Perasaan anda mengunjungi Blog saya ? Kalau ada kekurangan, silahkan mampir ke daninad23@gmail.com

Rabu, 26 November 2014

Maaf, aku mencintaimu !

Karya: Sitti Rahma Sari

“Bagaimana Ra ? rumahnya ?” Tanya pak Tedi pada Era anaknya sembari menatap rumah baru
mereka dengan sebuah sunggingan senyum. Gadis itu memandang bangunan bercat melon didepannya tanpa ekspresi, seakan mengatakan “Ini biasa saja yah”

“Era”panggil ibunya kemudian. Tanpa menjawab gadis berambut hitam kecoklatan itu langsung melangkahkan kakinya memasuki pintu utama rumah bergaya klasik tersebut. Bagi Era semuanya akan sama saja seperti sebelumnya. Ini sudah yang kesekiankalinya mereka pindah rumah, profesi ayahnya sebagai tentara menjadi penyebab utama mereka sering berpindah-pindah daerah. Ini akan percuma fikirnya menyadari bahwa tidak lama kemudian ayahnya pasti dipindahkan lagi.

“Ayah janji setelah hari ini tidak aka nada kalimat pindah lagi” seru ayahnya. Era tersenyum getir itu juga kata yang sudah didengarnya berulang kali.. Kaki mungil Era beranjak mencari kamar yang cocok untuknya setelah menemukannya, gadis 17 tahun itu kemudian mengeluarkan satu per satu barang-barangnya dari kopor untuk diatur. Lengkungan kecil tiba-tiba membentuk di kedua sudut bibir merah mudanya, ketika tangannya menggenggam sebelah sepatu kecil anak laki-laki “ Aku berharap suatu saat akan menemukan pasanganmu” gumamnya pada sepatu itu.

# Ini hari pertama Era masuk sekolah barunya SMA Pancasila, dengan wajah datarnya ia memperkenalkan diri sedannya didepan seluruh siswa kelas XII ipa 3, masuk kelingkungan sekolah baru sudah menjadi hal biasa bagi gadis ini, tidak ada lagi kata malu yang bisa menyengat batinnya, pribadinya yang terkesan cuek membuat dirinya tidak sulit untuk beradaptasi.

“ERA”seseorang memanggil namanya, ketika dia baru saja keluar kelas, gadis itu langsung menoleh, dihadapannya kini berdiri seorang lelaki berkulit putih dengan rambut jatuh yang menghiasi kepalanya, dia melemparkan seulas senyum manisnya pada Era yang dibalas dengan tatapan bingung oleh gadis itu

“Kau Era kan ?” tanyanya sambil berjalan mendekati Era yang kini diam mematung

“Heh, sudah kuduga, kita pasti akan bertemu lagi” ucap lelaki itu masih tetap tersenyum, kening Era berkerut lucu.

“Siapa dia ? Kenapa mengenalku ? Apa aku pernah bertemu dengannya ?” benak Era dihujani banyak pertanyaan. Lelaki itu kemudian mendekatkan wajahnya mencoba memperhatikan wajah Era dengan saksama, hidungnya yang mancung hampir saja menyentuh hidung Era yang biasa saja. Sontak gadis itu menjauh.

“Apa kau sakit ? aku tidak mengenalmu ! kau mungkin salah orang” jawab Era risih, kekecewaan Nampak jelas pada raut wajah lawan bicaranya kini. Gadis itu langsung beranjak meninggalkan orang yang tak dikenalnya, kerena masih ada yang lebih penting dari pada berdebat dengan orang ini, yaitu MAKAN !, perut Era yang kelaparan sudah meronta-ronta tak karuan. Sedari tadi.

“Hey ya ampun jadi kau tidak mengenalku sama sekali !” sahut lelaki itu lagi, seraya mencoba mengejar Era dengan mensejajarkan posisinya. Era tak menjawab, Lelaki berbadan atletis itu mengikutinya sampai kekantin bahkan mereka kini duduk berhdapan di meja yang sama.

“Masa kau tak mengenalku” dia kembali berdesah, dengan pertanyaan yang sama sambil terus menatap Era yang sedang asik menyantap baksonya. Gadis didepannya menatapnya sesaat lalu mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.

“Era ini aku Fahri, teman kecilmu” Era menyipitkan matanya mencoba mengingat-ngingat orang bernama Fahri pada masa lalunya, namun sepertinya otak Era tidak berfungsi dengan baik. Gadis itu kembali menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak mengingat sosok Fahri sama sekali. Lelaki itu mengerucutkan bibir tipisnya kesal.

“Kalau begitu aku akan membuatmu mengingatku sampai tak bisa melepaskanku lagi” Fahri tersenyum riang.

“Apa-apaan dia ?” Era membatin tak kalah kesalnya seraya memasukkan sesendok bakso bulat kedalam mulutnya.

“Ngomong-ngomong”Fahri menjeda ucapannya sesaat dengan memperhatikan setiap lekuk wajah Era

“Kau makin cantik saja sekarang” lanjutnya lagi. Era tercenggang

“Kau mau mati ya ?” ancam Era sambil mengacungkan garpu tepat di depan mata Fahri. Gadis yang satu ini memang sangat tidak suka dipuji seperti itu. Fahri kaget, namun sedetik kemudian ia tersenyum lagi menunjukan lesung pipitnya.

“Kau memang tidak pernah berubah Ra ” ujar Fahri, Era memalingkan wajahnya.

“Bicara apa dia ? dasar aneh” celutuk Era dalam benaknya. Selesai makan Era memilih untuk berjalan-jalan melihat suasana sekolah.

“Kau ! ”panggil Era pada Fahri yang berada dibelakangnya.

“Mengapa mengikutiku terus dari tadi ?”tanyanya, lelaki dengan rambut yang menutu pidahinya itu cengir kuda.

“Aku akan menemanimu, berkeliling sekolah ini” katanya bangga

“Tidak perlu ! aku hanya ingin keperpustakaan” jawab Era, lalu melangkahkan kakinya lagi.

“Kalau begitu aku akan menemanimu ke perpustakaan” gadis itu diam tak menjawab.

“Lagipula aku yakin kau tidak tau pasti dimana letak perpustakaan disini ! iya kan ?hahaha” Fahri mengoceh sambil terus mengikuti langkah kaki Era. Gadis dengan rambut panjangnya yang terurai itu masih saja menutup mulutnya, Era sama sekali tak membutuhkan bantuan dia, lagi pula lelaki disampingnya kini benar-benar membuatnya pusing. Era menghentikan jalannya seketika, kemudian memperhatikan dengan saksama label ruangan yang berada dihadapannya sekarang.

“TOILETGURU” Era kebingungan, gadis itu kemudian melirik kearah Fahri yang terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya

“Sudah kuduga kau pasti akan tersesat. Mau apa kau ke toilet guru hah ? hahaha” tawa Fahri meledak. Era salting lalu membulatkan matanya.

“Sial dia menertawaiku” keluh Era yang lagi-lagi dalam batinnya. Fahri menghentikan tawanya melihat Era yang menatap jengkel ke arahnya.

“Makanya jangan sok ! ayo, akan ku antarkan kau” ajak lelaki itu seraya menggenggam tangan gadis di sampingnya. Era menurut sambil memasang tampang innocentnya.

@perpustakan
Era meneliti satu per satu buku yang berjejer rapi dihadapannya, pandangannya kini tertuju pada sebuah novel bernuansa biru polkadot pada rak rak paling atas. Dia berfikir sesaat sebelum kemudian mencoba meraih novel itu.

“Yap 2cm lagi, aku hampir menggapainya” batin Era seraya berusaha meninggikanbadannya dengan tangan yang terjulur lurus ke atas. Tiba-tiba dengan santainya Fahri meraih novel itu tanpa merasakan kesulitan. Era terbelalak seketika lelaki itu membisikkan sesuatu ditelinganya.

“Dasar pendek !” ucap Fahri tersenyum mengejek. Era memutar otaknya mencerna kata yang baru didengar itu.

“Kyaaa apa katanya pendek ! kurang ajar !” dengan cepat tangan halus Era meraih novel digenggaman Fahri. Merasa tak senang, lelaki dengan mata sipitnya itu melotot lucu kearah Era, lalu merebut kembali novelnya secara paksa. Gadis itu mambalas dengan membulatkan mata hijau ke abu-abuannya besar-besar.

“Kau fikir aku mengambilkan novel ini untukmu hah ! enak saja” celutuk Fahri. Era menggigit bibir bawahnya kesal.

“Tapi aku yang menemukannya” bantah Era yang akhirnya bersuara. Fahri mendekatkanwajahnya lalu memiringkan kepalanya kekiri dan kekanan.

“Kan aku yang mengambilnya” ujar lelaki itu seraya mengangkat-ngangkat alisnya, membuat Era naik pitam.

“Sarap kau” sungut gadis itu tajam kemudian berlalu meninggalkan Fahri yang masih berdiri dengan memasang tampang tak bersalah.

“Apa kau! akh dasar gadis galak !” ucap Fahri yang lagi-lagi mengikuti Era dari belakang. Era sendiri tak menggubrisnya sembil berjalan terus dengan pandangan lurus kedepan.

# Hari pertama Era disekolah barunya berkesan buruk dengan kehadiran Fahri, lelaki rese yang sangat suka mengikutinya dan membuatnya kesal. Hingga berminggu-minggu kemudian. Fahri masih sja membuat Era risih dia hanya mau gadis blasteran itu dapat mengingatnya. Mereka berdua pernah sangat akrab sewaktu kecil. Kebiasaan Era yang berpindah-pindah daerah membuatnya kurang mengingat perihal teman-teman kecilnya dulu.

## Era berjalan gontai disepanjang koridor, langkah kakinya terhenti tepat didepan kelas XI ipa 1, pandangannya mengamati tiap-tiap siswa yang berada dalam kelas itu. Raut wajahnya berubah menampakkan kekecewaan ketika menyadari lelaki yang merupakan adik kelasnya itu ternyata tidak ada didalm. Yah, ini adalah hari keempat Fahri tidak masuk sekolah, entah apa yang terjadi pada anak itu ? ini terlalu anomali menurutnya, ia benar-benar merasa kehilangan, hari-harinya terasa kelabu tanpa Fahri, Era mendesah lalu berjalan menuju kelasnya.

#Bel pertanda pulang akhirnya menggema di seluruh penjuru sekolah. Era mengemas bukunya kemudian berjalan santai keluar kelas. Kakinya tanpa sengaja membawanya menuju sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan utama, itu adalah gudang sekolah yang terlihat sangat sepi. Logikanya sama sekali tak berniat untuk langsung pulang ke rumah hari ini. Samar-samar terdengar suara musik klasik dari belakang gudang tersebut. Era mempercepat langkahnya merasa seperti de javu dengan suara itu. Matanya terpana dengan apa yang ada dihadapannya kini. Lelaki itu, musik klasik itu, harmonika yang dipakainya, ia mengenalnya. Serentak fikiran Era membuka kembali arsip kenangan masa silam yang pernah terlupakan olehnya.

Flashback
“Era apa kau akan pindah hari ini juga ?” Tanya bocah lelaki gendut yang masih berumur 8tahun itu. Era kecil pun mengangguk.

“Kalau begitu aku akan memainkan harmonika sekali lagi untukmu” ucapnya. Ia pun mengeluarkan sebuah harmonika dari saku dan kemudian mulai memainkan musik klasik indah favorit Era, gadis itu berdecak kagum entah kenapa dia tak pernah bosan dengan hal ini, walaupun dia sudah mendengarnya berulang kali. Selesai bergelayut dengan harmonikanya, anak lelaki gendut itu tiba-tiba melepas sebelah sepatunya.

“ambillah sebelah sepatu ini. Aku tidak mempunyai apa-apa yang bisa diberikan sebagai kenangan, Tenanglah sepatu itu masih baru” ucapnya polos seraya menyunggingkan senyum di pipinya yang chubby. Era mengambilnya dengan ragu.

“Kau kampungan sekali. Kenapa harus sepatu ini ? kenapa tidak harmonika itu saja ?”protes Era manyun.

“Tidak bisa. Harmonika ini satu-satunya peninggalan ayahku. Sudahlah sepatu itu saja”sahut Fahri kecil

“Baiklah kalau begitu aku pergi sekarang. Sampai jumpa Ari (nama kecil Fahri)” jawab Era sambil melambaikan tangannya beranjak menaiki mobil yang sudah siap untuk berangkat.

“Sampai jumpa. Percayalah kita pasti akan bertemu lagi Era” kata Fahri setengah berteriak
Flashback End

Era tersenyum getir mengingat kejadian itu.Tidak salah lagi, Fahri yang ini pasti orangnya. Fahri yang dulunya adalah bocah gendut lucu teman kecilnya. Lelaki dihadapannya menghentikan permainannya, dia keget melihat Era yang kini berdiri didepannya. Era memandangharmonika digenggaman Fahri yang kini terlihat sudah lusuh termakan usia.

“Era !”ujar lelaki itu

“Kau kemana saja belakangan ini ?” Tanya Era to the point

“ohh,,itu hehe ibuku sakit jadi aku harus menjaganya” jawab Fahri cengengesan

“Lalu kenapa kau tidak menghampiriku seharian ini ?” Era mulai meninggikan nada bicaranya. Fahri tercenggang.

“Hey, hahaha apa kau begitu mengharapkan kehadiranku ? jadi kau merindukanku HH ?”celoteh Fahri kembali ke sifat aslinya yang menyebalkan. Era berdecik

“enak saja”

“hahaha, oke baiklah. O ya apa kau sudah mengingatnya ?” Fahri bertanya dengan semangat yang membara sembari menunjukan harmonika tuanya tepat di depan mata Era

“Jadi,kau anak laki-laki itu ?” ucap Era hati-hati

“Apa maksudmu ? aku memang anak laki-laki” Era mendesah segitu begonya anak ini. Fahri tersenyum tipis.

“Aku bercanda. Huh kenapa tidak dari dulu saja kau mengingatku ?” Fahri mengangkat sebelah alisnya. Era diam tak menjawab.

“oh, aku tau mungkin karena aku yang sekarang lebih tampan. Hahaha ia kan ? aku tau dulu aku gendut. Tapi sekarang tidak kan ! makanya kau tak mengingatku” Fahri mengoceh dengan mendeskripsikan sendiri jawaban yang akan Era berikan.

“Cerewet sekali kau ! coba sekarang tunjukkan mana sebelah sepatu kecilmu yang dulu itu?” sahut Era

“Sepatu itu ya !” Fahri berfikir sejenak
“Baiklah akan ku tunjukan dengan satu syarat !” pintanya. Era memalingkan wajahnya dingin tanpa menjawab

“Kau harus menjadi kekasihku. Bagaimana ?” ujar Fahri lengkap dengan senyum manisnya. Lagi-lagi gadis dihadapannya bungkam tak berbicara.

“Diammu akan ku artikan sebagai tanda persetujuan” Lelaki itu berdecak lalu menarik lengan Era. Gadis yang masih menggenakan seragam putih abu-abu itu kaget, tapi dia diam saja tanpa membantah. Fahri mengajak Era menaiki motor ninjanya kemudian berlalu menuju rumah Fahri.

# “Aku pindah kesini sejak 2 tahun yang lalu” jelas lelaki itu tanpa ada yang bertanya sembari turun dari motornya. Era melangkah cuek lalu duduk di kursi pada teras rumah Fahri tanpa permisi.

“Tunggulah. Aku akan mencari sepatu itu!” celutuk Fahri kemudian beranjak memasuki rumah.
5 menit
10 menit
15
20
25 menit kemudian Fahri belum juga keluar. Era mulai kehilangan kesabarannya. Gadis itupun bangkit dari duduknya.

“Era !”seseorang memanggil namanya. Dia menoleh terlihat Fahri yang baru saja muncul, dengan setetes keringat yang mengalir di dahinya.

“Aku menemukannya” ucap Fahri seraya menunjukkan sebelah sepatu kumal yang pasangannya kini berada di tangan Era. Gadis berparas cukup cantik itu melipatkan kedua tangannya di depan dada seolah tak peduli dengan itu. Fahri berjalan mendekati Era.

“Sesuai perjanjian. Kau harus menjadi kekasihku” lelaki itu tersenyum jail.

“Apa kau sudah gila ? aku ini lebih tua darimu. Lagi pula kenapa kau tadi lama sekali hah ?” sahut Era.

“Kau kenapa sih ! kita hanya berbeda satu tahun bukan ?” bantah Fahri. Era tertegun saat dirinya tiba-tiba dipeluk oleh lelaki berdada bidang didepannya.

“Maaf Ra, sebenarnya aku mencintaimu. Kau tau ! aku selalu menantimu selama 8 tahun ini. Kau masih tetap seperti dulu. Kau adalah gadisku, dan selamanya kan menjadi milikku” bisik Fahri ditelinga Era. Gadis bermata hijau keabu-abuan itu mendorong tubuh Fahri dan menatapnya penuh amarah.

“Kau marah ! aku minta maaf” raut wajah lelaki berhidung lancip itu terlihat lebih serius dari biasanya. Era mempertajam tatapannya kemudian melingkarkan kedua lengannya di leher Fahri. Lelaki itu tersentak melihat tingkah aneh gadis dihadapannya. Era lalu tersenyum manis memperlihatkan lesung pipit yang sama seperti kepunyaan Fahri. Ini adalah pertama kalinya dia tersenyum pada lelaki dihadapannya, sejak pertemuan mereka.

“Apa kau tau ! aku sangat membencimu” tegas Era. Lekuk wajah Fahri terlihat kecewa saat ini.

“dan juga mencintaimu” lanjutnya tersenyum meledek.. Fahri mencubit kedua pipi Era kesal.

“Kau fikir aku tidak membencimu hah ? aku juga sangat membencimu gadis judes” balas Fahri. Era manyun, kemudian mereka pun tertawa bersama.

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar