4 tahun pacaran membuat Vicky
sangat mengenal sosok Rara pujaan hatinya, gadis yang cuek dan
selalu bersikap dingin kepada siapapun, gadis yang sama sekali tak peduli dengan apa yang orang lain katakan. Dan yang paling dia sukai dari Rara yaitu tidak mudah untuk menangis, apalagi hanya karena seorang lelaki, sesakit apapun hatinya, sehancur bagaimanapun jiwanya dia tidak akan menangis, terlebih jika lelaki itu menghianatinya, menurut Rara tangisan buat lelaki yang seperti itu sama sekali tidak ada gunanya. Prinsipnya hanya satu sekali saja ada orang yang menghianatinya, ia takkan mempercayainya sampai kapanpun. Namun itulah yang membuat Vicky tergila-gila kepada sosok Rara,,, dengan usahanya lelaki tampan itu pun akhirnya berhasil mencuri hati gadis dingin itu dengan susah payah
***Rara terus berlari menerobos padatnya kenderaan pagi ini,, perkataan Melfi ditelepon barusan masih mengiang-ngiang difikirannya “Vicky kecelakaan” Ra”
Langkah gadis itu terhenti ketika melihat melihat kerumunan orang yang ada dihadapannya, matanya perih berkaca-kaca menatap mobil lelaki yang biasa mngantar jemputnya hancur akibat kecelakaan maut beberapa menit lalu. Matanya kemudian tertuju pada tubuh yang tergeletak tak berdaya di aspal berdebu itu. Menit kemudian ambulance datang membawa lelaki tampan yang kini berlumuran darah menuju rumah sakit. Rara terpaku diam seribu bahasa tubuhnya bergetar, pandangannya semakin kabur dan gelap.
**
Rara membuka matanya, kepala gadis itu masih terasa sakit, Melfi tersenyum melihat sahabatnya siuman
“ Syukurlah kau sudah sadar Ra”
“Aku dimana ?” Tanya gadis bermata biru itu
“Dirumah sakit, tadi kau pinsan” Jelas Melfi
Rara mengangguk mengerti. Telinganya kini menangkap suara tangis histeris dari luar ruangan.
“Vicky” katanya lagi
Melfi diam pelupuk matanya kini mulai menampung cairan bening. Tanpa berkata lagi Rara meloncat dari tempat tidurnya untuk mencari Vicky.
Diluar ruangan terlihat keluarga Vicky menatapnya haru “Apa yang terjadi ?” fikirnya gelisah. Langkahnya dipercepat memasuki ruangan tempat Vicky berada. Lagi-lagi tubuh Rara bergetar hebat melihat seluruh badan lelaki itu kini ditutupi dengan kain putih. Walau tertatih gadis itu terus berjalan mendekatinya.
“Vicky meninggal Ra” kata Melfi terisak dari ambang pintu
“Diam” bentak Rara
“Vicky, bangun ki” ucapnya.
“Aku tidak menyukai permainan ini..Vicky !!!”
“ Bukankah kau pernah berjanji tidak akan membuatku menangis ! kenapa kau mengingkari janjimu ?”matanya menatap sosok bertubuh kaku itu tanpa ekspresi. Raut wajahnya masih terlihat tidak menampakkan kesedihan sama sekali.
“Vicky, apakah kau benar-benar akn membuat ku menangisimu ? Vicky bangun..aku membencimu ki, membencimu” teriak Rara, kesedihannya kini tidak bisa dibendung lagi, sungai-sungai kecil mulai terbentuk dipipinya yang chubby.
“Vickiiii” teriak Rara lagi, digoncangnya tubuh lelaki itu, lalu memeluknya tangisnya pecah seketika.
Rara membuka kain putih yang sedari tadi menutupi wajah lelaki pujaan hatinya. Memandangnya lekat, terlintas lagi kenangan-kenangan indah bersama Vicky difikirannya..
“Kumohon jangan pergi”isaknya yang hampir tidak terdengar
Rara tercenggang menyadari tubuh Vicky yang bergerak, matanya membulat sempurna saat menatap Vicky yang pelan-pelan membuka matanya.
Vicky tersenyum “aku tidak akan meninggalkanmu” ucapnya
Tubuh Rara gemetar, kemudian melepas pelukannya dari tubuh Vicky.
“Tidak usah takut aku hanya mengujimu !!” ucap lelaki itu lagi
Tatapan Rara kemudian tertuju pada Melfi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu. Melfi pun terlihat tersenyum bahagia. Sedetik kemudian keluarga Rara dan Vicky masuk ke ruangan itu dengan wajah berseri-seri
Vicky menggenggam tangan Rara erat “ Rara will you Marry me ??” tanyanya kemudian
Gadis itu kaget,,”jadi semua ini hanya sandiwara ??” fikirnya kemudian.. “Vicky melamarku” batinnya lagi yang masih belum percaya dengan apa yang disaksikannya
“Rara” kata Vicky lagi.. Rara tersenyum kemudian menjawabnya dengan suara gemetar
“iaa,,I want to marry you” Vicky tersenyum manis, mengeluarkan cincin berlian dari saku celananya kemudian memasangkannya di jari manis gadis itu. Lalu memeluknya erat
“Aku tidak menyangka kau akan sehisteris itu melihatku pergi” bisik Vicky ditelinga Rara. Gadis itu memanyunkan bibirnya mencubit lengan pacarnya kuat. Vicky meringis kesakitan
“Kau tau aku sangat takut kehilanganmu. Kumohon jangan pergi” jawab Rara berbisik.
Vicky tersenyum senang.
END
selalu bersikap dingin kepada siapapun, gadis yang sama sekali tak peduli dengan apa yang orang lain katakan. Dan yang paling dia sukai dari Rara yaitu tidak mudah untuk menangis, apalagi hanya karena seorang lelaki, sesakit apapun hatinya, sehancur bagaimanapun jiwanya dia tidak akan menangis, terlebih jika lelaki itu menghianatinya, menurut Rara tangisan buat lelaki yang seperti itu sama sekali tidak ada gunanya. Prinsipnya hanya satu sekali saja ada orang yang menghianatinya, ia takkan mempercayainya sampai kapanpun. Namun itulah yang membuat Vicky tergila-gila kepada sosok Rara,,, dengan usahanya lelaki tampan itu pun akhirnya berhasil mencuri hati gadis dingin itu dengan susah payah
***Rara terus berlari menerobos padatnya kenderaan pagi ini,, perkataan Melfi ditelepon barusan masih mengiang-ngiang difikirannya “Vicky kecelakaan” Ra”
Langkah gadis itu terhenti ketika melihat melihat kerumunan orang yang ada dihadapannya, matanya perih berkaca-kaca menatap mobil lelaki yang biasa mngantar jemputnya hancur akibat kecelakaan maut beberapa menit lalu. Matanya kemudian tertuju pada tubuh yang tergeletak tak berdaya di aspal berdebu itu. Menit kemudian ambulance datang membawa lelaki tampan yang kini berlumuran darah menuju rumah sakit. Rara terpaku diam seribu bahasa tubuhnya bergetar, pandangannya semakin kabur dan gelap.
**
Rara membuka matanya, kepala gadis itu masih terasa sakit, Melfi tersenyum melihat sahabatnya siuman
“ Syukurlah kau sudah sadar Ra”
“Aku dimana ?” Tanya gadis bermata biru itu
“Dirumah sakit, tadi kau pinsan” Jelas Melfi
Rara mengangguk mengerti. Telinganya kini menangkap suara tangis histeris dari luar ruangan.
“Vicky” katanya lagi
Melfi diam pelupuk matanya kini mulai menampung cairan bening. Tanpa berkata lagi Rara meloncat dari tempat tidurnya untuk mencari Vicky.
Diluar ruangan terlihat keluarga Vicky menatapnya haru “Apa yang terjadi ?” fikirnya gelisah. Langkahnya dipercepat memasuki ruangan tempat Vicky berada. Lagi-lagi tubuh Rara bergetar hebat melihat seluruh badan lelaki itu kini ditutupi dengan kain putih. Walau tertatih gadis itu terus berjalan mendekatinya.
“Vicky meninggal Ra” kata Melfi terisak dari ambang pintu
“Diam” bentak Rara
“Vicky, bangun ki” ucapnya.
“Aku tidak menyukai permainan ini..Vicky !!!”
“ Bukankah kau pernah berjanji tidak akan membuatku menangis ! kenapa kau mengingkari janjimu ?”matanya menatap sosok bertubuh kaku itu tanpa ekspresi. Raut wajahnya masih terlihat tidak menampakkan kesedihan sama sekali.
“Vicky, apakah kau benar-benar akn membuat ku menangisimu ? Vicky bangun..aku membencimu ki, membencimu” teriak Rara, kesedihannya kini tidak bisa dibendung lagi, sungai-sungai kecil mulai terbentuk dipipinya yang chubby.
“Vickiiii” teriak Rara lagi, digoncangnya tubuh lelaki itu, lalu memeluknya tangisnya pecah seketika.
Rara membuka kain putih yang sedari tadi menutupi wajah lelaki pujaan hatinya. Memandangnya lekat, terlintas lagi kenangan-kenangan indah bersama Vicky difikirannya..
“Kumohon jangan pergi”isaknya yang hampir tidak terdengar
Rara tercenggang menyadari tubuh Vicky yang bergerak, matanya membulat sempurna saat menatap Vicky yang pelan-pelan membuka matanya.
Vicky tersenyum “aku tidak akan meninggalkanmu” ucapnya
Tubuh Rara gemetar, kemudian melepas pelukannya dari tubuh Vicky.
“Tidak usah takut aku hanya mengujimu !!” ucap lelaki itu lagi
Tatapan Rara kemudian tertuju pada Melfi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu. Melfi pun terlihat tersenyum bahagia. Sedetik kemudian keluarga Rara dan Vicky masuk ke ruangan itu dengan wajah berseri-seri
Vicky menggenggam tangan Rara erat “ Rara will you Marry me ??” tanyanya kemudian
Gadis itu kaget,,”jadi semua ini hanya sandiwara ??” fikirnya kemudian.. “Vicky melamarku” batinnya lagi yang masih belum percaya dengan apa yang disaksikannya
“Rara” kata Vicky lagi.. Rara tersenyum kemudian menjawabnya dengan suara gemetar
“iaa,,I want to marry you” Vicky tersenyum manis, mengeluarkan cincin berlian dari saku celananya kemudian memasangkannya di jari manis gadis itu. Lalu memeluknya erat
“Aku tidak menyangka kau akan sehisteris itu melihatku pergi” bisik Vicky ditelinga Rara. Gadis itu memanyunkan bibirnya mencubit lengan pacarnya kuat. Vicky meringis kesakitan
“Kau tau aku sangat takut kehilanganmu. Kumohon jangan pergi” jawab Rara berbisik.
Vicky tersenyum senang.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar