Angin musim gugur berhembus perlahan menerbangkan dedaunan.
Menyibakkan rambut hitam legam yang terurai bebas. Maura, gadis yang
tengah termenung di sebuah kursi kayu tua. Fokusnya
hanya tertuju pada
daun-daun yang menghampar di hadapannya. Tatapannya seperti kosong.
Sesekali Ia tersenyum. Senyum yang terkesan hambar.
“Dimana kunci rumahku?” Tanya Maura yang sibuk menyibakkan dedaunan yang telah gugur.
“Tidak sengaja kujatuhkan. Tenanglah, aku akan membantumu mencarinya, kamu lupa kalau aku ini bertanggung jawab?” Kekasihnya itu masih juga bercanda di tengah khawatirnya Maura.
“Kenapa ceroboh sekali?” Maura kesal untuk kesekian kalinya.
“Ya, aku minta maaf,” kata kekasihnya. Bukan sibuk menyibak dedaunan yang dipijaknya, Ia hanya tersenyum melihat Maura yang khawatir setengah mati.
“Ada ulat!” Pekik kekasihnya.
“Aaa!!!” Maura ikut memekik. Ia berbalik badan dan langsung bersembunyi di balik punggung kekasihnya itu.
“Hahaha!”
“Kamu bohong?” Tanya Maura. Matanya sedikit berair.
“Termasuk kunci rumahmu.”
Maura menatap kesal kekasihnya. Genangan air di matanya semakin menumpuk. Rasa kesal dan marah semakin menyelimuti.
“Maaf. Aku hanya ingin mengajakmu bercanda. Jangan menangis.” Uluran tangan hangat itu membelai lembut wajahnya. Menyeka cairan bening yang menetes dengan anggun.
“Tidak sengaja kujatuhkan. Tenanglah, aku akan membantumu mencarinya, kamu lupa kalau aku ini bertanggung jawab?” Kekasihnya itu masih juga bercanda di tengah khawatirnya Maura.
“Kenapa ceroboh sekali?” Maura kesal untuk kesekian kalinya.
“Ya, aku minta maaf,” kata kekasihnya. Bukan sibuk menyibak dedaunan yang dipijaknya, Ia hanya tersenyum melihat Maura yang khawatir setengah mati.
“Ada ulat!” Pekik kekasihnya.
“Aaa!!!” Maura ikut memekik. Ia berbalik badan dan langsung bersembunyi di balik punggung kekasihnya itu.
“Hahaha!”
“Kamu bohong?” Tanya Maura. Matanya sedikit berair.
“Termasuk kunci rumahmu.”
Maura menatap kesal kekasihnya. Genangan air di matanya semakin menumpuk. Rasa kesal dan marah semakin menyelimuti.
“Maaf. Aku hanya ingin mengajakmu bercanda. Jangan menangis.” Uluran tangan hangat itu membelai lembut wajahnya. Menyeka cairan bening yang menetes dengan anggun.
Masih terasa semua yang telah berlalu. Bahkan untuk kenangan yang
telah lama tersimpan. Air matanya terulang untuk menetes, membawa cerita
pilu dari hati Maura untuk diserukan pada alam.
Angin tetap berhembus perlahan. Membuat dedaunan saling bergesekan
menimbulkan alunan bunyi di tengah sunyinya siang. Daun terus bergilir
jatuh. Sesekali juga menimbulkan bunyi yang memecah keheningan. Seakan
membisikkan pesan kesunyian yang juga tersembunyi di balik pohon tua.
“Kapan-kapan kita kemari lagi, bagaimana?” Kembali terngiang suara yang dirindukannya.
“Aku tidak mau! Nanti kamu bohong lagi,” Maura masih berkutat pada rasa kesalnya.
“Tidak, aku janji! Bohongku kan hanya bercanda. Ayo buat janji kita akan datang kemari lagi!” Ucap kekasihnya dengan mengacungkan kelingking kanannya.
Maura menautkan kelingkingnya. Ia sedikit tersenyum.
“Kapan-kapan kita kemari lagi, bagaimana?” Kembali terngiang suara yang dirindukannya.
“Aku tidak mau! Nanti kamu bohong lagi,” Maura masih berkutat pada rasa kesalnya.
“Tidak, aku janji! Bohongku kan hanya bercanda. Ayo buat janji kita akan datang kemari lagi!” Ucap kekasihnya dengan mengacungkan kelingking kanannya.
Maura menautkan kelingkingnya. Ia sedikit tersenyum.
Seperti mimpi di tengah lelapnya tidur, semua hilang saat terbangun.
Dan tak akan pernah berwujud nyata. Masih melingkar dengan indah cincin
berhias satu mata berlian di jari manis Maura. Cincin yang mempunyai
pasangan, namun pasangannya tak ada yang memiliki. Satu dari cincin
pasangan itu masih ada meski sang pemilik telah lama melepasnya. Maura
dengan setia menyimpannya, merawatnya sama seperti cincin yang ada di
jari manisnya.
Andai satu peristiwa mengerikan itu tak pernah terjadi, mungkin Maura akan datang kembali ke tempat yang sama bersama kekasihnya. Menghabiskan satu hari untuk mengurai canda.
Andai satu peristiwa mengerikan itu tak pernah terjadi, mungkin Maura akan datang kembali ke tempat yang sama bersama kekasihnya. Menghabiskan satu hari untuk mengurai canda.
Saat sunyinya malam tiba, Maura berjalan menembus gelapnya. Menapaki
gang-gang yang telah sunyi senyap. Tak ada yang aneh menurut
perasaannya. Angin tetap mendesir lembut membelai helaian rambutnya yang
tergerai.
Sampailah Maura pada ujung dari gang yang Ia lewati. Terdengar meski
samar-samar di telinga Maura, suara orang berjalan sejalur dengannya.
Langkahnya terdengar seperti diseret. Tidak hanya satu atau dua,
langkahnya terdengar sangat mengusik ketenangan malam. Maura mulai
was-was. Matanya menatap takut pada jalan yang Ia pijak. Hingga suara
berat itu menyapa pendengarannya.
“Hai gadis manis, kenapa jalan sendiri? Apa kau lupa ini tengah malam? Haha!” Ucap salah seorang dari mereka.
Maura mendongak. Tubuhnya bergetar takut. Mereka bertiga! Dan Maura sendiri.
“Apa kau tidak tahu nona? Jalanan ini sudah sepi! Bagaimana jika ada hantu yang membawamu? Hahaha!” Ucap salah seorang dengan perawakan lebih tinggi dari dua diantara mereka.
“Hahaha!” Mereka tertawa layaknya orang kerasukan.
Ketiganya mulai mendekat. Jalannya gontai, langkahnya diseret. Maura tak sedikitpun bergeming dari tempatnya. Rasa takutnya lebih mendominasi. Air matanya mulai berkumpul dan tubuhnya semakin bergetar karena takutnya.
“Lebih baik kau temani kami gadis manis. Setelah itu kau akan pulang dengan selamat.” Ucap orang pertama tadi. Di tangannya tergenggam sebuah botol yang masih berisi sedikit cairan.
“Lepas!” Berontak Maura kala mereka menggenggam kuat lengan Maura.
“Aku bilang lepaskan aku! Menyingkir kalian!” Teriaknya. Tak akan ada yang mendengar. Tengah malam dan ini penghujung gang.
“Sebentar saja temani kami!” Ucap orang yang mengenakan topi.
“Tolong lepaskan aku!” Teriakannya melemah seiring air matanya yang mulai menetes.
“Diamlah! Atau aku akan melukaimu! Hahaha!” Ucap orang bertopi. Di tangannya tergenggam sebuah pisau yang mengkilat sempurna di depan urat leher Maura. Maura semakin kalut. Perasaannya tak terkendali. Air mata terus menetes membasahi wajahnya.
“Maura!” Teriakan itu nyaring terdengar.
“Lepaskan Maura! Dasar manusia keji!” Gertaknya pada ketiga pemabuk yang tengah menggenggam kuat lengan Maura.
“Alfan! Tolong aku.” Maura hanya bisa berucap tanpa suaranya yang nyaris hilang.
“Hei, nak! Seberapa nyalimu? Beraninya kau menggertak kami!” Ucap orang dengan perawakan cukup tinggi. Orang itu melangkah menuju Alfan. Tak ada senjata dari keduanya, sama-sama tangan kosong. Mudah bagi Alfan untuk menjatuhkan orang tersebut yang dalam keadaan setengah sadar.
Namun kesadaran Alfan nyaris terrenggut saat salah satu teman dari pemabuk itu menghantamnya dengan botol di genggaman tangan kanannya. Amarahnya masih sanggup untuk menjatuhkan pemabuk itu.
“Hai gadis manis, kenapa jalan sendiri? Apa kau lupa ini tengah malam? Haha!” Ucap salah seorang dari mereka.
Maura mendongak. Tubuhnya bergetar takut. Mereka bertiga! Dan Maura sendiri.
“Apa kau tidak tahu nona? Jalanan ini sudah sepi! Bagaimana jika ada hantu yang membawamu? Hahaha!” Ucap salah seorang dengan perawakan lebih tinggi dari dua diantara mereka.
“Hahaha!” Mereka tertawa layaknya orang kerasukan.
Ketiganya mulai mendekat. Jalannya gontai, langkahnya diseret. Maura tak sedikitpun bergeming dari tempatnya. Rasa takutnya lebih mendominasi. Air matanya mulai berkumpul dan tubuhnya semakin bergetar karena takutnya.
“Lebih baik kau temani kami gadis manis. Setelah itu kau akan pulang dengan selamat.” Ucap orang pertama tadi. Di tangannya tergenggam sebuah botol yang masih berisi sedikit cairan.
“Lepas!” Berontak Maura kala mereka menggenggam kuat lengan Maura.
“Aku bilang lepaskan aku! Menyingkir kalian!” Teriaknya. Tak akan ada yang mendengar. Tengah malam dan ini penghujung gang.
“Sebentar saja temani kami!” Ucap orang yang mengenakan topi.
“Tolong lepaskan aku!” Teriakannya melemah seiring air matanya yang mulai menetes.
“Diamlah! Atau aku akan melukaimu! Hahaha!” Ucap orang bertopi. Di tangannya tergenggam sebuah pisau yang mengkilat sempurna di depan urat leher Maura. Maura semakin kalut. Perasaannya tak terkendali. Air mata terus menetes membasahi wajahnya.
“Maura!” Teriakan itu nyaring terdengar.
“Lepaskan Maura! Dasar manusia keji!” Gertaknya pada ketiga pemabuk yang tengah menggenggam kuat lengan Maura.
“Alfan! Tolong aku.” Maura hanya bisa berucap tanpa suaranya yang nyaris hilang.
“Hei, nak! Seberapa nyalimu? Beraninya kau menggertak kami!” Ucap orang dengan perawakan cukup tinggi. Orang itu melangkah menuju Alfan. Tak ada senjata dari keduanya, sama-sama tangan kosong. Mudah bagi Alfan untuk menjatuhkan orang tersebut yang dalam keadaan setengah sadar.
Namun kesadaran Alfan nyaris terrenggut saat salah satu teman dari pemabuk itu menghantamnya dengan botol di genggaman tangan kanannya. Amarahnya masih sanggup untuk menjatuhkan pemabuk itu.
Sedetik berlalu terasa oksigen lenyap saat Maura melihat di
hadapannya, pemabuk yang mengenakan topi itu menusuk Alfan. Tepat
mengenai jantungnya. Bibir Maura bergetar, lututnya menghantam kerasnya
bebatuan yang Ia pijak. Pemabuk itu lantas mencabut paksa pisau yang
menancap sempurna di jantung Alfan. Tangannya juga bergetar. Pisau itu
terjatuh. Si pemilik lantas pergi. Ia juga meninggalkan kedua temannnya.
“Alfan,” bisik Maura. Rasa kalutnya bertambah. Menguasai pikiran dan
perasaannya. Dengan posisi duduknya, Maura mendekat pada Alfan yang
telah usai untuk bernafas.
“Alfan, kumohon, bangun. Alfan! Alfan!” Tangis Maura berhambur bebas di atmosfer.
Jiwanya terguncang. Hatinya telah terhantam karang, hancur tak menentu. Kejadian yang berlalu bagai angin menyapu gurun maha luas. Menghantarkan butiran pasir pada bekunya batu. Melekat selamanya, jauh terpisah dari bagiannya. Mungkin ini yang dapat melukiskan jiwa Maura yang tengah terpisah dari raganya.
Hanya Tuhan yang sanggup mendengar jeritan hatinya yang pilu. Yang terus menyerukan untuk mengembalikan kenangan-kenangannya bersama Alfan.
“Alfan, kumohon, bangun. Alfan! Alfan!” Tangis Maura berhambur bebas di atmosfer.
Jiwanya terguncang. Hatinya telah terhantam karang, hancur tak menentu. Kejadian yang berlalu bagai angin menyapu gurun maha luas. Menghantarkan butiran pasir pada bekunya batu. Melekat selamanya, jauh terpisah dari bagiannya. Mungkin ini yang dapat melukiskan jiwa Maura yang tengah terpisah dari raganya.
Hanya Tuhan yang sanggup mendengar jeritan hatinya yang pilu. Yang terus menyerukan untuk mengembalikan kenangan-kenangannya bersama Alfan.
Skenario kehidupan ini telah membuat hatinya hancur, sehancur kapal
yang menghantam karang di laut lepas. Pecah menjadi kepingan kecil yang
tersebar tak tentu. Bagaimana agar kepingannya itu menyatu? Apa yang
dapat menolongnya di tengah badai laut?
“Kamu memang tidak pernah menepati janjimu. Kamu janji kita akan datang ke tempat ini lagi, tapi kamu pergi. Aku datang sendiri, Fan.” Maura tersenyum getir, mengingat setiap ucapannya yang kini hanya tinggal bayangan yang akan terus berputar menjadi rol film kehidupannya.
“Kamu memang tidak pernah menepati janjimu. Kamu janji kita akan datang ke tempat ini lagi, tapi kamu pergi. Aku datang sendiri, Fan.” Maura tersenyum getir, mengingat setiap ucapannya yang kini hanya tinggal bayangan yang akan terus berputar menjadi rol film kehidupannya.
Maura menatap cincin yang berkilau indah karena terpaan sinar surya.
Satu berpemilik, sedang yang satu tak akan pernah ada yang memiliki.
“Selama cincin ini ada di dekatku, selama itu juga aku akan menganggapmu ada.”
Maura menggenggam erat kedua cincin di telapak tangannya. Air matanya kembali menetes. Maura menunduk, membiarkan air matanya menetes membasahi tanah yang hijau. Berharap air matanya akan membawakan cerita tentang kepedihan hatinya pada bumi.
“Selama cincin ini ada di dekatku, selama itu juga aku akan menganggapmu ada.”
Maura menggenggam erat kedua cincin di telapak tangannya. Air matanya kembali menetes. Maura menunduk, membiarkan air matanya menetes membasahi tanah yang hijau. Berharap air matanya akan membawakan cerita tentang kepedihan hatinya pada bumi.
Cerpen Karangan: Zelin Prastika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar