Kembali lagi saya nge-post di blog saya ini.
Belakangan ini saya banyak tugas sekolah. Jadi sudah nggak sering update.
Tapi dani usahakan supaya bisa update walau seminggu sekali, ataupun seminggu 2 kali untuk post cerita, info-info, dan lain-lain yang berguna untuk para sahabat.
Oke next. Kali ini dani mau nge-post cerpen atau cerita pendek hasil karya dani sendiri. Haha :D Dani minta maaf yah sahabat blogger. Dani baru belajar membuat. Jadi, kalau ada kesalahan, harap dimaklumi :)
Cerpen atau cerita pendek ini mengisahkan seorang yang tidak diizinkan untuk memiliki orang yang dia sayangi. Dari pada banyak basa basi, lebih baik baca cerpen berikut.. Cek This Out!!!
DIANTARA CINTA DAN SAHABAT
Pagi yang indah dan semangat yang membara membuat anak yang tingginya kurang lebih 160 cm dengan berat 80 kg menyambutnya dengan sukacita. Perkenalkan, dia Aldo. Rumahnya tidak jauh dari sekolahnya. Dia sehari-hari membaca artikel, browsing internet, main facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya. Selain itu, dia pandai bergaul dimasyarakat. Dia bisa dikatakan anak yang rajin. Tahun lalu, dia mendapat peringkat 2 di kelasnya. Lumayan, buat motivasinya untuk ke depan.
Pagi itu, tepatnya hari senin, dia buru-buru ke sekolahnya. Karena dia mendapat piket OSIS di hari itu. Sehingga, ia tidak sempat sarapan bersama kedua orang tuanya.
Ketika aldo berbelok ke kiri di perempatan jalan, ada seorang perempuan yang hendak menyebrang jalan. Seketika itu juga aldo mengerem motornya dengan tiba-tiba. Aldo sedikit marah kepada perempuan itu. Kektika dia melihat seragam yang dikenakan perempuan itu, marahnya agak berkurang karena lambang di seragam perempuan itu merupakan lambang sekolahnya.
“Kalau jalan itu lihat dulu kendaraan yang melintas. Jangan sembarangan menyebrang” kata aldo sambil marah.
“lho situ yang pelan-pelan, dong. Emang jalan raya sebesar ini punya bapak kamu ?” kata perempuan itu dengan nada yang agak tinggi.
“Hmm. Di marah malah marah balik” kata aldo dalam hati.
“Oke, deh. Aku ngalah aja. Kamu sekolah di SMA Pertiwi ?” tanya aldo.
“Iya, emang kenapa ?” tanya balik perempuan itu/
“Mau aku boncengin, nggak ? mumpung aku sekolah di situ juga dan kebetulan aku nggak ada tumpangan” ajak aldo.
“Hmm. Oke. Tapi, bawa motornya pelan aja yah ?” pinta perempuan itu.
“Iya-iya” ucap aldo dengan senyum.
Setelah perempuan itu naik motornya aldo, lalu mereka berangkat bersama-sama.
“Kamu kelas XII, ya ?” tanya aldo yang melihat lambang kelas dilengan kanannya tadi.
“Iya. Kamu kelas XI ‘kan ?” tanya balik perempuan itu yang juga melihat lengan kanan baju aldo.
“Iya-iya. Berarti, kamu kakak kelas aku. Nama kakak siapa ?”
“Namaku Viny. Kalau kamu ?”
“Aku Aldo, kak. Salam kenal ya, kak ? Tapi kok, aku baru lihat, ya ?” tanya aldo.
“Aku baru pindah. Ya jelas’lah kamu nggak kenal” kata viny.
“Oh. Hmm”
“Kenapa ?”
“Nggak. Hehe J”
15 menit mereka bercakap-cakap selama perjalanan ke sekolah, akhirnya mereka sudah sampai di sekolah mereka.
“Cepetan berbaris, kak. Nanti dikejar lagi sama guru piket” kata aldo sambil menyuruh viny ke barisan.
“Lalu bagaimana dengan kamu ?” tanya viny.
“Aku nggak apa-apa. Ntar aku masuk ke ruang OSIS. Ada yang harus ku kerjakan” kata aldo.
“Ya sudah. Aku pergi dulu ya, aldo. Bye” kata viny sambi lari ke barisan.
Sambil berlari, viny berkata dalam hatinya, “Ternyata dia masuk dalam OSIS”.
Setelah viny meninggalkan aldo sendirian, datanglah pak Budi & langsung menyuruh aldo untuk mengambil kertas folio. Lalu aldo pergi meninggalkan bapak itu dan masuk ke ruang dewan guru untuk mengambil folio yang nantinya akan dibuat daftar siswa yang tidak seragam di setiap hari senin. Setelah itu, aldo masuk ke ruang OSIS. Di ruang OSIS, banyak siswa yang tidak seragam.
“Nah, aldo sudah datang” kata ketua OSIS kepada Reihan, wakil ketua OSIS.
“Maaf, ya Roni, Reihan. Aku hampir telat lagi. Terus aku nggak sempat buat kerja” kata aldo kepada mereka.
“Nggak apa-apa lagi. Kalau masalah kerja, yang penting sudah ada yang datang cepat, biar bantu-bantu. Kita berdua saja hampir telat tadi. Untung ada pak Budi yang jaga. Iya ‘kan, Ron ?” kata reihan.
“Iya, Al. Eh iya, Al. Kertas folio yang tadi diambil, tolong buat daftar siswa, ya. Rei, bantuin aldo” suruh roni.
“Baik, pak Ketos. Haha :D” ledek reihan.
Setelah semua siswa ang tidak seragam di data, mereka(siswa yang tidak seragam) disuruh apel di depan panggung utama, kemudian masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.
Bel pulang pun berbunyi, dan semua murid SMA Pertiwi berebutan untuk keluar sekolah. Aldo dan rekan-rekan OSIS lainnya berjalan bersama-sama. Inilah yang membuat OSIS di SMA Pertiwi begitu kompak. Semua yang berbau kegiatan pasti akan dikerjakan bersama-sama. Setelah sampai di parkiran, aldo serta rekan-rekannya mulai memisahkan diri. Ada yang pulang jalan kaki, naik motor, bahkan naik mobil. Aldo sendiri pulang sekolah agak telat. Dikarenakan dia masih bercerita dengan rekan-rekan OSIS lainnya.
“Aku pulang dulu, yah teman-teman. See you Later” kata aldo menghidupkan motornya.
“Iya, al. Hati-hati bawa motornya” kata teman-temannya.
“iya-iya. Bye . . .” kata aldo sambil melambaikan tangannya lalu keluar dari sekolah. Setelah keluar, dia melihat viny berdiri di depan gerbang sekolah dengan muka cemberut.
“Hai, kak. Kenapa belum pulang ? Lagi nunggu jemputan, yah ?” tanya aldo.
“Iya, nih. Dari tadi aku nunggu jemputannya nggak datang-datang. Hape juga lowbatt lagi. Hmm sebel hari ini pokoknya” kata viny sambil memanyunkan bibirnya.
Seketika itu Aldo tercengang.
“Kenapa, al ? Kok bengong begitu ?” tanya viny sambil membangunkan lamunan Aldo.
“Ehh.. Tidak.. Kakak kalau manyun gitu cantik, yah ? Eh!!” kata aldo langsung menutup mulutnya.
“Iya kah ? Makasih buat gombalannya di siang hari yang bolong gini.. Haha :D” tawa viny ngeledekin Aldo.
“Bolong ? Apa yang bolong kak ?”
“Nggak ada..”
Ketika kami lagi asyik ngobrol, sebuah mobil jazz merah datang menghampiri Aldo dan Viny. Ternyata itu jemputan Viny.
“Jemputanku sudah datang. Sampai ketemu besok, yah. Bye...” kata viny sambil melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam mobil.
“Bye...” kata aldo membalas lambaian tangan viny.
“Hmm... Cantik juga kak Viny...” Kata aldo dalam hati.
“Woy... Lagi ngelamunin apa kamu ?” Kata reihan mengagetkan Aldo dari belakang.
“Nggak ada.. Eh kamu belum pulang ?” tanya aldo
“Nah kamu sendiri kenapa belum pulang ?” tanya balik Reihan.
“Aku sih nungguin Siapa yang mau ngusir aku.. Haha :D ya sudah. Aku pulang dulu. See u...” kata aldo langsung pulang.
Sesampainya dirumah, aldo langsung masuk ke kamarnya & berbaring di kasurnya.
“Hmm.. Kenapa aku nggak minta nomor hapenya yah ? Aduh sudah mulai nih penyakitku..”. Aldo selalu begitu. Dia pelupa. “Hmm.. Seandainya aku punya nomor hapenya...” Tiba-tiba hape aldo berbunyi. “Siapa yang nelpon di siang hari gini ?” Kata dia sambil menjawab panggilan dari hapenya.
“Halo...”
“Halo. Ini dengan aldo ?”
“Iya. Ini dengan siapa ?”
“Ini dengan viny. Save nomorku, ya ?”
“Viny ? yang sekolah di SMA Pertiwi ?”
“Iya, al. Masa sudah nggak kenal sih ?”
“Haha :D iya kak. Kenal kok :p”
“Kalau kenal kenapa nanya coba ?”
“Yah kan siapa tau viny yang lain..”
“Emangnya viny yang kamu kenal itu ada berapa ?”
“Cuma satu sih..”
“Lalu...?”
“Yah nggak kenapa-kenapa...”
“Hmm...”
“Oh iya. Kakak dapat nomorku dari siapa ?”
“Dari teman sekelasmu. Dia tinggal dirumahku”
“Siapa ?”
“Fitri...”
“Oh fitri...”
“Makasih ya tadi sudah ngajak aku ngobrol sewaktu di gerbang sekolah. Tadi itu aku sudah bosan nungguin jemputan”
“Iya kakak cantik.. Hehe”
“Sudah dulu, ya ? Aku mau ngerjain PR.. Bye...”
“Iya, kakak. Semangat ngerjainnya. See u Later...”
“Iya-iya”
Begitulah isi pembicaraan aldo & viny merasa senang. Tanpa dimintapun, dia yang sudah menghubungi aldo terlebih dulu. “Hmm.. Cinta memang tak kemana. Aku harus mendapatkannya” ujar aldo optimis.
Setengah semester, hubungan aldo & viny makin dekat. Dari awalnya tidak kenal, sekarang malah menjadi akrab. Aldo berencana untuk menyatakan cintanya kepada viny. Tapi viny masih sibuk dengan tugas-tugasnya. Aldo pun menurungkan niatnya untuk menyatakan cintanya.
Hari demi hari, bulan demi bulan, mereka lewati bersama. Suka-duka mereka rasakan bersama. Sampai suatu ketika, aldo mendengar dari salah seorang temannya bahwa viny telah mempunyai pacar. Aldo tidak begitu percaya akan hal itu. Karena dia yakin, viny masih single dan belum mau pacaran. “aku nggak percaya sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kak viny itu sudah pacaran” kata aldo dalam hati meyakinkan diri. Setelah beberapa minggu berita itu tersebar, aldo mulai khawatir akan apa yang didengarnya. “Kalau begini terus, aku harus mencari tau” kata aldo kepada dirinya sendiri. Kemudian, dia bertanya kepada fitri, teman sekelasnya yang tinggal bersama viny.
“Fit, beneran kak viny sudah pacaran ?” tanya aldo
“Hmm.. ya nggak ‘lah, al. Mana mungkin dia itu pacaran. Asal kamu tau ya, al. Tiap malam dia sering bercerita tentang kamu. Nanya-nanya’in kamu. Mana mungkin dia pacaran sama orang lain” kata fitri meyakinkan aldo.
“Yang bener, fit ?”
“Iya’lah, al. Masa aku bohong sama kamu”
“Oke. Thank’s buat infonya...”
Aldo pun meninggalkan fitri. Viny adalah cewek yang memilih siapa yang akan menjadi cowoknya. Dia memilih dengan mencari info tentang cowok yang buat dia nyaman.
“Hmm.. Aku masih punya harapan untuk memilikinya. Keep calm, aldo...” kata aldo meyakinkan dirinya sambil berjalan menuju kantin.
Di kantin, dia bertemu dengan sarah, teman sekelasnya.
“Aldo, kamu sudah tau mengenai viny ? anak baru itu ?” tanya sarah
“Mengenai apa, sar ? jujur, aku belum tau yang sebenarnya” kata aldo ke sarah.
“Masa kamu kagak tau sih ? Kamu kan dekat dengan Viny sama Reihan”
“Kenapa dengan mereka ? Iya memang sih, aku dekat dengan mereka”
“Mereka berdua sudah pacaran. Tapi infonya belum pasti. Aku Cuma dengar dari kabar angin aja”
Mendengar hal ini, mental aldo langsung drop.
“be..ner ?” tanya aldo dengan muka yang lesu. Perasaannya saat itu hancur.
“Belum tentu benar sih, al. Aku Cuma dengar dari kabar angin aja...”
“Kamu nggak apa-apa ‘kan, al ?” tanya sarah lagi
“Nggak.. aku mau pesan minuman dulu” kata aldo sambil memesan minuman dengan wajah yang masih lesu. Ketika sedang memesan minuman, viny datang menghampiri aldo dengan wajah yang ceria.
“Hai aldo. Lagi mesen apa ?” tanya viny
“Lagi mesen minuman” kata aldo dengan nada datar
“Ibu, ini uangnya” kata aldo sambil membayar minumannya.
“Kamu nggak apa-apa ‘kan, al ? tanya viny heran. Respon yang diberikan aldo sangat buruk menurut viny.
“Nggak, kok. Aku pergi dulu” kata aldo langsung meninggalkan viny.
“Ada apa dengan dia ? Tak seperti biasa..”
“Ibu, minumannya satu. Ini uangnya...” Kata viny sambil membayar minumannya, mengambil minumannya, lalu langsung balik ke kelas.
Bel pulang pun berbunyi. Tak seperti biasanya, aldo pergi ke parkiran sendirian dan langsung pulang ke rumah. Dia tidak bersama-sama dengan rekan OSIS lainnya. “Mana Aldo ?” tanya Roni. “Mungkin dia sudah pulang duluan. Ya kali ada tugas rumah yang harus dikerjakan” kata reihan. “Iya mungkin” sahut rekan OSIS lainnya. “Hmm.. Tapi tidak seperti ini caranya. Seharusnya dia kasih tau dulu ke aku kalau memang dia mau pulang cepat. Tadi mukanya agak lesu waktu berpapasan sama dia di lorong perpustakaan” kata roni penuh curiga. “Ya mungkin kali ‘kan saking banyak tugasnya, mukanya langsung lesu begitu” kata reihan. “Mungkin” sahut yang lain. “Ya sudah. Aku balik, ya ?” kata roni sambil melambaikan tangannya dan langsung pulang.
Sampai dirumah, aldo langsung masuk ke kamarnya. Dia berbaring sambil menatap ke dinding kamarnya. “mungkinkah mereka berdua pacaran ? Sahabatku sendiri ? aku belum yakin. Aku harus mencari tau kebenarannya”. Tiba-tiba HP aldo berbunyi. Ada pesan baru yang masuk.
“Siang. Aldo, kenapa sikapmu ke aku tadi kayak gitu ? aku ada salah ya sama kamu ? Aku minta maaf, ya ?” Isi pesan Viny.
“Hmm.. tolong jangan ganggu aku, kak. Plisss....” balas aldo.
“Kenapa ?”
Kemudian, Viny menelepon aldo.
“Aldo, kenapa kamu begini ?” tanya viny. “Maaf, kak. Pliss... Jangan ganggu aldo” Aldo langsung menutup panggilan viny dan mematikan Hpnya. “Mudah-mudahan sikapku kali ini ada benarnya. Amin”.
Menjelang sore, aldo memilih untuk jalan-jalan ke taman, sekedar menenangkan hati dan pikirannya. Ketika dia berjalan cukup jauh dari rumahnya, reihan datang menghampirinya dengan motor.
“Al, kamu mau kemana ?” tanya reihan. “Eh, rei. Aku mau ke taman kota. Biasa, mau cari inspirasi” kata aldo sambil berjalan.
“Mau aku antarin ?” tawar reihan yang masih berada diatas motor.
“Nggak usah ‘lah. Aku masih bisa jalan kaki. Lagian juga sudah deket. Makasih, ya ?” tolak aldo dengan sopan.
“Ya sudah. Aku pergi”.
Setelah sampai ditaman, dia duduk di tepi kolam yang ada di taman. “Hmm... Kenapa jadi begini, yah ? kalau memang hal itu terjadi, berarti aku berada di antara dua pilihan” kata aldo dengan sedikit menundukan kepalanya. Kemudian, dia pun beranjak dari tepi kolam dan jalan ke sekeliling taman. Setelah hatinya agak tenang, dia pun membeli martabak di tepi jalan dekat taman kota dan membawa pulang untuk ibunya.
Sesampainya di rumah, aldo kaget. Di rumahnya ada roni, ketua OSIS di sekolahnya. Tidak biasanya roni mengunjungi rumah rekan-rekan OSISnya. “Pasti ada sesuatu yang mau dibicarakan ke aku nih” ujar aldo dalam hati.
“Selamat sore. Eh, ada roni. Tunggu sebentar, ya ron. Aku mau ngasih ini ke ibuku” kata aldo sambil berjalan ke dapur. “ini, bu martabaknya. Aku mau ke depan dulu. Ada ketua OSIS dari sekolahku” kata aldo. “Iya. Dia kayaknya sudah 15 menit menunggu kamu” kata ibu aldo. Lalu aldo menemui roni dan berbincang-bincang dengan aldo mengenai sikap dan perilaku aldo yang tiba-tiba berubah.
Selang beberapa bulan dari tersiarnya berita mengenai hubungan antara reihan dan viny, kini menjadi kenyataan dan menjadi topik pembicaraan di seluruh kelas XI. Saat aldo mendengar bahwa mereka telah sah menjalin hubungan, langsung saja aldo hilang harapan dan putus asa. Aldo melihat dengan mata kepalanya sendiri, reihan dan viny, mereka pulang dari sekolah bersama-sama. Setelah berhari-hari berita ini tersebar menjadi semakin luas, dan aldo harus menerima kenyataan pahit ini. Cintanya harus bertepuk sebelah tangan. Ia merasa seakan tak diizinkan untuk merasakan indahnya menjalin hubungan dengan orang yang ia sayangi, putus asa dan rasa kecewa sudah pasti tertanam dalam hatinya. Kini, aldo harus memilih, mengorbankan perasaannya demi sahabatnya reihan, atau malah memilih memperjuangkan cintanya kepada viny, walau ia harus menyakiti perasaan sahabatnya sendiri. Ia tak ingin menyakiti perasaan reihan. Namun, ia juga tak ingin menyakiti perasaannya sendiri. Aldo benar-benar tak bisa memilih, antara sahabtnya atau perasaan cintanya. Ingin rasanya, viny pindah sekolah lagi, agar tak seorang pun dari dirinya maupun reihan yang harus memiliki viny. Namun, tak ada lagi yang bisa diperbuat oleh aldo. Nasi telah menjadi bubur. Kini ia hanya bisa berharap agar tak ada dendam yang tercipta diantara mereka bertiga.
Sekian cerpen dari saya. Bagaimana ? Bagus nggak ? Hehe :) Maklum baru belajar membuat :D Silahkan komentar yah jika ada kesalahan. Terima kasih, sahabat :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar