Karya: Sitti Rahma Sari
“Bagaimana Ra ? rumahnya ?” Tanya pak Tedi pada Era anaknya sembari
menatap rumah baru
mereka dengan sebuah sunggingan senyum. Gadis itu
memandang bangunan bercat melon didepannya tanpa ekspresi, seakan
mengatakan “Ini biasa saja yah”
“Era”panggil ibunya
kemudian. Tanpa menjawab gadis berambut hitam kecoklatan itu langsung
melangkahkan kakinya memasuki pintu utama rumah bergaya klasik tersebut.
Bagi Era semuanya akan sama saja seperti sebelumnya. Ini sudah yang
kesekiankalinya mereka pindah rumah, profesi ayahnya sebagai tentara
menjadi penyebab utama mereka sering berpindah-pindah daerah. Ini akan
percuma fikirnya menyadari bahwa tidak lama kemudian ayahnya pasti
dipindahkan lagi.
“Ayah janji setelah hari ini tidak aka
nada kalimat pindah lagi” seru ayahnya. Era tersenyum getir itu juga
kata yang sudah didengarnya berulang kali.. Kaki mungil Era beranjak
mencari kamar yang cocok untuknya setelah menemukannya, gadis 17 tahun
itu kemudian mengeluarkan satu per satu barang-barangnya dari kopor
untuk diatur. Lengkungan kecil tiba-tiba membentuk di kedua sudut bibir
merah mudanya, ketika tangannya menggenggam sebelah sepatu kecil anak
laki-laki “ Aku berharap suatu saat akan menemukan pasanganmu” gumamnya
pada sepatu itu.
# Ini hari pertama Era masuk sekolah
barunya SMA Pancasila, dengan wajah datarnya ia memperkenalkan diri
sedannya didepan seluruh siswa kelas XII ipa 3, masuk kelingkungan
sekolah baru sudah menjadi hal biasa bagi gadis ini, tidak ada lagi kata
malu yang bisa menyengat batinnya, pribadinya yang terkesan cuek
membuat dirinya tidak sulit untuk beradaptasi.
“ERA”seseorang
memanggil namanya, ketika dia baru saja keluar kelas, gadis itu
langsung menoleh, dihadapannya kini berdiri seorang lelaki berkulit
putih dengan rambut jatuh yang menghiasi kepalanya, dia melemparkan
seulas senyum manisnya pada Era yang dibalas dengan tatapan bingung oleh
gadis itu
“Kau Era kan ?” tanyanya sambil berjalan mendekati Era yang kini diam mematung
“Heh, sudah kuduga, kita pasti akan bertemu lagi” ucap lelaki itu masih tetap tersenyum, kening Era berkerut lucu.
“Siapa
dia ? Kenapa mengenalku ? Apa aku pernah bertemu dengannya ?” benak Era
dihujani banyak pertanyaan. Lelaki itu kemudian mendekatkan wajahnya
mencoba memperhatikan wajah Era dengan saksama, hidungnya yang mancung
hampir saja menyentuh hidung Era yang biasa saja. Sontak gadis itu
menjauh.
“Apa kau sakit ? aku tidak mengenalmu ! kau
mungkin salah orang” jawab Era risih, kekecewaan Nampak jelas pada raut
wajah lawan bicaranya kini. Gadis itu langsung beranjak meninggalkan
orang yang tak dikenalnya, kerena masih ada yang lebih penting dari pada
berdebat dengan orang ini, yaitu MAKAN !, perut Era yang kelaparan
sudah meronta-ronta tak karuan. Sedari tadi.
“Hey ya ampun
jadi kau tidak mengenalku sama sekali !” sahut lelaki itu lagi, seraya
mencoba mengejar Era dengan mensejajarkan posisinya. Era tak menjawab,
Lelaki berbadan atletis itu mengikutinya sampai kekantin bahkan mereka
kini duduk berhdapan di meja yang sama.
“Masa kau tak
mengenalku” dia kembali berdesah, dengan pertanyaan yang sama sambil
terus menatap Era yang sedang asik menyantap baksonya. Gadis didepannya
menatapnya sesaat lalu mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.
“Era
ini aku Fahri, teman kecilmu” Era menyipitkan matanya mencoba
mengingat-ngingat orang bernama Fahri pada masa lalunya, namun
sepertinya otak Era tidak berfungsi dengan baik. Gadis itu kembali
menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak mengingat sosok Fahri sama
sekali. Lelaki itu mengerucutkan bibir tipisnya kesal.
“Kalau begitu aku akan membuatmu mengingatku sampai tak bisa melepaskanku lagi” Fahri tersenyum riang.
“Apa-apaan dia ?” Era membatin tak kalah kesalnya seraya memasukkan sesendok bakso bulat kedalam mulutnya.
“Ngomong-ngomong”Fahri menjeda ucapannya sesaat dengan memperhatikan setiap lekuk wajah Era
“Kau makin cantik saja sekarang” lanjutnya lagi. Era tercenggang
“Kau
mau mati ya ?” ancam Era sambil mengacungkan garpu tepat di depan mata
Fahri. Gadis yang satu ini memang sangat tidak suka dipuji seperti itu.
Fahri kaget, namun sedetik kemudian ia tersenyum lagi menunjukan lesung
pipitnya.
“Kau memang tidak pernah berubah Ra ” ujar Fahri, Era memalingkan wajahnya.
“Bicara
apa dia ? dasar aneh” celutuk Era dalam benaknya. Selesai makan Era
memilih untuk berjalan-jalan melihat suasana sekolah.
“Kau ! ”panggil Era pada Fahri yang berada dibelakangnya.
“Mengapa mengikutiku terus dari tadi ?”tanyanya, lelaki dengan rambut yang menutu pidahinya itu cengir kuda.
“Aku akan menemanimu, berkeliling sekolah ini” katanya bangga
“Tidak perlu ! aku hanya ingin keperpustakaan” jawab Era, lalu melangkahkan kakinya lagi.
“Kalau begitu aku akan menemanimu ke perpustakaan” gadis itu diam tak menjawab.
“Lagipula
aku yakin kau tidak tau pasti dimana letak perpustakaan disini ! iya
kan ?hahaha” Fahri mengoceh sambil terus mengikuti langkah kaki Era.
Gadis dengan rambut panjangnya yang terurai itu masih saja menutup
mulutnya, Era sama sekali tak membutuhkan bantuan dia, lagi pula lelaki
disampingnya kini benar-benar membuatnya pusing. Era menghentikan
jalannya seketika, kemudian memperhatikan dengan saksama label ruangan
yang berada dihadapannya sekarang.
“TOILETGURU” Era kebingungan, gadis itu kemudian melirik kearah Fahri yang terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya
“Sudah
kuduga kau pasti akan tersesat. Mau apa kau ke toilet guru hah ?
hahaha” tawa Fahri meledak. Era salting lalu membulatkan matanya.
“Sial
dia menertawaiku” keluh Era yang lagi-lagi dalam batinnya. Fahri
menghentikan tawanya melihat Era yang menatap jengkel ke arahnya.
“Makanya
jangan sok ! ayo, akan ku antarkan kau” ajak lelaki itu seraya
menggenggam tangan gadis di sampingnya. Era menurut sambil memasang
tampang innocentnya.
@perpustakan
Era meneliti satu
per satu buku yang berjejer rapi dihadapannya, pandangannya kini tertuju
pada sebuah novel bernuansa biru polkadot pada rak rak paling atas. Dia
berfikir sesaat sebelum kemudian mencoba meraih novel itu.
“Yap
2cm lagi, aku hampir menggapainya” batin Era seraya berusaha
meninggikanbadannya dengan tangan yang terjulur lurus ke atas. Tiba-tiba
dengan santainya Fahri meraih novel itu tanpa merasakan kesulitan. Era
terbelalak seketika lelaki itu membisikkan sesuatu ditelinganya.
“Dasar pendek !” ucap Fahri tersenyum mengejek. Era memutar otaknya mencerna kata yang baru didengar itu.
“Kyaaa
apa katanya pendek ! kurang ajar !” dengan cepat tangan halus Era
meraih novel digenggaman Fahri. Merasa tak senang, lelaki dengan mata
sipitnya itu melotot lucu kearah Era, lalu merebut kembali novelnya
secara paksa. Gadis itu mambalas dengan membulatkan mata hijau ke
abu-abuannya besar-besar.
“Kau fikir aku mengambilkan novel ini untukmu hah ! enak saja” celutuk Fahri. Era menggigit bibir bawahnya kesal.
“Tapi
aku yang menemukannya” bantah Era yang akhirnya bersuara. Fahri
mendekatkanwajahnya lalu memiringkan kepalanya kekiri dan kekanan.
“Kan aku yang mengambilnya” ujar lelaki itu seraya mengangkat-ngangkat alisnya, membuat Era naik pitam.
“Sarap kau” sungut gadis itu tajam kemudian berlalu meninggalkan Fahri yang masih berdiri dengan memasang tampang tak bersalah.
“Apa
kau! akh dasar gadis galak !” ucap Fahri yang lagi-lagi mengikuti Era
dari belakang. Era sendiri tak menggubrisnya sembil berjalan terus
dengan pandangan lurus kedepan.
# Hari pertama Era
disekolah barunya berkesan buruk dengan kehadiran Fahri, lelaki rese
yang sangat suka mengikutinya dan membuatnya kesal. Hingga
berminggu-minggu kemudian. Fahri masih sja membuat Era risih dia hanya
mau gadis blasteran itu dapat mengingatnya. Mereka berdua pernah sangat
akrab sewaktu kecil. Kebiasaan Era yang berpindah-pindah daerah
membuatnya kurang mengingat perihal teman-teman kecilnya dulu.
##
Era berjalan gontai disepanjang koridor, langkah kakinya terhenti tepat
didepan kelas XI ipa 1, pandangannya mengamati tiap-tiap siswa yang
berada dalam kelas itu. Raut wajahnya berubah menampakkan kekecewaan
ketika menyadari lelaki yang merupakan adik kelasnya itu ternyata tidak
ada didalm. Yah, ini adalah hari keempat Fahri tidak masuk sekolah,
entah apa yang terjadi pada anak itu ? ini terlalu anomali menurutnya,
ia benar-benar merasa kehilangan, hari-harinya terasa kelabu tanpa
Fahri, Era mendesah lalu berjalan menuju kelasnya.
#Bel
pertanda pulang akhirnya menggema di seluruh penjuru sekolah. Era
mengemas bukunya kemudian berjalan santai keluar kelas. Kakinya tanpa
sengaja membawanya menuju sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan
utama, itu adalah gudang sekolah yang terlihat sangat sepi. Logikanya
sama sekali tak berniat untuk langsung pulang ke rumah hari ini.
Samar-samar terdengar suara musik klasik dari belakang gudang tersebut.
Era mempercepat langkahnya merasa seperti de javu dengan suara itu.
Matanya terpana dengan apa yang ada dihadapannya kini. Lelaki itu, musik
klasik itu, harmonika yang dipakainya, ia mengenalnya. Serentak fikiran
Era membuka kembali arsip kenangan masa silam yang pernah terlupakan
olehnya.
Flashback
“Era apa kau akan pindah hari ini juga ?” Tanya bocah lelaki gendut yang masih berumur 8tahun itu. Era kecil pun mengangguk.
“Kalau
begitu aku akan memainkan harmonika sekali lagi untukmu” ucapnya. Ia
pun mengeluarkan sebuah harmonika dari saku dan kemudian mulai memainkan
musik klasik indah favorit Era, gadis itu berdecak kagum entah kenapa
dia tak pernah bosan dengan hal ini, walaupun dia sudah mendengarnya
berulang kali. Selesai bergelayut dengan harmonikanya, anak lelaki
gendut itu tiba-tiba melepas sebelah sepatunya.
“ambillah
sebelah sepatu ini. Aku tidak mempunyai apa-apa yang bisa diberikan
sebagai kenangan, Tenanglah sepatu itu masih baru” ucapnya polos seraya
menyunggingkan senyum di pipinya yang chubby. Era mengambilnya dengan
ragu.
“Kau kampungan sekali. Kenapa harus sepatu ini ? kenapa tidak harmonika itu saja ?”protes Era manyun.
“Tidak bisa. Harmonika ini satu-satunya peninggalan ayahku. Sudahlah sepatu itu saja”sahut Fahri kecil
“Baiklah
kalau begitu aku pergi sekarang. Sampai jumpa Ari (nama kecil Fahri)”
jawab Era sambil melambaikan tangannya beranjak menaiki mobil yang sudah
siap untuk berangkat.
“Sampai jumpa. Percayalah kita pasti akan bertemu lagi Era” kata Fahri setengah berteriak
Flashback End
Era tersenyum getir mengingat kejadian itu.Tidak salah lagi, Fahri yang
ini pasti orangnya. Fahri yang dulunya adalah bocah gendut lucu teman
kecilnya. Lelaki dihadapannya menghentikan permainannya, dia keget
melihat Era yang kini berdiri didepannya. Era memandangharmonika
digenggaman Fahri yang kini terlihat sudah lusuh termakan usia.
“Era !”ujar lelaki itu
“Kau kemana saja belakangan ini ?” Tanya Era to the point
“ohh,,itu hehe ibuku sakit jadi aku harus menjaganya” jawab Fahri cengengesan
“Lalu kenapa kau tidak menghampiriku seharian ini ?” Era mulai meninggikan nada bicaranya. Fahri tercenggang.
“Hey,
hahaha apa kau begitu mengharapkan kehadiranku ? jadi kau merindukanku
HH ?”celoteh Fahri kembali ke sifat aslinya yang menyebalkan. Era
berdecik
“enak saja”
“hahaha, oke baiklah. O
ya apa kau sudah mengingatnya ?” Fahri bertanya dengan semangat yang
membara sembari menunjukan harmonika tuanya tepat di depan mata Era
“Jadi,kau anak laki-laki itu ?” ucap Era hati-hati
“Apa maksudmu ? aku memang anak laki-laki” Era mendesah segitu begonya anak ini. Fahri tersenyum tipis.
“Aku bercanda. Huh kenapa tidak dari dulu saja kau mengingatku ?” Fahri mengangkat sebelah alisnya. Era diam tak menjawab.
“oh,
aku tau mungkin karena aku yang sekarang lebih tampan. Hahaha ia kan ?
aku tau dulu aku gendut. Tapi sekarang tidak kan ! makanya kau tak
mengingatku” Fahri mengoceh dengan mendeskripsikan sendiri jawaban yang
akan Era berikan.
“Cerewet sekali kau ! coba sekarang tunjukkan mana sebelah sepatu kecilmu yang dulu itu?” sahut Era
“Sepatu itu ya !” Fahri berfikir sejenak
“Baiklah akan ku tunjukan dengan satu syarat !” pintanya. Era memalingkan wajahnya dingin tanpa menjawab
“Kau
harus menjadi kekasihku. Bagaimana ?” ujar Fahri lengkap dengan senyum
manisnya. Lagi-lagi gadis dihadapannya bungkam tak berbicara.
“Diammu
akan ku artikan sebagai tanda persetujuan” Lelaki itu berdecak lalu
menarik lengan Era. Gadis yang masih menggenakan seragam putih abu-abu
itu kaget, tapi dia diam saja tanpa membantah. Fahri mengajak Era
menaiki motor ninjanya kemudian berlalu menuju rumah Fahri.
#
“Aku pindah kesini sejak 2 tahun yang lalu” jelas lelaki itu tanpa ada
yang bertanya sembari turun dari motornya. Era melangkah cuek lalu duduk
di kursi pada teras rumah Fahri tanpa permisi.
“Tunggulah. Aku akan mencari sepatu itu!” celutuk Fahri kemudian beranjak memasuki rumah.
5 menit
10 menit
15
20
25 menit kemudian Fahri belum juga keluar. Era mulai kehilangan kesabarannya. Gadis itupun bangkit dari duduknya.
“Era
!”seseorang memanggil namanya. Dia menoleh terlihat Fahri yang baru
saja muncul, dengan setetes keringat yang mengalir di dahinya.
“Aku
menemukannya” ucap Fahri seraya menunjukkan sebelah sepatu kumal yang
pasangannya kini berada di tangan Era. Gadis berparas cukup cantik itu
melipatkan kedua tangannya di depan dada seolah tak peduli dengan itu.
Fahri berjalan mendekati Era.
“Sesuai perjanjian. Kau harus menjadi kekasihku” lelaki itu tersenyum jail.
“Apa kau sudah gila ? aku ini lebih tua darimu. Lagi pula kenapa kau tadi lama sekali hah ?” sahut Era.
“Kau
kenapa sih ! kita hanya berbeda satu tahun bukan ?” bantah Fahri. Era
tertegun saat dirinya tiba-tiba dipeluk oleh lelaki berdada bidang
didepannya.
“Maaf Ra, sebenarnya aku mencintaimu. Kau tau !
aku selalu menantimu selama 8 tahun ini. Kau masih tetap seperti dulu.
Kau adalah gadisku, dan selamanya kan menjadi milikku” bisik Fahri
ditelinga Era. Gadis bermata hijau keabu-abuan itu mendorong tubuh Fahri
dan menatapnya penuh amarah.
“Kau marah ! aku minta maaf”
raut wajah lelaki berhidung lancip itu terlihat lebih serius dari
biasanya. Era mempertajam tatapannya kemudian melingkarkan kedua
lengannya di leher Fahri. Lelaki itu tersentak melihat tingkah aneh
gadis dihadapannya. Era lalu tersenyum manis memperlihatkan lesung pipit
yang sama seperti kepunyaan Fahri. Ini adalah pertama kalinya dia
tersenyum pada lelaki dihadapannya, sejak pertemuan mereka.
“Apa kau tau ! aku sangat membencimu” tegas Era. Lekuk wajah Fahri terlihat kecewa saat ini.
“dan juga mencintaimu” lanjutnya tersenyum meledek.. Fahri mencubit kedua pipi Era kesal.
“Kau
fikir aku tidak membencimu hah ? aku juga sangat membencimu gadis
judes” balas Fahri. Era manyun, kemudian mereka pun tertawa bersama.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar