jadi cewek jangan asal
nuduh. Dulu kamu bilang aku cewek murahan sekarang siapa yang nggak punya
cowok? Itu berarti kamu tuh nggak berharga. Diobral aja nggak laku. Digratisin
aja nggak bakal ada yang ngambil.”
“ Laku tuh nggak harus sekarang,
nanti juga bisa.” Bantah Wika membela Revina.
“ Iya. Laku tuh nanti pas nikah.
Pasti ada cowok yang mau sama Revina, tapi nggak bakalan ada yang mau sama
kamu.”
“ Oh, ya? Emang kamu tau masa depan?
Apa kamu bisa ngeramal? Emang kamu eyang subur? Nanti y nanti. Sekarang ya
sekarang. Tul kan sayang?” Runa menoleh pada cowoknya. Cowoknya mengangguk
tersenyum pada mulut cabe itu.
“ Oke! Aku bakalan buktiin seminggu
lagi aku bakalan punya cowok. Kita tes siapa yang laku!” tandas Revina.
“ Okeh! Kita taruhan! Kalau
kau dapat cowok aku bakalan jadi pelayan apelmu. Tapi kalau kau nggak dapat kau
mau apa?”
“ Aku bakalan bayarin apelmu!”
“ Deal! minggu depan hari Jum’at
kita tunggu di Patria park jam 3 sore! Awas jangan lari, kau!” malam
sabtu adalah malam kosong karena sabtu Cuma diisi ekskul.
“ Siapa takut! Kau yang bakalan
jatuh!”
Runa berbalik meninggalkan ketiga
cewek itu. Gerombolannya mengikutinya. Tinggal Revina berdiri dengan keras
memandangi geng itu dengan kesal. Matanya merah menahan air mata. Wika dan
Silvia terpana melihat cewek itu. Prihatin.
Di rumah Revina ketiga cewek itu
segera duduk di sofa di ruang tengah. Wika segera megingatkan Revina.
“ Kau baru saja melakukan kesalahan,
Na.”
“ Habis mau gimana lagi? Aku sebel
sama mereka. Sebel. Kesel. Marah. Benci. Semuanya. Aku pingin mereka
cepet-cepet pergi sebelum aku tambah bete. Pokoknya mereka harus cepet pergi.”
Air mata Revina mengalir menuruni pipinya yang putih.
Wika memeluk sahabatnya itu
menghiburnya mengelus-elus punggungnya. Sejak kehilangan Johan Revina
kehilangan kedewasaan, sisi tenang dan kelamenya. Sekarang dia jadi emosional
dan uring-uringan. Putri ini kehilangan soulmate sampai segini galau dan parah.
Makanya harus cepet dicariin gantinya.
“ Jadi gimana, Wik? Kamu mau kan
bantuin aku?”
Wika tak berkata apa-apa. Hanya
mengangguk.
Besoknya Revina berangkat sekolah
seperti biasa, tapi kali ini dia memakai jaket biru baseball yang dulu
dia pakai waktu mengejar Johan. Dia kembali menyapa dan ramah. Dia terbuka.
Sebagian teman-teman terpana tapi nggak terlalu heboh. Geng Aristokrat
mencibirnya tapi dia nggak peduli.
Revina kembali menyapa teman-teman
baru yang dia dapatkan. Dia kembali bercanda sama mereka dan ngobrol. Dia main
ke rumah mereka mencari kenalan baru. Alasannya biar nambah teman.
Teman-temannya paham saja.
Di facebook Revina banyak-banyak
upload fotonya. Ada yang narsis, natural, smart dan sebagainya. Tapi kalo yang
seksi nggak bakalan. Dia banyak update status nasehat dan motivasi biarpun dia
sendiri tertatih, belum tegak. Dia banyak membaca status teman-teman,
memberi like, komentar, chatting dan sebagainya.
“ Gimana, Wik?”
“ Bagus. Dengan cara begitu bkalan
banyak yang suka sama kamu. Tapi jangan sampe kamu bilang kalo kamu butuh
cowok, kesepian, galau atau butuh cinta lo ya?”
“ Ya iyalah. Aku nggak mau jadi
cewek murahan dan centil kayak si mulut cabe tuh.”
Wika ketawa. Sekarang ada julukan
baru buat si Runa itu. Mulut cabe. Kayaknya pas buat dia yang suka ngomong
pedas dan sirik sama orang.
“ Teman-teman bloggermu gimana,
Wik?” tanya Revina.
“ Belum ada jawaban.”
“ Kamu mau diiklanin besar-besaran?
Malu tau!”
“ Iya ya? Sori.”
Besoknya
Revina main ke perpustakaan kutub. Di sana
dia membaca-baca novel, cerpen, komik dan majalah. Sebenernya Cuma topeng sih.
Niat sebenernya ngecengin cowok. Cari ada nggak ya cakep? Kalo ada tinggal
nungguin. Moga-moga ada yang mampir. Pokoknya jangan sampe nyamperin.
Setiap hari Revina ke perpustakaan
biarpun cuma 1 jam. Setelah itu dia main ke rumah temen. Dia juga nonton Silvia
latihan. Fesbukan tetep. Sms-an juga jalan. Semuanya diatur biar kebagian
semua. Ia juga tetep belajar. Pake makeup juga ditambah tapi yang natural.
Revina samapi bela-belain sholat
tahajud juga. Nggak tanggung-tanggung. Dia sholat 8 rokaat dan witir 3 rokaat.
Persis shalat tarawih. Bedanya sekarang lagi nggak bulan puasa. Setelah itu dia
berdoa.
“ Ya Alloh, please temuin aku sama
jodohku Ya Alloh! Ya Alloh please, cariin aku cowok. Cepet temuin biar aku
menang Ya Alloh. Biar Aku nggak diledekin lagi. Biar aku bisa nemuin tamatan
hatiku, punya pelindung dari orang-orang yang sirik sama aku ya Alloh. Amiin..”
“ Kamu sudah milih siapa?” tanya
Wika.
“ Udah. Aku milih Fahmi.” Jawab
Revina.
Fahmi adalah cowok yang ketemu sama
Revina di perpustakaan kutub. Mereka tukar-tukaran nomer HP lalu sms-an. Fahmi
dari SMP Melati. Dia kelas 8 juga.
“ Udah janjian ketemu?”
“ Udah. Nanti sore jam 3 di Patria
Park.”
“ Baguslah. Aku juga sudah bawa
duit. Semoga duit ini nggak kepake.” Kata Wika.
“ Buat apa itu?”
“ Jaga-jaga aja. Kita kan harus
antisipasi apa-apa kan? Rencana cadangan gitu.”
Biarpun nggak begitu setuju
Revina mengiyakan juga.
Sorenya trio via berkumpul di patria
park. Mereka duduk di pembatas jalan setapak di dalam taman setinggi 30 cm.
Mereka nungguin Fahmi, cowok baru yang dijanjiin sama Revina.
Geng Aristokrat juga datang ke
tempat pertemuan. Mereka semua lengkap. Runa, fifi, Helga, Maria, Wulan beserta
cowok-cowok mereka.
Antara kedua grup itu ada satu tiang
lampu. Di tiang itu tergantung jam mekanik. Jarum jamnya menunjukkan pukul 03.00.
kedua grup itu saling berhadapan.
“ Gimana? Udah dapat belum?” tanya
Runa.
“ Udah.”
“ Mana? Kok nggak keliatan?”
“ Masih otw. Tunggu aja.”
Mereka menunggu dalam kelompok
masing-masing. Geng Aristokrat membicarakan rencana ke mana mereka main
malam ini. mereka mau ke kafe ini itu, makan, karaokean dan lain-lain. Trio Via
harap-harap cemas nungguin cowok dari SMP Melati itu. Beberapa kali Revina
memandang jam buat mastiin waktunya masih panjang dan cowok itu sempat datang.
Pukul 03.31. Revina berjalan mondar-mandir.
Dia melihat terus ke ujung jalan berharap sosok cowok seperti Adi ms itu muncul
biarpun kabur. Nanti kalo mendekat kan jadi jelas?
Dia melihat jam. Dia mengirim sms ke
nomor Fahmi. Belum ada balasan juga. Dia telpon. Nggak diangkat-angkat. Padahal
ringtonenya kedengaran.
“ Mana nih? Jadi nggak?” tanya runa
Berang.
“ Iya bentar. Aku juga nungguin
nih.”
“ Jangan-jangan nggak ada?”
“ Iya. Jangan-jangan nggak ada.”
Sahut yang lain ikut-ikutan.
“ Ada. Nih nomernya.” Revina
menunjukkan nomer hp di layar hp-nya.
“ Terus kenapa nggak muncul-muncul
juga?”
“ Paling aja rumahnya jauh jadi
butuh waktu lama.”
“ Oke. Kita kasih waktu sampe jam 4.
Kalo sampe jam segitu nggak keliatan berarti kau kalah. Kalau harus bayarin
kita semua!”
“ Gila kau ya? Kalian 10 orang dan
tiap orang mau makan banyak.”
“ Okeh. Aku aja.”
“ Deal!”
Mereka kembali ke kelompok dan
ngobrol masing-masing.
“ Optimis, fren. Biasanya tokoh
utama itu muncul belakangan kayak film-film holywood itu lo. Setelah melewati
banyak hambatan nanti pangerannya muncul. Cinderella kan kayak gitu juga.”
Hibur Wika memberi semangat.
“ Makasih, Wik. You’re my best
friend. And you too, Silvia.”
03.55.
“ Udah! Nyerah aja! Buang-buang
waktu tau nggak?” ujar Maria.
“ Iya nih. Kita-kita mau shoping
nih. Jadi harus nungguin kalian. Boring tau!” tambah Wulan.
“ Ntar dulu. Waktunya belum habis
kan? Tuh.” Revina nunjuk jarum jam. Jarum anjangnya mulai meninggalkan angka
11.
“ Buat apa? Percuma! Percuma! Nggak
akan ada yang berubah. Mau nungguin apa lagi? Nggak akan ada cowok yang
datengin kau, cewek nggak laku!” tukas Maria.
Mata Revina menyipit memandang Maria
tajam. Kalo aja di cyclop di x-man udahdia bakar tuh cewek.
“ Udah! Udah! Kenapa kalian yang
panik, girls? Harusnya mereka yang panik. Kita sih tenang aja. Udah pasti kita
yang menang.”
Wika yang dari tadi duduk berpikir.
Biasanya setelah melewati titik klimaks ada penyelesaian. Setelah malam paling
gelap fajar muncul. Kebaikan selalu menang melawan kejahatan. Apapun selalu
gitu. Apapun cerita harus happy ending biar menginspirasi. Makanya dia terus
berharap dan optimis pangeran cahaya itu datang walau berjalan kaki.
03.47. teman-teman Runa punya ide
bagus. Mereka berdiri berjajar menyanyikan lagu yang pas. Lagunya wali band.
“ Nggak laku-laku .. o ooo.. nggak
laku-laku …o ooo … nggak laku-laku …” sorak mereka.
Revina
menggigit bibirnya bertahan agar airmatanya tak tumpah, agar kesabarannya
takpecah.dia putuskan menjauh lalu duduk menutup telinganya. Dia pejamkan
matanya berdoa.
“Ya Alloh please datangkan Fahmi ya
Alloh! Engkau kan maha mendengar ya Alloh? Engkau maha adil, maha bijaksana,
maha bijaksana. Engkau mengharamkan dirimu kezhaliman, jadi kau tak pernah
mendzolimi hamab-Mu.
Engkau turun di pertiga malam
terakhir. Engkau bilang kau pasti mengabulkan doa hambamu di malam itu. Aku
minta kepadamu Ya Alloh. Please, datangkan Fahmi Ya Alloh!”
“ Fahmi, kamu di mana? Kamu ke mana?
Kok nggak bilang-bilang? Kamu bilang tadi pagi kalo kamu bisa, kenapa sekarang
nggak muncul juga?
Fahmi, please. Datanglah. Bawalah cahaya.
Selamatkan Aku dri kegelapan ini. dari kegelapan penantian tanpa pasti, dari
cewek-cewek angkuh ini, dari kegelapan kehidupan tanpa cinta! Please, Fahmi
penuhin janjimu! Selametin aku!”
“ 10 ..9 .. 8 ..” hitung teman-teman
Runa penuh semangat.
“ 7 .. 6… 5 ..”
Revina memejamkan mata mengharapkan
mendengarkan suara cowok yang menahan mereka. Lalu suara cowok memaggilnya,
datang kepadanya. Kalau saat itu datang dia akan peluk Fahmi sekarang juga.
“ 4 .. 3 .. 2 ..”
Atau ingin mengulangi membatalkan
semua ini. tak membiarkan semua tak terjadi. Atau melompati sekalian satu saat
ini.
“ 1!” teriak cowok-cowok dan cewek.
Hanya Runa yang bersilang dada tenang.
“ Thok! Teng! Teng! Teng!” jarum jam
mengetuk titik 12. Lonceng bergema dari menara jam di pojok jalan di luar
Patria park menerbangkan burung-burung merpati.
Jarum jam yang mengetuk itu, menusuk
hati Revina, menumpahkan air mata. Jarum itu melesat menarik semua harapan.
Pergi bersama waktu menyita angan-angan indah. Menyeret cahaya menurunkan tirai
kegelapan memebuat kehidupan terasa gelap hitam pekat. Terbayang lembah luas
tapi gelap. Sebuah nisan terlihat di ujung lembah.
“ Nah, bener kan? Apa kubilang?”
ujar Runa bersuara.
“ Akhirnya sekarang kenyataan
membelaku.” Syukur Runa bangga.
Wika melihat Revina duduk menunduk
bertutupkan lutut dan lengan bersilangan, segera mengambil alih.
“ Kamu udah menang kan? Udah puas?
Sekarang pergi!” usir Wika.
“ Bayar dulu taruhanku!” ujar Runa.
“ Nih.” Wika mengulurkan uang
selembar sepuluh ribuan.
“ Segini? Mana cukup?”
“ Nih!” Wika menambahi selembar
lagi.
“ Kafe mana yang nerima kayak gini?”
“ Urusanmu! Kamu dulu kan nggak
bilang berapa uangnya?”
Runa mennggigit gigi-giginya.
Mulutnya terkatup rapat. Cuma sama cewek ini dia kalah.
“ Okeh! Tunggu lain kali! Kau berikutnya,
Wika!” Runa pergi bersama teman-temannya.
Wika duduk di samping Revina,
merangkulnya lalu mengelus-elusnya.
“ Sudah. Mereka sudah pergi jauh.”
Kata Wika. Revina tak bersuara.
“ Sabar, ya?”
“ Kenapa? “ akhirnya Revina
bersuara. Suaranya serak.
“ Kenapa doaku nggak dikabulin?
Kenapa aku nggak boleh menang? Apa aku nggak boleh ngerasain indahnya cinta
lagi? Apa aku harus terus menderita begini?” protesnya.
Wika dan Silvia tak bis berkata
apa-apa. Mereka cuma bisa diam mengelus-elus putri cinta itu. Mereka terus
mendampingi cewek itu sampai agak tenang. Setelah itu mereka mengajaknya
jalan-jalan dan makan-makan untuk menyembuhkan kesedihan hatinya.
HP Revina dibawa Wika biar tak
mengingatkan ama kejadian tadi dan Fahmi yang nggak datang. Dia silent juga
biar Revina nggak dengar. Termasuk dia simpan dulu pesan masuk dari Fahmi yang
baru datang.
“ Maaf, aku belajar kelompok. Ada
tugas mendadak.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar